Minggu, 29 Maret 2009

sajak-sajak Esha Tegar Putra

sajak-sajak Esha Tegar पुत्र

Koran Tempo, 15 Maret 2009

MENGUKUR JARAK

Esha Tegar Putra

akhirnya aku tahu, antara singgalang dan buahbatu
ada yang terentang serupa benang, yakni matamu; mata perdu

meski sesekali aku tersesat di jalan panjang dan tubuh jalang
bayangmu tumbang di antara serak bunyi puput batang padi

kiranya siapa yang lebih mengerti selain sunyi yang kian mati
matamu menyiratkan lubuk dalam, bayangan di dasarnya terkurung

terbenam juga angan, pantai panjang dikulum pasir bergaram
matamu menyiratkan sesuatu yang padam, sesuatu yang geram

antara singgalang dan buahbatu adalah rindu, begitulah seruku
teramat lapang ini langit, teramat sulit buat digigit

aku kian bergairah; di sini lembu, kuda, tempua, kecebong
segala binatang ikut berseru dari hunianku, ikut berseru sepi

jarak tak merupa benang pintalan biasa (bukan pintalan si tua yang
dengan gemetar menenun kenangan lama di helaian kain satin)

bilamana rindu ini padu menjadi bau gaharu, siapa yang bakal
sanggup menenun makna cinta yang berubah jadi perca?

isyarat mata perdumu, sekumparan kabut lembut penggenap kalut
tapi siapa yang sanggup menelungkupkan tanjungku ke arah lautmu?

kali saja pasir susut, singgalang merupa gundukan tanah biasa
tak bersuara tak berseru, dan buahbatu menghela itu rindu

di ini tahun pucuk cinta menumbuh baru, sesuatu yang padu
digenapkan tubuhmu, dengan bau lokan rebus dan amis susu lembu

akhirnya sajak jadi himpunan bahasa yang tak perlu diberi tahu
dan aku akan berucap mengenai jalang malam menjelma tubuhmu

kiranya kau tak mengerti, sajak tumbuh di dagumu, punggungmu
dadamu, di segala yang ada padamu menumbuhkan gairah sajak

Kandangpadati, 2008

SEPINGGAN SAJAK SEPI

tentunya kita tak bakal saling melupa, sekarang aku sepinggan
sajak sepi, sedangkan kau sebentuk kata hati

tentunya kau tak akan pernah mengira bahwasanya aku akan
mempunyai sepasang mata berbahaya, mata yang bisa memandang
tembus lewat sesela angin (maka dari jauh, dari jarak yang tak bisa
kau tebak, pastinya aku akan menatapmu dengan penuh malu)

aku juga seorang penujum yang tahu di tempat mana kau
sembunyikan rasa sakit, ke sudut mana kau benamkan kenangan geli
yang selalu ingin kau nikmati sendiri

pastinya aku tak akan banyak berucap dan bergumam lagi
tapi piuhan mantra dan jimat penghela akan kudedahkan
(bagi siapa saja yang menyembunyikan kenangan
ke pucuk paling rahasia)

aku juga akan mengobati kau, jika dalam sakit
aku akan menyajikan sepunggung tulang
agar kau kuat dalam mengingat dan sigap berucap

tetap saja aku akan kau maknai sepinggan sajak sepi
sebab kau sebentuk kata hati
dan kita pastinya akan cepat bertemu jika sakit melibatkan diri

Jalantunggang, 2008/09


Esha Tegar Putra sedang belajar di Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Andalas, Padang.

Sajak-Sajak Budhi Setyawan

Puisi Puisi Budhi Setyawan
Jurnal Nasional Jakarta | Minggu, 08 Mar 2009



Ada Yang Tertinggal Oleh Larimu
: sumantri

tak kau dengarkah roman rona masa silam
dengan teriak parau memanggilmu:
”pulanglah sebentar, aku mau cerita. tapi riuh kemilau
gerak zaman menindih sepimu bertubi tubi.”

tak pernahkah terlintas di kanvas jalanmu
waktu lalu yang dulu pernah dekatmu
kautinggalkan sendirian di sebuah halaman
meradang merana ditimpa kepanasan kehujanan

dirinya kian asing
memanggil dan terus memanggil:
”temui aku sebentar, sebentar saja, sungguh aku mau cerita.”

