Kamis, 26 Maret 2009

Sajak Sajak Matroni el-Moezany

SUARA PEMBARUAN DAILY Last modified: 13/3/09

Sajak Matroni el-Moezany



Menangislah Sempuasmu

menangislah sesukamu

biar pagi berawan ini tak menjadi hujan

karena air matamu

banjir-banjir di mana

adalah hasil karya matamu yang seringkali

mengaduh dan menangis karena tak dihiraukan

hingga luka bukanlah luka, tapi

kelembutan yang tertuang dalam jiwa penyair

bukan, itu adalah kata-kata

yang mungkin belum sempat kau lahirkan

sebagai anak kedua dari kelukaanmu

Yogya, 2009

Akankah

akankah malam nanti

kata-kata itu akan lahir kembali

mengisi ruang-ruang kosong dalam benak semesta

di waktu lapar menyakitkan

kekosongan lahir kembali

mengusik malam-malam

entah karena engkau kuiyakan diam dalam diri

atau karena memang manja dan sensual hingga menyibukkan

mata enggan tertidur

mungkin malam itu

terlalu indah kulewatkan

maka, bicaralah padaku

agar senja yang datang nanti

tidak lagi susah melihat langkah di atas rel

dan mata yang tak mau lelap

perkembangan senja

sudah tak lagi cerah

jiwa kita lapar

tingkah kita lapar

rasa kita lapar

kata-kata pun lapar

semuanya lapar

akibat ketidaksejukan ruang-ruang

Yogya, 2009

Ketidakjelasan

engkau bilang siang ini adalah jelas, tapi

mengapa engkau masih ciptakan lubang-lubang pada daun

pergi tanpa ada rasa, tak peduli, padahal kau tahu aku

mengelu tak apa, selain adanya itu sendiri

dimana kau letakkan perasaanmu

hingga jiwamu mati, tanpa rasa

aku pun sadar bahwa

banyak kata kau berkurang dalam merasakan rasa

yang ada hanya ketawa pada luka

Yogya, 2009

Kemungkinan Lain

selalu ada aras hujan memeluk batu

merobek lurusnya daun

ini mungkin

selalu ada arus balik merasakan sedih

melukai malam

ini mungkin

selalu ada kata tumbang

merajai semesta

ini mungkin

selalu ada matahari terbit

memberi makan pada bunga

ini mungkin

selalu ada kita yang luka

tak ada yang memberi rasa

ini kemungkinan lain

selalu ada luka

yang tak sembuh

karena kita

ini kemungkinan lain

selalu ada kata-kata kosong

yang selalu ada di negeri ini

ini kemungkinan nyata

Yogya, 2009


Sajak Sajak Lalang Luntas

SUARA PEMBARUAN DAILY Last modified: 6/3/09

Sajak Lalang Luntas



Hujan di Sabtu Pagi

Basah air hujan memburam jendela kamar

Satu lagi hari tergores biru pada kalender meja di sudut kamar,

Ada 425 garis biru di setiap angka

Garis-garis aku kehilanganmu.

Menggurat biru, satu satu hingga empat ratus dua puluh lima,

di hatiku.

Kapan berakhir?

Pena biru itu seperti tak berkesudahan tintanya.

Setiap gores birunya pada angka di kalender meja di sudut kamar,

Meninggalkan luka beku biru.

Hujan di Sabtu pagi, satu lagi gores tinta biru pada kalender meja di sudut kamarku, tandai kehilanganmu, seseorang dengan sepotong cinta penuh darah yang menyodoriku sepiring anggur merah manis.

Kuberharap, pena biru itu segera habis tintanya.

Cawang 022009

Ketika Yudhistira Mempertaruhkan Istrinya

Pada sebuah kenikmatan nirwana yang memabukkan, si sulung Pandawa tenggelam dalam derai tawa dan kemeriahan dewata.

"Sayangku..., saatnya kembali ke peraduan," kata Yudhistira

di sela merah jingga kuning biru hijau gempita.

Drupadi terdiam dalam penggal asa.

Meja kayu kotak hitam putih di hadapannya. Ada sepotong kecil dadu bernoktah merah tergeletak pasrah di sana.

