Jumat, 21 Agustus 2009
Sajaksajak Badarudin Amir
Oleh :
Badarudin Amir
siapakah adam yang selalu dilambangkan itu
siapakah hawa yang selalu diagungkan itu
aku berdiri di tepi bumi
kini menjelma adam tidak di firdaus,
tetapi di tengah-tengah gersang antara kota sodom dan gomorrah
aku tidak tahu kemana siti hawa tiba-tiba menghilang
aku berteriak
dan gaung suaraku kuharap kini telah sampai di suatu tempat
dimana siti hawa yang kurindukan
mungkin bersembunyi karena malu,
karena tak pernah meyakini dirinya
sebagai perempuan suci
setelah terlontar dari rongga sorga-Mu
tapi siapakah yang paling berdosa kini
dan sorga manakah yang paling firdausi
kalau kini aku,
si adam yang telah lama kesepian di sini
berteriak seperti dulu: ''Tuhan, beri aku perempuan lagi!''
Barru 1998
Oase : Republika Online, edisi : 03 Oktober резрепрепреп
AUBADE BURUNG-BURUNG
Oleh :
Badarudin Amir
pesona apakah yang menyebabkan burung-burung kecil itu bernyanyi riang gembira setiap pagi bahagianya membangunkan tidur bunga
hingga kelopak-kelopak mekar sebelum matahari sempurna bersinar
pesona apakah yang menyebabkan burung-burung kecil itu melantunkan siulnya
padahal udara di luar sangat dinginnya
lihatlah betapa lincah
mereka menari dari dahan ke ranting
lalu melompat ke batu-batu
menjalin percintaan dengan Sang Waktu
pesona apakah yang menyebabkan burung-burung kecil itu
bernyanyi setiap waktu
dan terus bernyanyi seperti semuanya abadi
Ah, cemburuku mengawetkan cinta bagi hidup dengan puisi !
Barru, 1998
Oase : Republika Online, edisi : 03 Oktober 1999
KELAHIRAN PENYAIR
Oleh :
Badarudin Amir
tak ada seorang ibu yang bisa melahirkan seorang penyair
tetapi ia lahir setelah erangan terakhir seorang ibu
kemudian menjadi kanak sebentar
lalu remaja
lalu dewasa
semuanya berjalan sangat biasa menjadi penyair
setelah kehidupan melahirkannya lagi
ia sayang pada kehidupan
seperti sayang ia pada ibu yang melahirkannya dahulu
Barru, 1998
Oase : Republika Online, edisi : 03 Oktober 1999
KUKENAL MIMPIMU
Oleh :
Badarudin Amir
Kukenal mimpimu:
adalah burung-burung cahaya
beterbangan senja hari pulang dari kembaranya
di balik cakrawala yang jauh
namun tak membawa kabar apa-apa tentang dirimu
Kukenal mimpimu:
adalah awan yang berarak di senja hari
yang kau lukis di atas kanvas kuning dan cat merah hati
hingga menjelma jadi panorama senja padang kerbala
Kukenal mimpimu:
adalah pohon-pohon purba yang kau tanam di pandang tandus
kanam sendiri
menciptakan sunyi dan keasingan
jadi sahabatnya adalah doa-doa malam yang tak sempurna aksaranya
tak sanggup mencapai gerbang langit
tapi kutahu akan sampai kepada-Nya.
Barru 1995
Oase : Republika Online, edisi : 03 Oktober 1999
KENANGAN KEPADA LI PO
Oleh :
Badarudin Amir
ingin kulihat Li Po mabuk sekali lagi
melipat-lipat abad dalam kenangan dan sajak-sajaknya
ingin kulihat ia memuja rembulan di pintu gapura
dengan nyanyian yang menjuntai awan di atasnya
ingin kudengar lagi desah nafasnya
yang meleguh menjelma
dari untaian bait-bait haiku
Barru 1998
Oase : Republika Online, edisi : 03 Oktober 1999
MEMBACA LAUTMU
Oleh :
Badarudin Amir
berdiri membaca hamparan biru laut-Mu
kulihat ayat-ayat As-Sajdah di hadapanku
sujudku tak henti-henti
seperti sujud para nabi
kubaca ikan-ikan berkejaran di terumbu karang
kuhayati makna sebuah kehidupan yang garang
kubaca kerang dan umang-umang bertaburan
kuhayati makna gerak dan keterbatasan
kubaca gelombang arus air yang lancar mengalir
kuhayati roda kehidupan yang terus bergulir
kubaca buih ombak burung camar yang terbang rendah
kusimak pesona kehidupan laut yang mahaindah
berdiri memandang hamparan biru laut-Mu
diam-diam kubayangkan kemahasempurnaan wajah-Mu
Barru 1998
Oase : Republika Online, edisi : 03 Oktober 1999
NINA BOBO BAGI MADAME SRIE
Oleh :
Badarudin Amir
masuklah ke dalam negeri batinku, madame srie
di sana akan kutunjukkan sebuah rumah cinta tak berpintu,
tak berjendela,
yang kubangun dari puing-puing masa laluku yang sederhana
jadilah penghuni setia,
karena telah lama rumah itu tak ada yang punya. malam hari jika kau mengantuk,
tidurlah nyenyak,
akan kusenandungkan lagu cinta anak bugis ''iyabe lale'' untukmu selamanya.