memang dirimu telah lesat jauh
dari langkah kecil yang merunut setapak
berganti jalanan lebar berpacu bising

jendela kamar tak lagi terbuka setengah
seperti dulu menangkap rembulan keperakan
kini rapat katup takut lembab malam

sumantri tak lagi lugu bocah dusun
telah menjelma punggawa kerajaan
yang bermain main di pendar dunia awang awang

menggebu menderu genggam putaran dunia
menegak menjelajah panggilan satria
ada selangkah yang belum tergapai nuju ksatria

sukasrana tak boleh terlihat
dan kemunculannya terhapus hunjam runcing
panah jumawa terpisah damai cinta

sukasrana
masa silam

menemanimu dalam membuka pintu
oleh ketukan terakhir pada nafasmu

Jakarta, 2008



Dedaun Yang Akan Terbakar

di ruang ini
mesin mesin menggeletar mencuri sunyi dan menggantikannya dengan riuh gemuruh
meniti rute yang telah disediakan oleh cuaca
sambung menyambung seperti membariskan kampung
yang mengirimkan tampias tanya di ringkih jendela

jalanan dan pipa pipa menarikan gerak aroma tembakau dengan irama musim panen
wajah berselimut kibaran asap tersembur
dari bibir yang galau mengeja samar
hunjaman waktu
tiada letih
tiada jemu
tlah dibuang segala keluh
di lembah yang jauh

meski ada yang menyelinap
seperti bayangan kucing yang lewat
sesak pengap
atau semacam perangkap yang menyimpan jawab
meski begitu lambat keong merayap

Cirebon, 2008


Kejap Lesat

ah waktu mengapa kau bergegas terburu
menyerobot kuntum puisi berembun
yang lagi kukunyah, belum juga sebait
tidak bisakah sejenak bersama
kita mengurai riwayat rasa
di kedalaman lubuk lubuk lengang
lepaskan segala hitungan dan angka angka
lukis sepenggal sejarah
tentang makna yang kian terbenam
di alunan gersang peradaban

ah waktu mengapa kau bergegas terburu
seperti dikejar kejar seribu hantu
yang menjelma sosok tuhan
sedang gores gores luka masih basah
mengucurkan ratap di anyaman malam
bentang layar yang memendam letih

ah waktu mengapa kau bergegas terburu
masih menghampar duri tanya meruncing
di lantai dinding dan langit kamar percakapan
menunggu rapat jawaban yang suka sembunyi
di sebalik dedaun redup perjalanan

ah waktu
kau kaku!

Jakarta, 2008


Malam Tanpa Sapa

senja membimbing patung patung itu
kembali ke alamnya sendiri
tanpa merdu lagu dan simponi syahdu

setelah berkelana jauh diajak terbang angin
bersua wajah wajah berdebu
kian didekati kian menjauh
kian diamati kian asing

terbirit menuju samar
mengais sisa purnama
yang dulu bersarang di pucuk kelapa

waktu gagap menatap warna
tak ada beda di tiap ruas
lepas genggam jejak cerita

keliaran kelam menyimpan bayang
sapa kawan lama
menyergap mendadak asing

gamang menyeruak menyerang
menerjang dengan senjata garang
kelam menempel rapat di serpih ruang

meraba raba relief langit
mencari tali cakrawala
yang tergerai di bilah doa

segala ucap terendap di letihnya
semua teriak terkurung di kamarnya
tak ada celah seberangkan kata

malam begitu batu

Bekasi, 2008


Pahatkan Waktu Pada Pencarian

kepakkan segenap tarianmu
kecup segala pucuk gelombang
di antara bayang perdu wajah merindang
desau angin berebutan
pada celah kisah yang masih saja merayapi
ceruk desa panjang kota
yang menyimpan kumparan kumparan cahaya

ragu yang bertingkat tingkat
muram yang berpangkat pangkat
desingan permintaan dan dinding kesanggupan
tawar menawar dalam degup gemetar lirih nyanyian

malam adalah selimut tebal yang penuh rayuan, juga
tirai yang terpasang di gerbang perpindahan usia
siapa siapa yang cerdik memainkan kitab rahasia

suara musim meringkas segala sadarku
sejarah perburuan usahlah usai

Bekasi, 2008



Di Sini Kucari Atlas Kenangan

mendung membuat langit miring dan limbung
aku ikut terhuyung mengingat ada yang tak tertampung
dari sebuah gaung igauan yang memanggil kursi taman
juga pepohonan bercabang rendah yang begitu mengerti
sediakan tubuhnya buat teduhkan kata kata yang nyeri

