Kamis, 26 Maret 2009

Sajak-sajak Nirwan Dewanto

Sajak-sajak Nirwan Dewanto

Kompas, Minggu, 22 Februari 2009 | 01:24 WIB

Roti

—untuk Gregorius Sidharta Soegijo

Kami duduk bertiga belas: meja ini sangat panjang, panggung ini terlalu lapang. Aku dan ia ibarat dua bintang jauh-berjauhan, dua kerdip yang berupaya bertukar getar. Ia berada di ujung sana, seakan di puncak semenanjung: wajahnya tertutup gelap, gelap yang hampir sempurna. Tapi ia seperti tumbuh mendekat ke setiap kami. Sungguh, kami takut jika wajah kami menulari wajahnya, tapi kami bahagia mencium bau tubuhnya di antara rasa lapar kami. Aku tahu ia mengenali kami satu demi satu; sedangkan kami serupa murid yang, setengah-dungu setengah-angkuh, hanya bisa menebak nama satu sama lain, dan saling mencurigai siapa di antara kami akan berkhianat lebih dulu.

Ia memandang ke segala penjuru, ke wajah kami, juga ke balik tengkuk kami, ke arah kapal-kapal yang datang dan pergi nun di bawah sana. Sedangkan kami gementar diam-diam, takut melepaskan diri dari wujudnya. Jadilah aku suka membayangkan satu atau beberapa di antara kami akan melenyapkan ia sebelum tengah malam, sebelum kami benar-benar mabuk dan saling menggandrungi. Semoga di parak pagi kami tak lagi bertempur atau sekadar melihat pasukan kami saling membasmi: dan kami akan beroleh kembali negeri kami, kampung halaman kami, masing-masing, dengan damai.

Kudengar ia berkata di puncak lapar kami, (semoga aku tak keliru menirukannya), ”Seseorang di antara engkau akan menyerahkan aku.” Mungkin tak seorang pun menyimaknya selain aku, sebab kami mulai menyentuh tergesa-gesa piring dan cawan dengan tangan yang tetap saja mengandung tilas darah dan nanah dan getah, noda yang telah mengerak hingga ke kulit jangat. Baru saja kami mengucapkan selamat tinggal kepada segenap senjata dan kereta kami, agar kami lebih mahir berunding dan bersantap. Sungguh kami telah mencuci muka kami hingga berkilau-kilau, agar kami bukan lagi penyaru yang membekuk dari belakang. Lihat, kami telah bergerak begitu cepat ke gelanggang jamuan ini, menembus berlapis-lapis dinding, menyangkal bertangkup-tangkup labirin.

Tapi ia bergerak lebih lekas ketimbang kami, sebab ia tahu kami akan tiba kemari dengan wajah orang suci, sedangkan ia menggambarkan dirinya sebagai pendosa belaka. Ia mengizinkan wujudnya tersaput kabut, bahkan larut dalam kabut; ia membiarkan luka-lukanya tak terlihat (tapi sebentar lagi, sabarlah, ia akan memamerkannya sebagian—lelubang tusukan di kedua telapak tangan dan lambung kanannya). Ketika kami tiba, ia sudah menunggu di ujung paling ungu itu, sedangkan kami hanya bisa bersemayam di titik-titik merah padam ini, di mana lingkaran cahaya akan menghiasi kepala kami. Dalam lindap pohonan di taman ia berkata kepada kami, (semoga aku tak berlebihan mengulangnya untukmu), ”Malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau akan menyangkal aku tiga kali.”

Bukankah kami gagal membatasi ruang di mana kami harus saling bertatapan? Lihat, ternyata kami hanya dikitari dinding angin, dan kuping kami masih juga mengembara ke dunia sana, mencari bebisik dari segenap musuh dan sekutu kami, meski kami ingin saksama mengindahkan pepatah-petitihnya yang terakhir. Kami mendengar jerit beburung dan debur ombak ketika ia mulai menyentuh rotinya, dan gema panjang itu berkelindan dengan suaranya. Dan kami bayangkan jemarinya berkilat seperti ujung pedang namun lembut seperti tampuk daun pandan, dan roti itu seperti sebungkah daging, percayalah, seperti daging kami yang menakutkan. Tidak, kami tak akan menghadiahkan daging kami untuk siapa pun, sehingga kami yakini ia memecah-mecah roti itu dan membagikannya untuk kami semua seraya berkata, (semoga aku tak mengutipnya demi diriku sendiri), ”Ambillah, makanlah, sebab inilah tubuhku.”