tapi jangan biarkan air mata membasahi tilam dan seprai
yang kusulam dari benang kasih itu
pejamkan matamu pelan-pelan
dan lupakan masa lalumu yang gerhana,
agar dapat bermimpi jadi sang putri
dan sepatu kaca yang sebelah masih kusimpan dalam hatiku.
usaplah wajahmu dengan sapu tangan yang kuberikan itu,
karena kulihat masih ada sisa keletihan
sehabis mengurai seluruh riwayatmu yang panjang itu kepadaku
di sudut kamar biarkan aku menjaga
sambil melihat senyummu yang aneh mekar dalam mimpi,
sedetik sebelum pagi datang mengubah segala cerita.
Barru 1998
Oase : Republika Online, edisi : 03 Oktober 1999
SEBUAH HADIAH
Oleh :
Badarudin Amir
Kudengar ada yang memanggil-manggil namaku waktu berdiri di simpang jalan
menatap cakrawala tapi entah siapa
karena galau angin mengaburkan suara
seperti ingin menyebut sesuatu yang harus kusimpan sebagai rahasia
waktu angin reda kulihat ia melambai mengajakku ke sana
tergesa ia menyeberang cakrawala lalu menghilang di baliknya
akupun terpacak ke sana
merenungi tanda-tanda yang menunjuk arah ke entah
tapi bumi berputar tidak pada porosnya
maka aku terpaksa membalik tanda-tanda
semuanya kini menunjuk arah ke sorga
dalam mimpi aku melihat orang yang sama jenggot
dan jubahnya masih yang kemarin juga
kali ini ia datang
membawa bulan dan matahari yang kemarin gerhana
katanya sebagai hadiah
tapi kutolak
lantaran rumahku tak kuasa menampungnya
lagi pula sebagai apa aku harus menerimanya
Barru, 1998
Oase : Republika Online, edisi : 03 Oktober 1999
Sajak-Sajak Basuki Gunawan
Basuki Gunawan
tidak terang bagi kawan-kawannya
mengapa Rusli memutuskan
tali yang mengikat
bahagia
kurnia dewa-dewa
buat teman bersenda dan
menyelam ke dalam lengang antara
sangsi dan harapan
rumah tua
di desa Kranji bercerita
rusli disana menimang bayi
dan bernyanyi
bahwa hidup bukan sunyi
jika tak menyusur tepi
mencari titi
kebahagia yang
melolong di seberang mati
apakah rusli
meminta diri membiarkan
dada dikoyak baja
agar padi
muaskan dahaga dengan
darahnya ?
angin malam
mendesau resah membawa
kisah tentang rusli
terbaring di tengah padang
berkamit pamitan dari
satuannya dan berbisik
angsa undan
kan melayang turun
angin akan mengumumkan
perkawinan burung dan bulan
lama sudah
rusli tak kembali
alang-alang tumbuh di dada
anak kampung menginjak kepala
dan tambah tak terang bagi
kawan-kawannya
mengapa rusli memutuskan tali
yang mengikat kebahagiaanya
Konfrontasi,
No. 8
Juli - Agustus 1955
Sajak-Sajak Abdul Hadi W. M.
Oleh :
Abdul Hadi WM
Barat dan Timur adalah guruku Muslim, Hindu, Kristen, Buddha, Pengikut Zen dan Tao Semua adalah guruku Kupelajari dari semua orang saleh dan pemberani Rahasia cinta, rahasia bara menjadi api menyala Dan tikar sembahyang sebagai pelana menuju arasy-Nya Ya, semua adalah guruku Ibrahim, Musa, Daud, Lao Tze Buddha, Zarathustra, Socrates, Isa Almasih Serta Muhammad Rasulullah Tapi hanya di masjid aku berkhidmat Walau jejak-Nya Kujumpai di mana-mana.