Noktah merahnya bak tetesan darah.

"Sayangku..., mari berkasih di peraduan," rajuk Yudhistira

dengan senyum tipis dan mata merah dan muka pucat padam.

Drupadi bergeming kaku tak berdaya.

Dadu kecil noktah merah masih tergeletak di hadapannya, menangis darah di tengah gempita, ketika suaminya mempertaruhkan dirinya pada sepotong dadu bernoktah merah.

"Sayangku,..., aku cuma menggenapi takdirku," pelan Yudistira menutup sejarah.

Cawang 032009

Apa Itu Bahagia?

"Apa itu bahagia?"

Begitu tanyamu.

Lantas kujawab: bahagia adalah pilihan.

Tanyamu lagi:

"Mana tahu kapan kita memilih menjadi bahagia?"

jawabku: ketika kamu memutuskan bahagia di sebuah keadaan.

"Keadaan seperti apa?"

"Keadaan ketika materi tercukupi?"

"keadaan ketika semua yang kita butuhkan terpenuhi baik material dan spiritual tanpa ada satu pun yang tertinggal?" cecarmu.

Aku menghela napas.

Jawabku:

Bahagia adalah pilihan akan suatu keadaan.

Keadaan yang berupa perasaan senang tak berkesudahan dengan hati yang terasa lapang dan tubuh terasa segar dengan jiwa yang terasa dibarui.

Dan perasaan seperti itu baru pertama kali dirasa dalam balutan kegembiraan atas apa yang pernah dan sedang terjadi.

Sesuatu yang dicari tapi tak pernah tahu bentuknya seperti apa.

Seperti anak kecil mendamba mainan kesukaan

dan mendapatkannya.

Seperti pekerja mendapat kenaikan gaji.

Seperti seorang perantau mendamba pulang

ke rumah dan akhirnya pulang.

Dan seperti seseorang yang haus dan terpuasi dahaganya

dengan segelas air.

"Susah amat menjadi bahagia," katamu lagi.

Cawang 032009

Sayang, Aku Bukan Benci, Cuma Bosan

"Mengapa?"

kata itu meluncur cepat dari mulutmu.

Lengkap dengan wajah tak percaya.

Aku sendiri tak percaya dengan pemandangan di depanku.

Pria tinggi besar dengan wajah seperti bocah hendak menangis.

Aku bahkan tak percaya dengan kata-kata yang meluncur

dari mulutku.

Lebih tak percaya lagi ketika pria tinggi besar gagah di hadapanku ini, terus melontarkan kata tanya bertubi-tubi dan sama;" Mengapa?"

Entah percaya entah tidak, pria tinggi besar gagah berambut ikal

di depanku itu,

Memang harus menerima kalimat berikut:

"Sayang, aku bukan benci, cuma bosan, "

Untuk sebuah perjalanan bernama cinta kasih yang dalam hitungan kalender Masehi, telah berjalan empat tahun.

"Kata orang, empat memang angka sial. Angka untuk kematian!" sahutku lagi.

Ada selaput air menyelimuti bola matanya,

mengiringi kata "mengapa?"

Cawang 032009


Sajak Sajak Anam Khoirul Anam

SUARA PEMBARUAN DAILY Last modified: 27/2/09

Sajak Anam Khoirul Anam



Kosong

Belum singgah dalam alur ceritamu sepagi itu, kawan!

Kau hanya duduk termenung mengeja warna dan rupa

Dalam hening, laju pikirmu beku pada satu titik absurd

Dalam diam kau hanya berjibaku dengan kebisuan panjang

Sedangkan waktu terus bergulir dalam kepastian rotasinya

Kau pun semakin karam pada alpha dalam mengeja batinmu

Apa yang sedang terjadi padamu sepagi itu, kawan!

Apakah engkau masih membawa risalah getir kemarin itu

Hingga sepagi ini kau masih tampak lesu seolah punah harapan?

Akan kau bawa ke mana kemuraman itu wahai jiwa yang kalut

Apakah kau akan membawa rona sendu itu sepanjang waktu?