Barangkali kami telah keliru: kami mengira gelanggang ini dikitari pepohon zaitun dan kurma. Kenapa pula kini kami melihat rerimbun kana, kesumba, dan kembang sepatu mengepung kami? Kenapa kami lupa apakah khazanah kami bermusim dua atau empat, ketika kami merasa telah mengikuti ia membaca kitab-kitab paling rahasia, memuliakan kaum perempuan, memakzulkan para raja dunia, atau berkhotbah di atas bukit? Sesekali bau amis dari laut naik ke meja mahabesar ini, menyadarkan kami bahwa kapal- kapal kami masih memuat senjata dan para serdadu kami di kemah-kemah sana terus menunggu isyarat kami kapan mereka harus mulai menyerang. Dengan sabar kami mengimpikan cahaya jingga-kencana fajar tumpah ke wajahnya, dan cerlang wajah itu pastilah akan memojokkan kami berdua belas ini sebagai semacam rasul yang tak mampu menyainginya sampai kapan juga.

Tiba-tiba sosok yang lama terpaku di sebelah kiriku—betapa wajah kami serupa, dan kami mengenakan jubah hijau lumut yang sama, dan kurasa kami pernah bertarung di tepi selengkung sungai atau di bawah sepucuk tiang kayu palang—berseru, ”Kitalah yang membuat ia berada di sini. Mari kita adili ia sebab ia memang bakal martir sejati. Terlalu lama kita memperebutkan ia sebagai panglima kita. Bukankah ia terlalu berani untuk dunia ini?”

(2008)

Penunggang Kuda Hitam

—untuk Ugo Untoro

Ia belum lulus dari sekolah fantasi ketika ia tiba-tiba sampai di depan rumah jagal di mana kuda-kuda bertaji mengantri untuk melihat genangan darah mereka sendiri. Setelah mencoba mengingat-ingat wajah mereka satu demi satu, ia segera lupa bahwa hari itu ia harus menempuh ujian menggambar.

Gurunya, yang biasa mengajari ia menggubah sosok lelaki penunggang kuda atau penjaga pintu kaum bendahara, entah kenapa sudah berada di sampingnya dan berkata, ”Para pengantri itu sedang berbahagia. Dan hari ini engkau sudah dewasa. Marilah,” dan segera menarik ia ke sebuah klinik, yang mirip ruang kelasnya sendiri,

di mana ia disudutkan oleh—entahlah, ia sungguh ragu siapa— bapanya sendiri, dokter jaga, komandan kompi, atau si guru, ”Berapa banyak yang engkau bunuh hari ini, anakku? Lekaslah gambarkan rupa para kekasih yang telanjur punah itu. Agar kami mampu memercayaimu.”

Maka di layar raksasa yang dibentangkan untuknya di ruang terang-benderang itu ia melukis karung tinju, sedan Impala, boneka kain bekas, satria wayang kulit, daun anturium, sepatu hak tinggi, ular Warhol, benteng batako, sepeda Raleigh, sangkar burung balam, kolam renang, penyair mata pisau, penggemar ikan asin, sepur Mutiara, sapu ijuk Yu Sri—

sampai ia terjaga oleh pukulan di perutnya, yang tersusul teriakan sekerumun umat, ”Wahai lelaki penunggang kuda, kenapa engkau hanya membawa kami berpacu dengan lautan benda belaka? Di mana kudamu, jantung hatimu, yang akan menghela kami menuju khazanah penuh hikmat kebijaksanaan dari kumpulan orang mati?”

Ia pun sadar bahwa ternyata tangannya sudah berlumur darah sejak pagi tadi, ketika ia mampu menyelamatkan hanya seekor kuda hitam, yang terpaksa disembunyikannya ke balik baju saat ia harus bergegas mengejar langkah gurunya ke arah matahari terbenam. Segera ia mendengar reringkik teramat akrab mendekat ke arahnya.

Maka dengan jemarinya belaka, hanya dengan warna darah yang mulai kusam-garing itu, ia menggoreskan seekor kuda terpantas, terpanas, terganas, kuda hitam, kuda andan, kuda Troya, kuda Kroya, kuda kepang, kuda dremolen, kuda bendi, kuda sembrani, kuda bertaji, kuda Larasati, kuda Kandinsky, atau kuda Umbu, dan ia berkata kepada kaum pemirsa yang kian dahaga itu, ”Naikilah ia, wahai pemuja keindahan. Pergilah dalam damai, sebab kau sekalian sudah terlalu lama memeramku di tangsi serdadu atau klinik psikiatri ini.”

Di lebuh menuju sekolah fantasi, di mana mereka yang merampas kudanya menghilang ke balik seribu raut rekaannya, ia mulai belajar menyimak suaranya sendiri, yang sepintas terdengar hanya seperti jerit lemah si guru ketika tenggelam di rumah jagal itu.