Pembawa Matahari
Sajak-sajak karya Abdul Hadi WM (1981-1992)
Republika Online edisi : 05 Dec 1999
DALAM PASANG
Oleh :
Abdul Hadi WM
Dan pasang apalagikah yang akan mengenyahkan kita, kegaduhan apa lagi? Sekarat dan terbakar sudah kita oleh tahun-tahun penuh pertikaian, ketakutan dan perang saudara Terpelanting dari kebuntuan yang satu ke kebuntuan lainnya
Tapi tetap saja kita membisu atau berserakan Menunggu ketakpastian
Telah mereka hancurkan rumah harapan kita Telah mereka campakkan jendela keluh dan ratap kita Hingga tak ada yang mesti kuceritakan padamu lagi tentang laut itu di sana, yang naik dan menarik ketenteraman ke tepi
Kecuali serpih matahari dalam genggam kesia-siaan ini yang bisa menghanguskan kota ini lagi - Raja-raja dan kediaman mereka yang bertangan besi Kecuali segala bual dan pidato kumal yang berapi-api Antara kepedihan bila kesengsaraan dan lapar tak tertahankan lagi
Kita adalah penduduk negeri yang penuh kesempatan dan mimpi Tapi tak pernah lagi punya kesempatan dan mimpi
Kita adalah penduduk negeri yang penuh pemimpin Tapi tak seorang pun kita temukan dapat memimpin Kita....
Pembawa Matahari
Sajak-sajak karya Abdul Hadi WM (1981-1992)
Republika Online edisi : 05 Dec 1999
DO’A UNTUK INDONESIA
Oleh :
Abdul Hadi WM
Tidakkah sakal, negeriku ? Muram dan liar
Negeri ombak
Laut yang diacuhkan musafir
karena tak tahu kapan badai keluar dari eraman
Negeri batu karang yang permai, kapal-kapal menjauhkan diri
Negeri burung-burung gagak
Yang bertelur dan bersarang di muara sungai
Unggas-unggas sebagai datang dan pergi
Tapi entah untuk apa
Nelayan-nelayan tak tahu
Aku impikan sebuah tambang laogam
Langit di atasnya menyemburkan asap
Dan menciptakan awan yang jenaka
Bagai di badut dalam sandiwara
Dengan cangklong besar dan ocehan
Batuk-batuk keras
Seorang wartawan bisa berkata : Indonesia
Adalahberita-berita yang ditulis
Dalam bahasa yang kacau
Dalam huruf-huruf yang coklat muda
Dan undur dari bacaan mata
Di manakah ia kausimpan dalam dokumntasi dunia ?
Kincir-kincir angin itu
Seperti sayap-sayap merpati yang penyap
Dan menyebarkan lelap ke mana-mana
Sebagai pupuk bagi udaranya
Lihat sungai-sungainya, hutan-hutannya dan sawah-sawahnya
Ratusan gerobag melintasi jembatan yang belum selesai kaubikin
Kota-kotanya bertempat di sudut belakang peta dunia
Negeri ular sawah
Negeri ilalang-ilalang liar yang memang dibiarkan tumbuh subur
Tumpukan jerami basah
Minyak tanahnya disimpan dalamkayu-kakyu api bertumpuk
Dan bisa kau jadikan itu sebagai api unggun
Untuk persta-pesta barbar
Indonesia adalah buku yang sedang dikarang
Untuk tidak dibaca dan untuk tidak diterbitkan
Di kantor penerimaan tenaga kerja
Orang-orang sebagai deretan gerbong kereta
Yang mengepulakan asap dan debu dari kaki dan keningnya
Dan mulutnya ternganga
Tatkala bencana mendamprat perutnya
Berapa hutangmu di bank ? Di kantor penenaman modal asing ?
Di dekat jembatantua
malaikat-malaikat yang celaka
Melagu panjang
Dan lagunya tidak berarti apa-apa
Dan akan pergi ke mana hewan-hewan malam yangterbang jauh
Akan menjenguk gua mana, akan berteduh di rimba raya mana ?
Ratusan gagak berisik menuju kota
Menjalin keribuan di alun-alun, di tiap tikungan jalan
Puluhan orang bergembira
Di atas bayangan mayat yang berjalan
Memasuki toko dan pasar
Di mana dipamerkan barang-barang kerajinan perak
Dan emas tiruan
Indonesia adalah kantor penampungan para penganggur
yang atapnya bocor dan administrasinya kacau
Dijaga oleh anjing-anjing yang malas dan mengantuk
Indonesia adalah sebuah kamus
Yang perbendaharaan kata-katanya ruwet
Dibolak-balik, digeletakkan, diambil lagi, dibaca, dibolak-balik
Sampai mata menjadi bengkak
Kata kerja, kata seru, kata bilangan, kata benda, kata ulang,
kata sifat
Kata sambung dan kata mejemuk masuk ke dalam mimpimu
Di mana kamus itu kau pergunakan di sekolah-sekolah dunia ?