hujan yang tersimpan di pojok pojok kota
kadang begitu beringas memprotes cuaca dan suasana
memainkan lagu yang sarat improvisasi nada
engkau dan aku tertegun di semenanjung jeda
pintu pintu membentur di hidung dan kening kita

ada kalanya mesti diletakkan
keranjang penuh muatan di punggung zaman

kupanggil puisi puisimu yang kelebat bercuap di depan kaca
terus saja bersuara tanpa menolehku
berjingkat akan kutangkapi untai elok kata itu
namun ia begitu lihai menghindar
lalu bersekutu dengan tarianmu
bersama mulut angin menekuni tengkukku
mengirimkan gigil yang meluruhkan hijab mimpi
rontaku mengalir di bawah tawanya
yang memecahkan bentang dinding kamar, tawar

jarum jam merayu gedung gedung tinggi berbaring
melemaskan otot otot setelah bekerja seharian
kepenatan yang mengisi pembuluh peradaban
juga endapkan debu debu yang tadi beterbangan
tiang tiang lampu jalan saling pagut berpelukan
mengisi ruang ruang kemuraman
yang saling berkelindan menafsir beku percakapan
suara gamelan yang semakin lirih dan rintih
belum sempat kita perbincangkan dan terjemahkan

ada kalanya nyeri ditahan
simpan di balik jeruji kesah dan teriakan

ketika pucuk malam mulai melelapkan gang dan jalanan
masih saja kausimpan misteri keindahan tak tergantikan

Semarang, 2008


Di Sarang Urban

di sarang urban
kata kata tiarap
sembunyi takut ada razia
keluar bila ada teman
aroma senja
kelam malam
temaram bulan
girang bintang
meliuk dalam jinaknya

di sarang urban
percakapan kian diam
tak mudah untuk mendapat jeda
nyaman masa disekap gaduh
mesin bernyanyi
beton menari
sepi terusik
asing terpetik
nurani terisak menyesak

di sarang urban
waktu melesat kilat
tak sempat mengangkut jerit
panggilan yang datang terlambat
rintih ratap
kelam musim
pekat mimpi
tatap duri
guratan jawab menguap

Jakarta, 2008


Kerajinan Jiwa

karena hujan memanggilmu pulang
ada atap yang bocor serambut
meneteskan elegi di sebuah kamar di rumah kenangan
diiring badai kata kata menyodorkan kecamuk
menghunus hiruk pikuk
terburu segera menemu peluk
puisi yang lama tersimpan di lambaian pantai
memerah jingga diperam senja
ada yang mesti diurai lagi
lalu dirajut kembali
juga diberi sulaman warna yang lebih berani
karena percakapan dengan hening kedalaman
memberikan titik runcing cahaya
dan sayapnya mengepakkan damai
ke dalam setiap rindu yang tercipta

Jakarta, 2008




by : Arie MP Tamba

Sajak-sajak Bernando J. Sujibto

Puisi Puisi Bernando J. Sujibto
Koran Tempo Jakarta | Minggu, 15 Mar 2009




Katedral Batu 1

sebuah kitab di tanganku
menuliskan salju baris putih
kepingannya akan pecah
di kotamu
sebagai hujan
yang mengetuk

dan pintu-pintu akan terbuka....

(2008-2009)


Katedral Batu 2

1/
tersepuhlah tuah
bagi masa silamnya
yang hilang
yang mengingatnya
luka-luka akan gemeretap
tiap dinding tergurat
sepanjang ruas baca
musim-musim payau
luruh ke geraian

ingatakan!
yang retak tak kan terberai
demi selembar daun
yang tumbuh dari akarnya
akar-akar yang menyulamnya
menjadi tembaga senja
di lembaran doa

ia akan menyapamu
selekas kedipan petir
yang telah merubuhkannya

2/
setiap mengingatnya
aku akan meniupkan pasir
dari sesap keminyan ke wajahmu
hingga bersekutulah waktu
menjadi sumbu
getar yang biru

biarlah tumbuh
untuk rubuh
bangunkan mereka
di atas tatal yang beda


(2008)


Nokturna Hujan
Atawa Batu Ajaib?
-(sms dari Cak Rushdie Anwar)-

”dalam hujan
kurasakan tuhan begitu dingin
dan menyurukku menggigil”

”dalam hujan
tak ada yang kepanasan
saat tubuh mereka terbakar”