(2008)

Nirwan Dewanto adalah penyair dan pengesai. Buku puisinya adalah Jantung Lebah Ratu (2008). Ia kini membagi waktunya antara Jakarta dan Wisconsin, Amerika Serikat.

Sajak-sajak Soni Farid Maulana

Sajak-sajak Soni Farid Maulana

Kompas, Minggu, 15 Februari 2009 | 01:24 WIB


Sonet Si Mati

tujuh mata peri bunga ceri mengutukku

jadi ribuan serangga biru, dan kau menghilang

dalam bayangan tembang mupukembang

saat rembulan gelap di ujung kembang tanjung

sebab kau impianku yang mengguratkan pisau sepi

ke ulu jantungku. Sebab kau yang membuat langkahku

tersesat dan tersaruk di hutan lambang, arah mana

yang harus aku jelang? Langit hanya sunyi, juga segugus

bintang jatuh. Begitulah aku selalu memimpikanmu

walau kobaran api menyeruak dari bawah akar rumputan,

dari bawah lapisan tanah merah sebelum subuh tiba

dan kau bilang “ada batas, ada tepi!” Di batas

dan tepi yang itukah kau biarkan aku melata, merayap

dalam gelap, dalam kelam kabut hutan lambang?

2008

Soni Farid Maulana

Sunyi

bayang-bayang wajahmu

di alir air, mengalir ke hilir

yang tinggal cuma bulan

dalam kabut, dalam kelam

2009

Soni Farid Maulana

Kelopak Waktu

pucuk jam sedingin mentega dalam kulkas

bayang-bayang pohonan di bawah bulan sabit

mengusik kukuk burung hantu di tangkai jambu

merontokkan kelopak waktu di kalbuku

2008

Soni Farid Maulana

Hurung Layung

burung-burung menikung

di hurung layung

angin dingin

di tepi daun-daun

2007


Soni Farid Maulana lahir pada 19 Februari 1962 di Tasikmalaya, Jawa Barat. Kumpulan puisinya yang terbaru, Pemetik Bintang dan Narah, sedang dalam proses penerbitan. Ia tinggal di Bandung.

Sajak Sajak Frans Nadjira

Sajak Sajak Frans Nadjira

Kompas Minggu, 15 Februari 2009 | 01:24 WIB


Membaca Nama-nama

Berlatar marmer hitam

nama-nama dicat warna emas

Seperti topeng cahaya

bergerak dalam kegelapan.

Tanpa suara

melangkah ringan di tanah perbatasan

Menatap hampa

Debu bergayut berat di matanya.

Nama-nama membagi

kartu duka tak terbaca

Luka-luka pucat

meraba dalam gelap. Usia muda

Pohon-pohon hening

menyanyikan lagu sendu.

Semua sudah berakhir.

Rasa haus dan tetes embun

Jalan-jalan berumput

Berbercak darah dan serpihan

daging hangus

berpencaran dalam kelam malam.

Aku mencari namaku

di antara tiga ratus nama-nama bisu

Di antara topeng-topeng pelangi

di langit yang melepuh.

Pelangi di langit malam

Pelangi di ujung kelam

Menarikan tarian lebah

dan kucing jantan yang berahi.

Di sekeliling jembatan rapuh

kunang-kunang membawa

aroma hutan sehabis hujan

Terbang bergetar

menyebut nama-nama berwarna emas.

Dan mawar melangkah diam

Di deretan nama-nama itu.


Sepotong Roti

Tak ada yang bermimpi

Tak ada yang menggeser pintu

Sepotong roti tanpa bayang-bayang

Seperti air membeku

batu mengeras

Termenung di atas meja

Detak jam di kamar sunyi.

Senja kembali dari perjalanan

yang melelahkan

Daun-daun gugur di halaman

Senyap dengan sayap peraknya

Mengambang bergerak lamban

Tak ada yang melangkah dalam mimpi

Hanya sepotong roti di atas meja.

Dan diriku serta malam dingin yang lain

Datang dengan langkah berat yang diseret

“Besok anak-anak akan lahir

pejamkan matamu

Bunga-bunga embun dan kupu-kupu kabut

Menari menyanyi kemudian berlari takut

Sebuah api kecil di taman, pejamkan matamu”

Kupejamkan mataku, tampak sepotong roti

Mendaki bukit suara... Suara riuh anak-anak

Kepak sayap di langit yang merintih kesepian

Kepak sayap bintang-bintang

Kepak sayap anak-anak bermain

Ringan seperti langkah awan musim kering.

Tak ada yang bermimpi

Tak ada aku tak ada kalian

Tak ada yang menemukan atau kehilangan

Matamu melekat pada pejam

Laparmu melekat pada nyeri

Pada sepotong roti yang mengeras di meja.