Berhentilah mengeluh dan meratapi segala duka lukamu

Sebab itu takkan merubah segala yang kau rasakan

Begegaslah menuju matahari yang akan memberimu cahaya terang

Duduklah kau di hadapannya,

dan kau akan diajari bagaimana memahami hidup

Kelabu pada Dini Hari

Dini hari yang bersepuh kelabu

Bersamaan embun yang berderai

Dedaunan berguguran di atas tanah

Terjilat bias sang surya dari ufuk jauh

Diiringgi suara alam yang enggan naik

Nuansa dini hari itu berupa pucat pasi

Serupa imajiku yang berlumur muram

Dan, wajahku telah sarat dengan kabut

Ku Tulis Pagi Ini dengan Muram

Belum usai segala getir pahit itu

Masih terlalu panjang alur cerita

Yang ingin kutuang dalam romansa

Tentang segala kisah yang terlewati

Sebab luap rasa itu terus berkecamuk

Seolah merajam tiap detak jantungku

Di antara laju napas lelap terjagaku

Belum usai segala kisah itu tereja

Pada lembaran elegi yang dilematis

Aku jatuh bagun tiap pusaran waktu

Secerca harap muram di ambang alpha

Dan, aku limbung pada samar penantian

Yogyakarta, 10 Februari 2009

Aku Dengar Suaramu seperti Angin

Aku dengar suaramu berembus seperti angin berbisik

Sesekali terdengar pula intonasi suaramu teralun merdu

Dan, sesekali terpacu dalam laju gejolak memburu nafsu

Aku dengar suaramu diantara gemerisik suara alam

Sesekali terdengar bercampur dentuman debur ombok

Dan, sesekali terdengar rintihan suaramu di kesunyian

Aku dengar suaramu histeris diantara tangis nan pilu

Sesekali ku dengar gelak suaramu dalam riang canda

Dan, sesekali pula terdengar suaramu merintih mengiba

Aku dengar suaramu seperti angin ketika pagi hantarkan dingin

Sesekali terdengar suaramu lantang diantara terik siang meradang

Dan, sesekali suaramu tercekat diantara gerimis air mata nan sembab

Aku dengar suaramu diam teredam dalam tidur malammu yang sunyat

Sesekali terdengar suaramu dalam igauan tak terjemahkan lewat bahasa

Dan, sesekali suaramu tertuang dalam abjad-abjad bisu sepanjang waktu

Yogyakarta, 31 Januari 2009

Sebuah Pesan Singkat

Kali ini kau kirimkan sebuah pesan untukku yang dirundung pancaroba

Berulang kali pesanmu hanya terbawa angin dan tak menuai balas dariku

Sedangkan kita dalam persoalan yang sama dan kita harus melampauinya

Pesanmu makin membuatku larut dalam kecamuk kebisuan yang panjang

Kini, seluruh rasaku bergemuruh laiknya ombak membentur ngarai karang

Pesanmu hanya terngiang dalam benakku yang kian berat memikul beban

Yogyakarta, 31 Januari 2009

Pagi yang Muram

Pagi ini gerimis datang membawa sekawanan dingin

Cuaca remang susutkan segala percik gairah yang nyala

Segalanya melaju dalam keseluan rupa dan warnawarna

Satu demi satu titik air jatuh dari hamparan langit biru

Kabut tipis hantarkan embun diantara tanah yang basah

Sedangkan angin hilir balik tawarkan aroma kemalasan

Terdengar ayam jantan nyaring berkokok dengan tubuh kuyup

Nun jauh kicau burung mengajak jiwa menari dalam hening

Pagi ini gairah telah menyusut diantara asa yang tumbuh lesu

Yogyakarta, 31 Januari 2009


Last modified: 27/2/09

Sajak Sajak Abdul Khafi Syatra

SUARA PEMBARUAN DAILY, Last modified: 20/2/09

Sajak Abdul Khafi Syatra



karena dirimu adalah sepi

salahkah ketika bayang-bayang itu datang

kubiarkan liar?