”dalam hujan
lahir batu
menjadi riuh yang aneh
bagi kota dan orang-orangnya”

”ada yang menusuk ke dalam ingatanku. Menyaksikan mereka kembali kepada sunyi muasal dan keminyan yang terkubur di sebuah pusara menghantarkan mereka tersilap dalam kepingan senja yang tembaga. Di sana tubuh mereka telah menjadi rel kereta bagi perburuan yang hilang, bagi pencarian yang tenggelam”

”dalam hujan kini aku beku
dalam batu kini mereka menggigil”

(2009)


Jalan Sungai
ke payakumbuh

setiap ujung daun
selalu mengucur air
seperti kesetiaan sungai
kepada setiap jalan di sini
sungai untuk semua, bisikmu
menerbangkan mimpi ke awan
mengembalikan hujan ke tanah
dan
mereka pun lahir
dari jantung tanjung
dari kelokan maninjau
dari tepian sungai-sungai
menjadi kilap batu di langit
menjadi tuah pusaka semesta
dari bukit
langit begitu dekat
merapat ke segenap sudut
jalan-jalan seperti berlepasan
menuju tubuh yang siap dilahirkan
menuliskan seribu peta keberangkatan
matahari dari balik kedipan siap bersambut
merajam sangsai sungai di laut, kisah masalalu ditenggelamkan
aku datang seperti sepasang insan bertemu dalam pelukan tuan
leluhur kata-kata yang telah merajut pelangi dari semua musim
merangkumnya di sini, di jalan sungai yang terus mengucur air


Ihwal Serpihan Musim

hujan

ia mendiamkan ombak di lorong mataku
menuju tujuh lapis kepada satu langit
kelak ia akan menjejak di pipimu
menjadi peta anak-anakku

kemarau

ke tepi bukit, ke sawah bawah sana
petani menaksir buah simalakama

kabut

engkau lebih awal menghapus ingatan
adalah bayang-bayang di balik hujan

jejak

yang dihapus akan acap datang
lantaran angin menyeka beranda


(2008)




Setelah dari Rumah Atas Bukit
Kepada Bang Raudal Tanjung Banua

jika ke pesisir selatan, terbayanglah ombak
menjahit langit dengan tungkai bukit taratak
ada kuda yang berkelebat di balik saga senja
“tabik bagi orang-orang rantau!” kata mereka

dari atas bukit itu, si koto, mengurai kisah
jarak pandang antara laut dan beranda rumah
tergerai pelangi, bersambut warna-warna sisik
ikan di langit, sketsa kapal-kapal perantauan
yang tak pernah bisa ditambatkan

laut, di sini, lebih setia menyimpannya
sebagai rahasia yang tak tersebut namanya

di ujung april sebelum ke payakumbuh
kelahiran itu kutemukan seperti selendang subuh
mengakrabi daun yang uratnya kini menjadi pohon
dan di tengah pagi ia akan pecah menjadi awan
terbanglah ke semua sudut langit, yang begitu dekat
dari atas bukit bekas rumah dan rehat kisah kesah

dan, jalan ke bukit itu setiap hari berubah
sukma tertusuk duri hingga berkali-kali
seperti tak sanggup melayat kembali

setelah dari rumah atas bukit itu
jarak bukit dan laut begitu dekat

jika orang memanggul rotan, ia
pasti baru saja berlayar di laut
jika mereka membakar ikan, ia
pasti baru saja berburu di bukit

(Padang, April 2008)

by : Arie MP Tamba

Sajak-Sajak Tia Setiadi

Puisi Puisi Tia Setiadi
Jurnal Nasional, Jakarta | Minggu, 22 Mar 2009



JEMBATAN BAMBU KE ARAH HATIMU


i
Jembatan bambu ke arah hatimu,
air kali dibawahnya, mengilau.
Ada wajah langit disitu,
juga wajahmu
wajahku
memecah menyatu
memecah menyatu
dalam riak dan arus yang khusuk.


ii
Seruntun lagu
terulur
dari ufuk
kalb.

terulur
dari ufuk
murung.

terulur
dari ufuk
jauh

terulur…




iii
Hanya kelopak-kelopak bunga baobab
yang tahu kenapa tiba-tiba mataku sembab.


iv
Tapi burung-burung rengganis
kerap singgah dan berhinggapan
di dahan-dahan albasiyah
menggusah gundah
bersiul tentang hidup
yang nikmat dan khidmat
nikmat dan khidmat
bagai senyumanmu.


v
Mendadak buah-buah campedak berjatuhan
suaranya berdeburan, berdebaran seperti mimpiku.


vi
Aku ingin menjadi tupai
yang lincah berloncatan
di gerai-gerai rambutmu
yang hitam bergelombang
bersibakan kerna angin.