Sepasang Mata di Jendela

Di kaca jendela basah

Sepasang mata dingin

Menatap ke dalam kamar

Melihatku terbaring di lantai.

Jika aku tak bangun karena tidur kekal

Basuh tubuhku dengan wangi lelap

Dan bunga-bunga yang melayang ringan

Dalam suram kamarku yang senyap.

Sepasang mata tanpa kedip

Menjadi embun kelabu musim hujan

Jemari bulan Desember yang basah

Derit jendela yang catnya terkelupas.

Ternyata dalam maut

Kita tidak menemukan siapapun.

Tak ada malaikat atau bulan

Hanya hening ngarai yang dalam

Tanpa rasa ... Tanpa sapa

Hanya nyenyak yang tak kuinginkan berakhir.

Datanglah ke pestaku, pisau-pisau

Datanglah dengan pakaian berkilatmu

Kedua tanganku akan merangkulmu

Di bawah tatapan sepasang mata di jendela.

Ayo, menari ...Ayo, menyanyi

Masuk kalian ke senyap gairahku

Ke rongga tanpa dengungku...Ayo ...Ayo

Tatap maut itu, tak hirau janji-janji manis

Atau ancaman mengerikan.

Kantong empedu yang pahit dan bernanah

Bikin aku senang ...Bikin aku bergairah

Menggoyangkan seluruh tubuhku

Dalam irama liang kuburku.


Frans Nadjira lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 3 September 1942. Bukunya yang telah terbit antara lain Jendela (1980) dan Bercakap-cakap di Bawah Guguran Daun-daun (2004).


Sajak-sajak A Muttaqin

Sajak-sajak A Muttaqin

Kompas Minggu, 8 Februari 2009 | 00:50 WIB

Mengayak Dedak

Telah kujaga rindumu, supaya kau tetap tampak baka, tampak bahagia. Musim telah berubah. Bunga berganti buah, dan aku tak ingin kau jadi sampah, seperti daun yang terayun untuk kemudian terjun, melambai lembut ke ubun.

Mari sebentar tertegun. Biarlah pohon sukun ini menjadi saksi, bahwa matahari tak akan mengembalikan tai jadi nasi.

Maka, tak guna lagi kau bersembunyi. Keluarlah dari gerumbul mahoni, dan lihatlah

betapa sayap ini telah jadi rerumbai.

Kita sama tahu,

padi dan duli telah pergi. Juga sang Sri yang suka mengirim benih mimpi setengah tahun sekali.

Semalam aku terbangun. Seperti ada yang mengucap salam dalam tidurku. Suaranya mirip suaramu: sang geluduk yang sering menyeruduk tidurku. Tapi bukan. Ternyata, sepi telah pandai menirukanmu.

Atau, kau memang telah bersekutu dengan sepi, sebagaimana kata-kata ini, yang tak juga menemu beras putihmu walau separuh lidah-lalangku telah jadi debu. Sebagaimana pasangan kekunang itu, yang tak mungkin kembali bersarang di kedua kubu mataku.

(2008)

Timbangan Tumbang

Aku mengenalmu sebagai hujan. Di kedalaman tidurku, lentik jemarimu menjelma pelangi,

melambai, rinai, seperti kerlip mata kekasih. Menjelma telaga, ketika

dahagaku tak terkira.

Menjelma serumpun embun, jika sang surya merucut dari ubun. Menjelma daun?

Tidak.

Kurasa, akan enggan hujan menjelma daun, walau butiran hujan menyimpan bibit lumut nan tambun.

Daun sering iri pada sungai, pada pelangi, pun pada bayangannya sendiri.

Sedang hujan adalah rindu murni: oh, lebih murni dari kuncup mimpi, lebih damai

timbang jamur pagi, tempat duli-duli terbagi. Juga lebih lerai daripada airmataku ini,

sebab ia penawar gemuruh seluas laut, menghitam, membubung,

dalam selubung yang lalu kausebut mendung, di mana tenung-tenung terpalung.

(2008)

Kilas Keladi

Bisa jadi

cintakulah yang tak kau mengerti

keningmu bening

terlalu bening

hingga tak kuasa aku melihatmu

kemuning oleh seranai serbuk matahari:

serbuk yang mengaduk umbiku

dari dasar mimpi

sampai

di suatu pagi tinggi

kugelindingkan kau

dari pipiku hening

seperti airmata sang dewa

atau

malah mungkin airmataku sendiri

yang menitis dari sumsum Sepi.

(2008)

Rima Rumi

Sehelai mukena terkulai di lembar sepi, seperti hati yang sedih dan memutih.