kemudian kuhempaskan pada karang

mengakar

karena dirimu adalah malam

sunyi aku

karena dirimu adalah sepi

tak kuasa aku

dan kubiarkan melebur bersama debur ombak

2008

hujan telah tiba

musim hujan telah tiba

pohon-pohon kembali meranggas memadati dunia pikiranku

bau tanah menjadi parfum alami

pada mereka yang di bawah jembatan

atau mereka yang di lantai keramik

bahkan angin membuat dunia terlelap

kita tinggalkan bersama sampai tak tersisa bau

kemarau

hanya mungkin bekas luka memar

pada lapat-lapat hujan yang bisa kita tangkap

sebagai kenangan

kita tinggalkan tandus di atas cangkul

dan timba kita kembalikan ke barak

apa yang hendak kita nanti di musim ini?

sebuah musim yang basah

hari yang becek

alam selalu gelap

dan cucian-cucian kita berbau amis

apa yang kita banggakan dengan musim ini?

musim yang sudah biasa

rumah-rumah tenggelam

ribuan jiwa terlantar

apa yang bisa kita kembalikan?

alam telah mampet dengan sampah

rumah-rumah berbau busuk

mungkinkah semuanya kita tusukkan pada langit yang diam

pada kemungkinan yang patah

atau kita biarkan saja tenggelam dengan nasifnya sendiri?

2008

kau telanjang di balik kata-kata

- Andes

suara desir lirih kau menangis

kian keras menghantam dadaku

sesak- begitu sesak aku merasakan

hadirnya

gemericik air matamu

terasa begitu keras menekan denyut nadiku

tak sampai tanganku berirama

di kedua matamu

karena kau terlalu jauh

kabar yang kutanya

tak mampu kau jawab sempurna

hanya patahan napasmu kuberi makna

angin lewat dari jenjela

berdengung memecahkan kacamata masa laluku

kemudian kepalaku terbenam

pada tumpukan persoalan yang nyata-nyata

membuatmu sakit

kata-kata itu mengelupas dari dinding kamarku

hingga aku hanya bisa mengantarkanmu

sampai dipersimpangan

lalu kubiarkan kau liar

menjadi gelandangan kesakitan

2008

catatan hari

di hari pertama;

dengan kalimat sunyi kau tusuk aku

hingga dinding hatiku retak

berdarah

menyumbat pikiran hingga tersesat

di hari kedua;

kau hanya diam

dengan seribu kebisuan

aku masih tersesat

dan tak menyangka dapat menemuimu

berpangku kata

di hari ketiga;

wajahmu tak lagi tampak

namun bekasnya masih membayangiku

kemudian kutulis kembali kalimat sunyi itu

pada jarum jam

untuk menggilingnya menjadi kenangan

di hari keempat;

detik paling sempurna aku sendiri

tak kusangka

kalimat sunyi itu menikamku lebih keras

2008


Sajak-sajak Gus tf

Sajak-sajak Gus tf

Kompas, Minggu, 8 Maret 2009 | 08:23 WIB

Seruling Daging

Sudah. Jangan kaubicara lagi tentang lubang. Semua ruang semua rongga di tubuhmu telah jadi jurang. Semua urat semua serat di dagingmu telah jadi tambang. Kaulihat, di tambang itu mereka turun, terayun-ayun, meluncur jauh ke dasar tak berdasar. Kaudengar, suara serulingkah yang mengalun, meriap, seolah mengapung dan menjalar?

“Tak ada seruling dalam daging,” katamu. Tapi alun suara itu serasa kaukenal, serasa kautahu. Gemerincing, dari suatu lubang di nun jauh masa lalumu. Siapa tahu, di dinding lubang itu, mereka telah lama membuat lubang-lubang nada, belajar meniup menciptakan irama. Irama yang juga serasa nun jauh dulu pernah kaudengar, antara lena dan sadar?

Tapi, suara lain, nun jauh dari kedalaman jurang, dari dasar tak berdasar, naik memanjat tambang, menggemakan “Tak ada” berulang-ulang. Ya, tak ada, tak ada seruling dalam daging. Tak ada, tak ada setiup pun nada pernah mereka dengar. Tetapi ah, kenapa, kenapa kau merasa lubang ini, geronggang ini, tiba tiba berguncang, seolah menggigil seperti gemetar?