Lalu istirah
di kebun anggrek yang bergerumbul
dan semerbak dikeningmu
sembari mengeja harapan
yang berbaris geulis di lengkung alismu

atau terbaring saja
di bulu-bulu halus leher kencanamu
yang gemetaran.


vii
Sepasang bukit
yang padat melancip
adalah keindahan lain lagi
mendakinya mesti dengan kesabaran.
Dan kelak, ‘pabila sampai ditikungan itu
akan kupanjati ramping pohon pinang
dari atasnya bakal nampak tamasya:
parit kecil yang ditepi-tepinya
merimbun semak dan rumpun
gelagah dan perdu

Hm, bolehkah aku mandi disitu?


viii
Seseorang memetik kecapi
setelah melepas capingnya
awan-awan datang lalu hilang
cahya lembayung hibar dikejauhan
ilalang bergoyangan:

Ah! Ah! Ah!

Berapakah jarak
antara bimbang
dan harapan?
antara mimpi
dan kehadiran?

antara kau antara ku?



ix
Nanti, ke dangau ini
bakal ada yang datang
menjemputku.
Barangkali gairah
atau
mungkin maut.
Tapi
di dinding kayu itu
telah kupahat nama
dan lekuk bibirmu
biar kekal
seperti kesepian.


x
Sebab sudah saatnya
aku takjub
pada setandan pisang
yang kuning mengkilap
seperti emas.

Sudah saatnya
aku takjub
pada unggas-unggas
yang girang berenang
di luas telaga.


Sudah saatnya
aku takjub
pada tangan
yang melambai-lambai
sederhana.

Sudah saatnya
aku takluk.


xi
Jembatan bambu ke arah hatimu
akan kusebrangi walau
akankah sampai kesana
akhirnya?
Aku tak tahu.
Aku tak tahu.



: yogya, 2005-२००९



by : Arie MP Tamba

Sajak-Sajak Gus tf

Sajak-Sajak Gus टफ

Koran Tempo, 29 Maret 2009

LUBUK KABUT

Gus tf

kaukatakan engkau mampu, memangkas rimbun kabut

di matamu. Cuaca berubah-ubah tak menentu. Segala

bisa tumbuh atau ranggas di dadamu. Segala bisa

hijau atau kemarau di ladangmu. Diam-diam

diam-diam, kukenali ia, sang kabut, yang saban waktu

datang menjumput. Kulihat engkau, entah kapan, riang

menyambut. Seperti tubuh di dasar malam menggigil

butuh selimut. Selimut kabut? Ah, kaukatakan

kaukatakan engkau mampu, melepas jubah kabut dari

tubuhmu. Cuaca berubah-ubah tak menentu. Gerimis

di lain ladang bisa jadi hujan di dadamu. Panas hari

ini bisa jadi kemarau di lain waktu. Diam-diam

diam-diam, kukenali ia, sang kabut, yang saban waktu

datang menjumput. Kulihat engkau, entah kapan, lekas

tengadah. Meninggikan pundak, menaikkan wajah

seperti kubah. Kubah kabut? Ah, kaukatakan

kaukatakan aku mampu, menggantang kabut dari lubukku.

Surabaya, 2006

PETANI

Jika kautanya mauku kini, kujawab: jadi petani. Membalik,

menggembur, mencangkul tanah dalam diri. Kata-kata sudah usai,

rindu dendam telah lerai. Tinggal kini umur, yang ingin kulumur

dengan hijau sayur. Anakku bilang, “Klorofil, Papi. Serat yang

kaya zat antiradang, antioksidan, dan antibakteri.” Hmm,

anakku suka aku jadi petani. Apa lagi? Di kekendoran urat,

sering kurasakan geliat ulat. Di kedalaman daging, acap kudengar

dengkuran cacing. Maka urat-urat harus dibikin liat. Dan daging,

kukira, harus sedikit lebih hening. “Jangan cuma tanam bayam,

Papi, tapi juga alfalfa, brokoli, selada, dan seledri.” Hmm,

anakku kenal banyak jenis sayur. Namun, tahukah ia sayur

yang paling sayur? Sayur yang kumau, anakku, yang bikin doyan

primata dalam diriku, yang bikin tenang serigala dalam lolongku.