Hanya senoktah darah nan mawar dan segar tergelar

Hanya seekor kelelawar yang hinggap dengan sayup sayap terbakar, seperti terbakarnya tangan dan kaki penari perawan, yang membuncah

di subuh buta,

di sekuntum purnama yang mulai ditinggal bubar kunang-kunang sorga.

(2008)

Siput Terlembut

Berjalan dengan pelan dan basah, aku mengerti indungnya cinta. Biarkan aku merambat, menghapus sisa jejak sang pongah dengan getah purba atau mengalun ringan bersama irama bunga-bunga. Aku tak mau seperti kuda,

apalagi meniru burung onta

yang bermimpi tentang terbang, sambil menyembunyikan kepala. Aku hanya berusaha sesabar kura-kura. Menunggu basah turun ke tanah, sembari menemani biji-biji yang lelah, tak berdaya.

(2008)

Keroncong Polong

Alangkah indah menjadi buta. Di mata dalamku

hanya gemerisik bunga-bunga. Dan tak perlu

aku meniru lelaku kupu untuk sampai padamu.

Sejak dulu aku hanya ulat beku. Sejak dulu.

Semenjak langit belum biru dan tuhan memulai

segala dengan batu. Lalu, rumpun rumput batu

tumbuh di antara bunga batu. Dan kau mulai

memanggilku buah batu: buah yang tumbuh

searah mimpi dan kukumu. Begitu sederhana.

Juga tak menggugah. Hingga kau lupa, mungkin

tak sampai kira, bahwa setiap malam aku

tengadah, merapal doa. Lalu, lewat pohon yang

sederhana, aku merambat ke langit coklat tua,

mencuri satu biji yang berdegup hijau, seperti

kembaran yang selalu dipanggili jantungmu.

Namun, pas selepas itu, bunga-bunga di langit

menangis. Hingga langit yang semula coklat tua

pelan-perlahan jadi bening. Ranting, cacing, dan

segala kesuburan yang terbaring di atas sana

pun malap menatapku. Begitulah. Dan begitu

saja mereka lalu kontan menipahku. Konon,

bersamanya jatuh juga pasangan pengantin baru.

Dan aku pun terkutuk, membeku, bersama

tumbuh dan sepentil hijau yang telah kucuri itu.

(2008)

A Muttaqin lahir 11 Maret 1983. Lulusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya. Anggota Komunitas Rabo Sore, Surabaya.

Sajak Sajak M Fadjroel Rachman

Sajak-sajak M Fadjroel Rachman

Kompas, Minggu, 15 Maret 2009 | 05:22 WIB

Palestina, Ketika Rintik Hujan

rintik hujan terseok-seok menyeret kaki yang luka parah dari kota tuhan yang ditinggalkan para pemuja untuk berperang, “terlalu dinginkah dunia untuk disapa?”

lokan dan kepiting merangkak ke tenggorokan jerusalem yang sepi. bila malam datang, siapa berjanji fajar akan datang membawa sepotong tuhan dari kematian.

musa tersesat diburu firaun, menyeret kafilah tuhan yang hilang, suaranya mengaum “kenapa lelaki tua itu hanya menunggu di kornea mata anak-anak membeku mati?”

debu hitam kota gaza dan kristal garam laut merah di kusut rambut ikalmu perlahan melayang ke ranting zaitun, menunggu tangan mungilmu melambai dari pintu surga.

ah, surga yang jauh, mengapa fajar tak membawanya ke rumahmu menemani secangkir susu dan sepotong roti terakhir sebelum maut menjemputmu tergesa-gesa.

Jakarta (2009)

M FADJROEL RACHMAN

Ragusa, Suatu Senja

azan magrib tertelungkup di pecahan batuan rel kereta gambir-kota, rambut ikalnya melambai-lambai kepada senja luka yang berlari tergesa-gesa meninggalkan jakarta.

“bukankah usia kita meleleh bagai likat coklat es krim ragusa, lalu mengendap hitam dibusuk ciliwung,” ujar coklat daun angsana merebahkan kepala di lumpur ciliwung.

di tepi jaman yang pedih, nafas kita terengah menghirup oksigen jatuh dari dedaunan letih, tanpa sempat bertanya mengapa duduk sendirian di kursi rotan tua ragusa.

tangan berkerut cemas memaksa kisah cinta abadi di pasar malam gambir 1913, sementara maut mengintip, tak menegur, bersiul riang diriuh kereta tua gambir-kota.

harum garam laut jawa mengkristal di wajahmu, sabar mencuci pori-pori mendingin pucat, mengabarkan hangat cinta berkobar-kobar yang setia menunggu di balik kabut.

Jakarta (2009)


M Fadjroel Rachman adalah penulis buku puisi Dongeng untuk Poppy (2006), Sejarah Lari Tergesa (2005), dan Catatan Bawah Tanah (1986). Saat ini ia tengah menyiapkan kumpulan puisinya yang terbaru, Airmata Matahari.