Sudah. Jangan kaupikir lagi tentang lubang. Tentang rongga di tubuhmu menjelma jurang. Tentang urat, tentang serat yang menjulur-julai seperti tambang. Karena, nun jauh di dasar tak berdasar, di akar tak berakar, setiap waktu setiap ngilu, setiap pedih setiap pilu, nada-nada itu menggali, menciptakan lubang sendiri: menakik rima, memahat irama—tak peduli apa tetap hanya buluh daging, atau justru menjelma seruling.

Payakumbuh, 2006

Lima Sebutan dalam Lima Bait Perpisahan

Kausebut ia “kekal ingatan”, jarak yang mempertemukan dua tubuh, di sebuah jembatan, di dua simpang yang jauh, ketika dengan yakin kau pilih pulang ke arah selatan.

Ah, kausebut ia “gema tubuh”, debar yang memantul, tertahan, di dua tapal kenangan, di mata yang micara, lenguh cahaya, angin, kelopak atau tampukkah sang penggugur suka. Ah,

kausebut ia “rintih salam”, riang kalimat yang terlontar dari dua mulut, di sebuah jamuan, bibir gelas berdenting, kata-kata gemerincing, berkilauan bagai cucur hujan. Ah,

kausebut ia “jari pucat”, tangan yang melambai, ketukan di dua ronggang, dada berkopongan, gaung memanjang, melejang, di tempat ia bakal lenyap dan tenggelam. Ah,

kausebut ia “sisa lamunan”, ingatan yang naik, berlesatan dari dasar kenangan, dari dua tubuh, di jembatan berlainan, dua-duanya di selatan. Ah, di simpang manakah itu, Tuan?

Jakarta, 2006

Tiga Kata Suci

aku kini tahu, kenapa “menguap” kata sucimu. Bila kaubiar getir mendidih, meletup hilang si gugu sedih.

aku kini tahu, kenapa “mengendap” kata sucimu. Bila kaubakar sekam dendam, tinggal lepah jerami diam.

aku kini tahu, kenapa “meresap” kata sucimu. Bila kautapis tepuk tepis, menyesak naik si ceguk tangis.

Jakarta, 2006

Burung Kuntum

Aku masuk ke dalam kuntummu. Membayangkan kelopak itu seperti kepak. Di ujung daun, matahari melengkung, angin seperti suwung. Cahaya menjelma susu, meleleh, terus meleleh dalam pikiranku.

Aku masuk ke dalam pikiranmu. Mencicip susu (ah tidak, ini madu) yang menjelma burung di bibirku. Kutangkap kepak itu, sayap kemilat seperti sirip yang mengingatkanku kembali pada cahaya. Malam urung, malam meraung dalam igauku.

Aku masuk ke dalam igaumu. Susu cahaya, burung itu terbang pulang ke lumbung cemara. Cemara yang dalam igaumu menolak jadi lumbung (hanya mau jadi kayu) kembali meronta, berontak, meninggalkan derak, menjelma gaung dalam sayapku.

Aku masuk ke dalam sayapmu. Sayap yang dulu kemilat dalam igauku yang hanya angan dalam pikiranmu, menerbangkanku melambung jauh ke kota itu. Kota yang bagai melendung, bengkak, ruam menggembung, gelembung beton dalam batuku.

Aku masuk ke dalam batumu. Gagal membayangkan kuntum, sayap, kepak, bahkan walau bayanganku undur ke kelopak. Angin juga surut, undur ke gua-gua. Matahari (kuingatkan engkau, susu cahaya) garang, mengerang pulang ke dalam gelapku.

Aku masuk ke dalam gelapmu. Meraba-raba dengan pikiran kosong, hampa, dan sia-sia. Dan sungguh, wahai, sungguh tak bakal engkau percaya. Dalam kosong, dalam hampa, dalam sia-sia, kuntum itu rekah, menjelma sayap, kepak,

dan seekor burung berkoak, terbang, cegak lesat menuju cahaya.