“Dan, asam folat, Papi, sangat dibutuhkan buat mencegah cacat

pada susunan syaraf pusat.” Eh, cacat? Hmm, tahu apa

anakku tentang cacat? Dan, asam folat, zat apa pulakah itu

asam folat? Anakku, agaknya, memang lebih tahu ketimbang aku.

“Selain cacat, asam folat juga menekan risiko kanker, mencegah

anemia, penyakit kardiovaskuler. Dan, yang juga penting, Papi,

klorofil membantu fungsi hati. Ha, hati? Cukup, cukup,

kukira, memang, tak penting bagiku yang lain--kecuali hati.

Payakumbuh, 2007

HASRAT

Tubuhmu ditumbuhi ilalang, usia menyibak dan memanjang.

Matamu mencangkul malam, gundah gemilat menolak padam.

Kenanganmu jeruk melisut, lebat pertemuan menyemaki sahut.

Himbaumu sesal tertahan, sayup samar suara menunggu kapan.

Lenganmu menjulur belum, peluk bergelayutan menahan cium.

Igaumu debar meronta, bibir berdenyut ke ujung gemigil kata.

Langkahmu merahang batu, jejak tertumpu tempurung ragu.

Ingatanmu naik gerincing, silam merinding di buluh daging.

Lepas. Lepas saja. Hasratmu lepas hanya bila dahaga.

Yogyakarta, 2007

EMPAT SEJARAH ORDE LUPA

1

Kami orang-orang alpa, berkali-kali lupa, di mana kami berada. Kami juga tak tahu ada benda bernama peta dan tempat tinggal kami bisa dikenali dengan semacam tanda. Tentu kami punya nama, tentu juga punya bahasa, tetapi Anda tahu, nama atau bahasa, kini, satu sama lain cenderung serupa, dan cara mengejanya kadang mirip belaka. Apa yang Anda andalkan bila Anda tak punya cukup ingatan?

2

“Belajarlah membuat catatan,” kaubilang. Tetapi kami juga telah tak paham cara mencatat. Seorang dari kami pernah mencatat, tapi yang ia catat hanya tempat-tempat, alamat-alamat, yang ia salin dari sampul sejumlah surat. Surat yang, Anda tahu, hampir seluruhnya salah alamat. Dan jika pun ada yang benar, selalu kami tak yakin, dan buru-buru berpikir jangan-jangan surat kesasar. Apa yang bisa Anda andalkan, bila Anda, pada kenyataan, tak lagi punya keyakinan?

3

“Soal keyakinan,” kaubilang, “mari kukatakan: justru itu bukanlah soal. Keyakinan tak tumbuh dari kenyataan.” Lalu kau bawa pikiran kami ke gua-gua, undur, surut kembali ke liang-liang purba. Saat kami bilang, Kelam, cepat engkau menukas, Tak semua yang kelam adalah malam. Saat kami bilang, Terang, cepat engkau menukas, Tak semua yang terang adalah siang. Saat kami bilang, Biru, cepat engkau menukas, Tak semua yang biru adalah langit. Tak semua yang kuning adalah kunyit. Tak semua yang warna adalah nama, bukan?

4

Baik. Kami paham kini. Soalnya cuma nama. Dan kami pun memberi nama-nama baru untuk segala yang alpa, segala yang lupa. Dan ya, Anda tahu, dari sinilah kami mulai mencatat, dan sebenarnya, mulai melihat. Betapa benda dan barang-barang lama, setelah dicatat, jadi tampak persis seperti yang kami lihat. Betapa masalah dan halhal lama, setelah betul-betul dilihat, kadang tak lagi perlu dicatat. Betapa kini, Anda bisa ingat, cukup hanya dari cara melihat? Alangkah ganjil, juga sederhana, sejarah lupa menjadi ada. Sejarah yang, beratus-ratus tahun kemudian, seperti hari ini, cucu-cucu kami kembali alpa, kembali lupa.

Payakumbuh, 2007

Gus tf lahir 13 Agustus 1965 di Payakumbuh, Sumatera Barat. Buku puisinya adalah Sangkar Daging (1997) dan Daging Akar (2005).