Sajak Sajak Halima Puti Djamhari

Sajak Sajak Halima Puti Djamhari

Kompas, Minggu, 15 Maret 2009 | 05:22 WIB


Potret Diri dengan Sebutir Apel

kau boleh menghabiskan biru untuk memanjangkan

rambutku hingga ke bahu (dan bahkan melebatkannya

seperti gelombang) agar tertutup luka yang sudah

mengendap di leher ini—

kau mesti membalurkan kuning di tengah bidang sampai

wajahku mampu bangkit sendiri membedakan diri dari

bukit-bukit yang terlalu lelah menahan hujan badai

sepanjang malam—

kau mesti mengelupas sisik-sisik putih yang tumbuh

menutup telingaku agar kau mendengar kelepak burung

undan yang dikirim ibu kita untuk meluaskan langitmu

di kamar ini—

kau ragu melingkupi hidungku dengan sebilah pisau tapi

teruskanlah belaka sebab niscaya aku segera menjangkau

lambungmu ke pusat warna merah dan mengasahmu

dengan sepasang alis khat hijau daun paku—

kau boleh mengabaikan mataku (yang teramat bosan

bertanya berapa banyak warna sudah kauhamburkan) tapi

segeralah tutupkan keduanya dengan sapuan kuasmu

yang tak kenal lagi mana atas atau bawah—

kau mesti menghanguskan mulutku sampai lidah kencana

yang tak terperi ini tertarik keluar tiba-tiba menjilati kabut

pada cermin yang tanpa kausadari selalu terbentang

angkuh di hadapanmu—

kau telah menutup jendela agar barisan cerobong dan

kilang nun di kota sana tak masuk ke mari menghalangi

sebatang sungai yang tumbuh perlahan di belakangmu

dan memurnikan suaraku—

kau hampir gugur ketika menjadi padananku—

kau hendak berdusta apakah sebutir apel bening di depan

cermin itu mesti kaumakan atau kaubiarkan saja kekal

bersama rupaku pagi ini—


Bakal Mempelai

barangkali lelaki itu bernama Ahmad

atau Yunus, sungguh aku tak peduli—

setiap kali ia bertandang ke rumahku

ibuku membersihkan senapannya, dan

ketika aku membuat teh untuknya

di dapur, sesungguhnya aku juga

mengasah terus si pisau, yang akan

kuselipkan di balik baju pengantinku—

wajahku bercadar, tapi betapa yakin ia

bahwa aku sungguh-sungguh betina—

dengarlah, aku nyaringkan bunyi air

mendidih, agar ia setia mengajari ibu

menembak potret ayah, seraya percaya

bahwa ia sendiri adalah bakal suamiku—

mungkin namaku Salma, yang esok pagi

akan menghimpun selongsong peluru

yang berserak di bawah koran terbaru

yang mengabarkan kelahiran ayahku


Sarapan Ketiga Ratus

hanya pisau yang bisa tumbuh di sela jari

hanya roti yang terasa seperti kabut pagi

hanya cincinmu yang berkilat ketika matamu

hampir buta oleh kopi Mandailing racikanku

hanya susuku malam tadi yang akan kaubawa

hanya rambutku yang bisa mengikat lehermu

hanya aku yang setelah merapikan seragammu

niscaya memandikan anjing kesayanganmu


Tulisan di Batu Nisan

datanglah, kekasihku, lekaslah

aku sudah selesai menggali

para pelayat itu tak sabar lagi

menanti mayatmu, dan hanya

mampu memandangi lubang

yang kini dipenuhi cahaya

tapi di luar pintu gerbang

kau masih juga berperang

kau menghambur ke arah Maut

dan berlaksa-laksa pasukan-Nya

yang tak mampu mengalahkanmu

dan hanya iri pada rupamu

di jantung mereka penamu terasah

membuat kami kian dekat padamu

sudah pula kutulis namamu

di batu malihan ini

nama yang tak pernah tertera

di lidah para penantangmu

terlalu cepat Maut datang padaku

tak kuasa membawamu hari ini

kususui para pelayat gandrung itu

agar mereka tak menghalangi Dia

untuk melukis wajah-Nya sendiri

pada batu nisan malihan di tanganku

penggali kubur aku

agar mampu mencintaimu

lekas kuhapus namamu

agar Dia bukan pecundang di sini

tapi pada tanah air yang kugali ini

mayat penyair tak pernah kembali


Terbang Malam

aku alpa apa

beda antara

langit dan laut

sampai ia, ia

melukis lekas

pohon cerlang

sempurna

yang daunnya

ternyata hanya

sepasang

sayapku

inilah halilintar

ia berkata

pohon seluas

alam raya

yang sirna

begitu saja

ketika aku

menghunjam

ke pelukan

gelombang

jangan cari

di mana

akarnya

sebab kau masih

terlalu muda

ia bernama hujan

dan mungkin aku

burung

buluku masih

juga seputih

awan pagi

yang betapa

ia musuhi

M FADJROEL RACHMAN

Palestina, Ketika Rintik Hujan

rintik hujan terseok-seok menyeret kaki yang luka parah dari kota tuhan yang ditinggalkan para pemuja untuk berperang, “terlalu dinginkah dunia untuk disapa?”