Banjarmasin-Payakumbuh, 2007

Tungku

“Aku tungku,” ia bilang. Hitam terang, padas arang. Letup decis gemeretak tulang. “Aku tungku,” ia bilang. Hangus lengking dada terpanggang. Dari periuknya dari kualinya menggelegak ubun, benak mengerang. “Aku tungku,” ia bilang. Setiap hari, setiap siang saat anak-anak pulang. “Aku tungku,” ia bilang. Setiap hari, setiap malam saat urat daging meregang. “Aku tungku,” ia bilang. “Aku tungku,” ia bilang. Ah, kalian berdua tungku, Sayang... baik buruk, peluk amuk,

terus—tak henti kalian merendang.

Payakumbuh, 2006

Sepuluh Dialog Tubuh

1

“Tak ada yang salah pada lupa.”
“Daging mengucap pada dirinya.”

2

“Kaugali-gali, lubang dalam lambung.”
“Tak henti-henti, riang sembur belatung.”

3

“Setiap serat minta dituliskan.”
“Mahadaging pucat kehilangan.”

4

“Hanya lambai dan kenang.”
“Tiang usia mengupas tulang.”

5

“Musuh-musuh dalam dirimu.”
“Merebut dengkur dari tidurku”

6

“Kaupahat dendam rindu pada.”
“Darah mendidih auman luka.”

7

“Rumah siput di pangkal pahamu.”
“Daging mengerang dibakar nafsu.”

8

“Dalam matamu, hujan tak pernah teduh.”
“Di pelupukku, matahari sesal mengaduh.”

9

“Tangis tertahan melunas bayang.”
“Rintih meluap di jalan pulang.”

10

“Hausku sudah dalam tubuhmu.”
“Ruang meleleh di tangan waktu.”

Payakumbuh, 2006

* Gus tf lahir 13 Agustus 1965 di Payakumbuh, Sumatera Barat. Setelah Sangkar Daging (1997) dan Daging Akar (2005), ia kini tengah menyiapkan buku puisinya yang ketiga, Akar Berpilin.

Sajak Sajak Sunlie Thomas Alexander

Sajak Sajak Sunlie Thomas Alexander

Kompas, Minggu, 1 Maret 2009 | 01:39 WIB


Belinyu

carilah pada dahiku yang kau lukai,

kerinduan para leluhur berbaju belacu

yang tak temukan jalan pulang

ke guci guci abu dan aroma gaharu

hingga bersilang bayangan, berbelit silsilah

pada batang batang pohon dan bebatu,

gubuk gubuk miring dan bagan di laut jemu

menjelma sebelah kaos kaki

usang dan bau

sebagai anak yatim yang terjebak

di palang pintu, aku mengadu

pada peruntungan mata dadu;

oh, kian berlumut batu batu!

kulihat mata arwah waktu

yang membara di tepi teluk kelabu,

sayu terbuai merdu dendang melayu

sampai berkali dilukai lagi

kenangan kanakku yang lugu

merah darah ibu kelewat pekat

menyusuri nadiku,

mengental di dahi (oh, di hati!)

serupa gelombang laut

yang mengantarkan sesajen basi

ke meja meja pemujaanmu

maka kaos kaki usang kukantong di saku

setelah sia sia lekatkan nama di guci abu

tapi kau terus mengintai warna mataku

dan menjarah doa keluh

di sepanjang ingatanku

hingga pada tiap ngungun kepulangan

mesti kubangun kerinduan yang tabu

di lengang jalanmu

Bangka-Yogyakarta, 2008

Sunlie Thomas Alexander

Elegi Kuli Tambang

liu ngie

aku tak sedang mencatat

warna ajalmu, karena

tak pernah tiba waktu ruwat

untuk mataku

yang terhujam mata pacul

di parit parit tambang

selokan selokan tergarit

seperti masa depan yang kau nujum

dan menjelma nasib buruk bagi pepohonan

ah, lihatlah tanganku yang tersayat

meraba cerita kelam pelayaran

dalam perih tubuhku, di mana jejak

darahmu yang mengering

jadi bentangan peta baru

tak hanya pasir timah

yang bocor dari pecah papan sakan

tapi juga doa dari hatimu yang rawan,

masih menetes di tiap pendulangan

hingga pohon pohon yang hilang

berganti tiang gantungan!