Sajak-Sajak Endang Supriadi

Puisi Endang Supriadi

Jurnal Nasional, Minggu 29 Maret 2009




AKU SATU DI ANTARA

berlapis-lapis kata bertumpuk
di meja seminar. berlapis-lapis kabut
menumpuk jadi kalimat di benak
para penyair. berlapis-lapis kalut
membalut di hati para pemabuk

akulah satu diantara pemabuk itu, tuhan
mabuk oleh rasa asing ini, mabuk oleh
peradaban bumi, mabuk oleh moleknya
luka, mabuk oleh anyir belerang kawah
mabuk oleh waktu yang berpohon empedu

berlapis-lapis angin merangsek
ke dalam kamar. berlapis-lapis ingin
mendesak batin. berlapis-lapis angan
berpegangan di kerongkongan jalan
berlapis-lapis tepis, gagal membatas deras

akulah satu diantara yang engkau beri gigil itu
meringkuk di dalam kalimat pucat
kata-kata tak tuntas selesaikan makna
dingin ini terus membekukan sendi-sendi
pikiran, aku terhuyung di negeri bualan!


Lembang, November 2008



KALUT YANG BERKABUT

jalan meliuk seperti rambutmu yang
diporak angin. garis lidah lahar
mengurai tebing ke titik paling dalam
itu kabut menyerupai kalut hatimu
yang memar oleh lilitan akar soal

engkau lempar rasa pedih ke dasar kawah
siapa peduli dirimu jadi kabut di gunung ini
sebab setiap kaki punya langkah sendiri
setiap hati punya rumah pribadi

batu cadas yang kaududuki
tak lebih sebagai tonggak peradaban
yang rapuh. ia akan surut oleh waktu
seperti kita yang menganggungkan kata
sebentar saja dibuat jadi si perkasa

si lelaki tua itu berharap dirimu jadi kupu-kupu
di kamarnya. membawa pulang sepotong hatinya
yang patah di tikungan jalan. ia meminta kau
melekatkan kembali patahan hatinya itu dengan
liur kerindungannya yang tak henti menetes
dan kau harus pasrah ketika tempat peraduan
jadi medan pertempuran!


G.T. Parahu, November 2008


SEORANG PENARI YANG BERNYANYI

di sini, laskar dingin menguasaimu
namun letupan api di matamu tak terjangkau
oleh gigilnya. kau menari di atas lapisan kabut
mengurai kehangatan ke pucuk-pucuk cemara

lelaki adalah seekor buaya berlidah mawar,
katamu. tumbuh dari selangkangan bumi
dia tak sadar sudah kalah sebelum fajar
dan jadi undur-undur dibalik punggungnya sendiri

di sini, purnama hanya sekeping kancing
di kerah baju. jarang keluar dari peradabannya
namun seribu matahari telah engkau gantungkan
disudut-sudut malam, di rimbun kegelapan

kau bernyanyi dan tertawa
menangis dalam dahaga. lalu kau berteriak,
“kalian kenal aku? aku adalah sebuah kegelapan
yang kalian ciptakan di setiap malam!”

Lembang, November 2008


GADIS LEMBANG

bernyanyilah irene bagi kegundahan pagi
dimana bunyi gelas yang beradu telah
membuat kian jauhnya angin ke dingin

bernyanyilah irene sebelum meja peradaban
digerakan oleh otak yang liar, dicabik-cabik
oleh keheningan gerimis yang menenun sunyi
jadi gelang-gelang sepi

leher ini telah dililit oleh rasa jenuh yang
amat dahsyat. kabut telah merangkai lembar
kegelapan sampai ke tiang iman
jiwa lebam dalam kelam

embun tak jadi api, namun kilaunya
telah menyileti rasa gugup ini. penyair
bukan penyihir, irene. ia tercipta dari kata-kata
jika kau suka, kata-katanya akan jadi legenda
jika kau tak suka, kata-katanya akan cepat binasa

bernyanyilah irene bagi kegundahan hati
bebukit tak lekang oleh kabut, tapi sirip embun
telah memasang sayap dinginnya diseluruh tubuhku

bernyanyilah irene, agar udara yang keluar dari
napasmu dapat menghangatkan seluruh isi
peradaban ini. aku; orang pertama yang akan
menguak kabut bagi kegelapan langkahmu.