lokan dan kepiting merangkak ke tenggorokan jerusalem yang sepi. bila malam datang, siapa berjanji fajar akan datang membawa sepotong tuhan dari kematian.

musa tersesat diburu firaun, menyeret kafilah tuhan yang hilang, suaranya mengaum “kenapa lelaki tua itu hanya menunggu di kornea mata anak-anak membeku mati?”

debu hitam kota gaza dan kristal garam laut merah di kusut rambut ikalmu perlahan melayang ke ranting zaitun, menunggu tangan mungilmu melambai dari pintu surga.

ah, surga yang jauh, mengapa fajar tak membawanya ke rumahmu menemani secangkir susu dan sepotong roti terakhir sebelum maut menjemputmu tergesa-gesa.

Jakarta (2009)

Halima Puti Djamhari lahir pada 22 April 1980 di Bukittinggi, Sumatera Barat. Ia kini bekerja di Santa Monica, California, AS.


Sajak-sajak Sapardi Djoko Damono

Sajak-sajak Sapardi Djoko Damono

Kompas, Minggu, 22 Maret 2009 | 02:40 WIB

Sebilah Pisau Dapur yang Kaubeli dari Penjaja


yang Setidaknya Seminggu Sekali Muncul

Berkeliling di Kompleks, yang Selalu Berjalan

Menunduk dan Hanya Sesekali Menawarkan

Dagangannya dengan Suara yang Kadang

Terdengar Kadang Tidak, yang Kalau Ditanya

Berapa Harganya Pasti Dikatakannya,

“Terserah Situ Saja…”