aku sedang tak melawat kematianmu…

walau dari biji matamu yang menyala

pada luka mataku, terus terkenang

gemuruh parit dan kabar pemberontakan

karena begitulah riwayatmu

yang diabaikan takdir;

tak pernah berhenti

mengayak pasir nasibku

di anyir penambangan yang

menjelma kampung halaman

Belinyu-Yogyakarta, 2008

Sakan: talang panjang dari papan untuk mengalirkan pasir timah ke dulang


Sunlie Thomas Alexander lahir di Belinyu, Pulau Bangka, 7 Juni 1977. Belajar Seni Rupa di Institut Seni Indonesia dan Teologi-Filsafat di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta; sembari bergiat di Komunitas Rumahlebah dan Komunitas Ladang.

Sajak Sajak Bernard SY Batubara

Sajak Sajak Bernard SY Batubara

Kompas, Minggu, 1 Maret 2009 | 01:39 WIB

Kakiku, Kaki Puisi


kakiku, kaki kembara

kakiku waktu yang baka

puisi di ujung duri, jariku merindu luka

(2008)


Solilokui Puisi

benarkah tak ada halaman kosong bagi puisi yang ingin ditulis dengan rasa gembira?

apakah puisi yang lahir dari jari yang luka saja yang bisa diterima?

lalu bagaimana dengan puisi yang lahir dari jari yang luka tapi ditulis dengan rasa gembira?

apa pula yang terjadi dengan puisi gembira yang lahir dari jiwa yang luka?

bagaimana menilai puisi itu puisi luka atau puisi gembira?

yakinkah seseorang, ia sedang benar-benar terluka saat menulis puisi agar puisi ia diterima?

siapa yang pantas menerima puisi?

siapa yang pantas diterima puisi?

(2008)


Mol

rendah, rendahkan o belahan jari, pagi

sudah tak tahan bermimpi, embun, o

biarkan dia yang melanjutkan nada

berikutnya, sebab bunyi pada waktu ini

sudah tak sama, bapa ada

di surga, kenapa tak kita juga?

rendah, o rendahkan lagi bunyi ini, di

beranda rumah sepasang kursi, hai sangkar

burung yang telah ditinggal pergi, biarkan,

biarkan mereka yang melanjutkan mencari,

sebab luka pada waktu ini sudah tak lagi,

kenapa tak kita Mati?

(2009)


Kres

waktu telah memainkan luka, hingga ke nada

yang lebih tinggi, dawai menyimpan mimpi,

denting menanam rindu entah di petik yang

mana, ah, langit telah menyala..

suara tak lagi, ada bisik yang lebih

lengking, napas begitu kering, apa yang

bunyi terdengar begitu api, di sini

jemari membakar, ah, teriak telah berkobar!

(2009)


Bar

betapa kita hanyalah tubuh yang runtuh, o ruang

yang mengarung nada-nada, tanda-tanda, o

duka yang terselip di setiap jeda, o tuah

yang mengalir di belahan lagu, romansa

bunyi masa lalu, aroma sedap malam dari laut

mati dalam simfonimu membawa maut, o jemari

yang lihai melantun luka, menatah luka,

menyusun luka, o tubuh yang runtuh,

betapa kita hanya ruang yang rubuh, ruang yang rubuh..

(2009)


Fret

ini, gurat jariku di lehermu, begitu panjang

dari ujung yang lebar hingga pangkal

yang sempit, berbekas, o, sekali lagi

kusentuh ya, maaf, lagu ini belum juga

selesai, o, petak nada yang serak, sampaikan

pesan paling lengking ke gendang telinga

beliau, biar dia mendengarnya sebagai

desing peluru, jangan menikung, petak

nada yang serak, o, berikan aku satu-dua

bunyi yang paling pekik, sampaikan pula

pada beliau, biar dia mendengarnya sebagai

jerit ibu

(2009)


Bernard SY Batubara lahir di Pontianak, Kalimantan Barat, 9 Juli 1989. Kuliah di Jurusan Teknik Informatika, Universitas Islam Indonesia. Bergiat sebagai staf redaksi di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Profesi. Sajak-sajaknya dimuat di sejumlah situs internet sastra.