Lembang, November 2008



DI BALIK CADAS

dibalik cadas kau simpan kelembutan. namun
lelaki yang menanam mawar di tangkai melati
tak tahu kalau hatimu ikut tergores. angin sejuk,
bersisik belerang. kau tetap tersenyum tatkala
hujan menanam kembang paku di kakimu

lembang telah mengalunkan tembang kerinduan
pohon-pohon cemara luruh di setiap pagi
tapi bukan engkau irene. bukan engkau

engkau adalah segumpal kapas yang terapung
di ujung mendung. dan lelaki itulah yang telah
jadi lumut disela batu kali yang terbelah. ia kalah
tatkala engkau mengelak di saat ia hendak menapak

baiklah irene. jakarta takkan kubawa ke dalam
pikiranmu. biarlah kota itu hanya akan jadi bayang-bayang
di kolam, atau menjelma seekor kunang-kunang
yang melintas di malam-malammu. bukan sebuah kota
yang harus kaupercayai seperti kasih ibu

aku akan berkata bahwa jakarta,
sebentar akan jadi pacuan kuda. dimana para
penunggangnya akan berpacu dengan polusi dan polisi
dan semuanya akan jerah dan kalah.

Lembang, Nopember 2008


ANAK ANAK YANG BERJARAK

anak-anak yang berjarak dengan asap
perlu tahu dimana rumah bunga, juga
taman bermain yang kerap menjelma
busa sabun mandi di dalam mimpinya
bukan dibawa ke sarang api atau ke
rumah debu bagi kebutuhan hidupnya

anak-anak adalah pemilik keindahan
keceriaan dan gelak tawa. anak-anak
yang berjarak dengan batu, wajar masuk
ke dalam wilayah pelangi. bukan berada
di simpang jalan, menghitung panjang
trotoar, dan berlama-lama jadi sapi perah
dijalanan

anak-anak adalah sumber energi sehat
roda yang menggerakan kaki kita
ia kelewang bagi kejenuhan. mereka
pion yang seharusnya ada dibelakang kita
sebagai pendorong semangat. mereka
bukan tameng bagi kelemahan kita
mereka adalah air di dalam api kita

anak-anak yang berjarak dengan pengalaman
dunianya adalah bermain. bukan pengumpul
kulit kacang, bukan pula pelebar sesak jalan
mereka adalah pencipta simfoni hidup kita
tembang-tembang indah saat kita lelah.


Citayam, November २००८


by : Arie MP Tamba

Sajak-Sajak Wilson Nadeak

Sajak Wilson Nadeak


SUARA PEMBARUAN DAILY
Last modified: 27/3/09

Malam Menjelang Paskah

percik-percik darah di ambang pintu

pelita pada malam gelap

jejak kaki malaikat sunyi

kepak sayap malaikat maut

berhenti

pergi mengusung mimpi

detak jantung anak sulung

terhenti

ambang tanpa darah

domba yang terbantai

ratap tangis

gerimis tanpa henti

Firaun yang geram

larut malam yang muram

lagu duka kehilangan

genta kematian

Bandung, 11 Maret 2009

Wajah

bukan wajah tampan

atau keceriaan seorang bintang

tepuk tangan

panggung kehormatan

bagi dia

penjelajah waktu

kehidupan dalam debu

deru

luka sepanjang zaman

demi kehidupan

orang-orang yang terlupakan

bukan wajah tampan

di bayang luka yang memulihkan

mahkota duri

"Eloi, Eloi, Sabakhtani!"

wajah

dalam benam nista

langkah-langkah

salib Golgota

seruan:

"Ampunilah mereka

para pembawa bencana".

"Beri Aku Minum"

siang yang gersang

lewat selubung malam

yang panjang

khianati sesudah nyanyi subuh

ayam jantan

pagi dera tubuh

tangan-tangan garang

jalan pendakian

langit pun berduka dalam kelam

siang tiba-tiba menjadi malam

terdengar rintihan:

"Beri Aku Minum"

cuka asam disodorkan

di ujung tombak sebuah cawan

ketika tiba-tiba bumi berguncang

serdadu-serdadu ketakutan

tirai di Bait Suci terbelah

teriakan menggema:

"Usai sudah!"

tubuh terkulai

dalam lengang bumi

Ketika Fajar Subuh

silau mendera serdadu

dalam subuh

gempa bertalu-talu

langit di taman

fajar dalam kepak sayap malaikat

yang mati dibangkitkan

kubur kosong

para imam mereka-reka bohong

para wanita

menyapa Dia

yang bangkit hari ketiga

para pria

dalam sukacita

menjadi pemberita

telah bangkit Dia

Fajar pengharapan

umat manusia

Bandung, 11 Maret 2009


Last modified: 27/3/09