/1/

takdir pun dimulai

di pintu pagar

sehabis kaubayar

kita perlu sebilah

pengganti si patah

kau telah memilih pisau

berasal dari rantau

matanya yang redup

tiba-tiba hidup

/2/

bahasanya tak kaukenal

tentu saja

tapi dengan cermat

dipelajarinya bahasamu

yang berurusan

dengan mengiris

dan menyayat

yang tak lepas dari tata cara

meletakkan sayur berjajar

di talenan untuk dirajang

sebelum dimasukkan

ke panci yang mendidih airnya

dan dengan cepat

dikuasainya bahasamu

yang memiliki kosa kata lengkap

untuk mengurus bangkai ayam

membersihkan usus

memotong-motongnya

dan merajang hatinya

/3/

ia tulus dan ikhlas belajar

menerima kehadirannya

di antara barang-barang

yang telungkup

yang telentang

yang bergelantungan

yang kotor

yang retak

yang bau sabun

yang berminyak

di seantero dapur

/4/

segumpal daging merah

sedikit darah

di meja dapur

di sebelah cabe

berhimpit dengan bawang

yang menyebabkan

matanya berlinang

teringat akan mangga

yang tempo hari dikupasnya

teringat akan apel

yang kemarin dibelahnya

di meja makan

/5/

kau sangat hati-hati

memperlakukannya

waswas akan tatapannya

sangat sopan menghadapinya

meski kau yakin

seyakin-yakinnya

ia bukan keris pusaka

kau sangat hati-hati

setiap kali menaruhnya

di pinggir tempat cuci piring

takut melukai matanya

/6/

kau merasa punya tugas

untuk teratur mengasahnya

dinantinya saat-saat

yang selalu menimbulkan

rasa bahagia itu

inderanya jadi lebih jernih

jadi lebih awas

jadi lebih tegas

memilah yang manis

dari yang pedas

meraba yang lunak

di antara yang keras

/7/

apa gerangan yang dibisikkannya

kepada batu pengasah itu

/8/

ia suka berkejap-kejap

padaku, kata cucumu

kau buru-buru menyeretnya

menjauh dari dapur

yang tiba-tiba terasa gerah

/9/

ia kenal hanya selarik doa

yang selalu kauucapkan

sebelum memotong ikan

yang masih berkelejotan

kalau tanganmu gemetar

memegang tangkainya

ia pejamkan mata

mengucapkan doa

/10/

kenangannya pada api

yang dulu melahirkannya

menyusut ketika tatapannya

semakin tajam

oleh batu asah

kenangannya pada landasan

dan palu yang dulu menempanya

kenangannya pada jari-jari kasar

yang pertama kali mengelusnya

kenangannya

pada kata pertama

si pandai besi

ketika lelaki itu

melemparkannya ke air

yang mengeluarkan suara aneh

begitu tubuhnya

yang masih membara

tenggelam dan mendingin

kenangannya pada benda-benda

yang telah melahirkannya

semakin redup

ketika saat ini ia merasa

sepenuhnya tajam

seutuhnya hidup

/11/

dua sisi matanya

tak pernah terpejam

sebelah menatapmu

sebelah berkedip padaku

jangan pernah tanyakan

makna tatapan

yang melepaskan isyarat

seperti bintik-bintik cahaya

yang timbul-tenggelam

di sela-sela gema

di sela-sela larik-larik

Kitab yang menjanjikan

sorga bagi kita

/12/

ujungnya menunjuk ke Sana?

diam-diam terucap

pertanyaanmu itu

menjelang subuh

:

matanya tampak berlinang

dari sudut-sudutnya muncul

gelembung-gelembung darah

satu demi satu pecah

:

satu demi satu pecah

:

satu demi satu pecah

:

lantunan azan

Bayangkan Seandainya

Bayangkan seandainya yang kaulihat di cermin pagi ini bukan wajahmu tetapi burung yang terbang di langit yang sedikit berawan, yang menabur-naburkan angin di sela bulu- bulunya;

bayangkan seandainya yang kaulihat di cermin pagi ini bukan wajahmu tetapi awan yang menyaksikan burung itu menukik ke atas kota kita dan mengibas-ibaskan asap pabrik dari bulu-bulunya;

bayangkan seandainya yang kaulihat di cermin pagi ini bukan wajahmu tetapi pohon rambutan di halaman rumahmu yang menggoda burung itu untuk hinggap di lengannya;

bayangkan seandainya yang kaulihat di cermin pagi ini wajahmu sendiri yang itu juga, yang tak kunjung habis meski telah kaukupas dengan ganas selembar demi selembar setiap hari.

Laki-laki yang Pekerjaannya Mengorek Tempat Sampah

/1/

Ibuku masih perawan, begitu katanya selalu setiap kali kau menanyakan asal-usulnya. Lelaki itu tidak pernah menatap langit, tentu bukan karena ia tak tahu bahwa langit benar- benar ada di atas sana. Pemulung memang menelusuri tempat sampah demi tempat sampah dengan sebatang tongkat berkait yang membantunya memilah-milah jenis barang buangan, membantunya mengait kaleng kosong, plastik bekas, dan kadang-kadang bungkus makanan yang sudah kadaluwarsa tetapi yang mungkin isinya masih bisa dimakannya, atau diberikan kepada kucing-kucingnya yang di rumah menunggu setia. Suaminya konon ada lima, tanpa sanggama. Beberapa orang ibu di kompleks kita suka curiga padanya, beberapa yang lain suka memberikan barang bekas atau sisa makanan. Kau pernah bilang bahwa apa yang dikatakannya pertanda ada masalah dengan dirinya.

/2/

Tapi ibuku masih perawan, tanpa sanggama. Setiap kali kautanya kenapa selalu menunduk, ia hanya diam. Mungkin ingin dikatakannya bahwa di langit sana tidak ada tempat sampah yang sudah dianggapnya sebagai hakikat hidupnya, tidak ada yang bisa dikais-kais dan dikait dengan tongkat kesayangannya. Ia tak begitu suka bicara. Wajahnya yang tampan seperti wayang membuat ibu-ibu dan pembantu rumah tangga suka menggodanya dan ia merasa cukup menjawab dengan selamat pagi atau selamat sore atau hanya dengan senyum yang masih juga menyembunyikan jajaran gigi yang rapi di balik bibirnya. Kau pernah mencurigainya sebagai ksatria yang sedang menyamar untuk mencari kekasihnya. Aku tertawa – tapi mungkin benar juga. Please, jangan sekali-kali membayangkan dirimu sebagai putri yang mungkin sedang dicarinya itu, aku membayangkan suatu bencana seperti yang pernah kita baca dalam sebuah buku tua. Ksatria yang menyandang kantong besar di punggungnya itu selalu cepat-cepat lenyap di kelokan ketika sorot mata perempuan-perempuan itu dengan gemas mengikuti gerak- geriknya. Kenapa ia tak pernah mau tengadah ke Langit, rumah para Batara?

/3/

Kau ini bicara apa?

Sapardi Djoko Damono adalah penyair dan pensiunan guru besar sastra. Ia akan meluncurkan buku puisinya yang terbaru, Kolam, dalam waktu dekat.