Di manakah kamus itu kaujual di pasaran dunia ?
Berisik lagi, berisiklagi :
Gerbong-gerbong kereta
membawa penumpang yang penuh sesak
dan orang-orang itu pada memandang ke sorga
Dengan matanya yang putus asa dan berkilat :
Tuhanku, mengapa kaubiarkan ular-ular yang lapar ini
Melata di bumi merusaki hutan-hutan
Dan kebun-kebunmu yang indah permai
Mengapa kaubiarkan mereka ……….
Negeri ombak
Badai mengeram di teluk
Unggas-unggas bagai datang dan pergi
Tapi entah untuk apa
Nelayan-nelayan tak tahu
1971
Anak Laut Anak Angin
Kumpulan Puisi
Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air
KEMBALI TAK ADA SAHUTAN DI SANA
Oleh :
Abdul Hadi WM
Kembali tak ada sahutan di sana Ruang itu bisu sejak lama dan kami gedor terus pintu-pintunya Hingga runtuh dan berderak menimpa tahun-tahun penuh kebohongan dan teror yang tak henti-hentinya
Hingga kami tak bisa tinggal lagi di sana memerah keputusasaan dan cuaca
Demikian kami tinggalkan janji-janji gemerlap itu dan mulai bercerai-berai Lari dari kehancuran yang satu ke kehancuran lainnya Bertikai memperebutkan yang tak pernah pasti dan ada Dari generasi ke generasi
Menenggelamkan rumah sendiri ribut tak henti-henti
Hingga kautanyakan lagi padaku Penduduk negeri damai macam apa kami ini raja-raja datang dan pergi seperti sambaran kilat dan api Dan kami bangun kota kami dari beribu mati. Tinggi gedung-gedungnya di atas jurang dan tumpukan belulang Dan yang takut mendirikan menara sendiri membusuk bersama sepi
Demikian kami tinggalkan janji-janji gemerlap itu dan matahari 'kan lama terbit lagi
Pembawa Matahari
Sajak-sajak karya Abdul Hadi WM (1981-1992)
Republika Online edisi : 05 Dec 1999
KETIKA MASIH BOCAH
Oleh :
Abdul Hadi WM
Ketika masih bocah, rumahku di tepi laut Bila pagi pulang dari perjalanan jauhnya Menghalau malam dan bayang-bayangnya, setiap kali Kulihat matahari menghamburkan sinarnya Seraya menertawakan gelombang Yang hilir mudik di antara kekosongan
Sebab itu aku selalu riang Bermendung atau berawan, udara tetap terang Setiap butir pasir buku pelajaran bagiku Kusaksikan semesta di dalam Dan keluasan mendekapku seperti seorang ibu
Batang kayu untuk perahu masih lembut tapi kuat Kuhadapkan senantiasa jendelaku ke wajah kebebasan Aku tak tahu mengapa aku tak takut pada bahaya Duri dan kepedihan kukenal Melalui kakiku sendiri yang telanjang
Arus begitu akrab denganku Selalu ada tempat bernaung jika udara panas Dan angin bertiup kencang Tak banyak yang mesti dicemaskan Oleh hati yang selalu terjaga Pulau begitu luas dan jalan lebar Seperti kepercayaan Dan kukenal tangan pengasih Tuhan Seperti kukenal getaran yang bangkit Di hatiku sendiri
Pembawa Matahari
Sajak-sajak karya Abdul Hadi WM (1981-1992)
Republika Online edisi : 05 Dec 1999
MIMPI
Oleh :
Abdul Hadi WM
Aneh, tiap mimpi membuka kelopak mimpi yang lain, berlapis-lapis mimpi, tiada dinding dan tirai akhir, hingga kau semakin jauh dan semakin dalam tersembunyi dalam ratusan tirai rahasia membiarkan aku asing pada wujud hampa dan wajah sendiri. Kudatangi kemudian pintu-pintu awan, nadi-nadi cahaya dan kegelapan, rimba sepi dan kejadian -- di jalan-jalannya, di gedung-gedungnya kucari sosok bayangku yang hilang dalam kegaduhan. Tetap, yang fana mengulangi kesombongan dan keangkuhannya dan berkemas pergi entah ke mana gelisah, asing memasuki rumah sendiri menjejakkan kaki, bergumul benda-benda ganjil yang tak pernah dikenal, menulis sajak, menemukan mimpi yang lain lagi berlapis-lapis mimpi, tiada dinding akhir sebelum menjumpai-Mu.
Pembawa Matahari
Sajak-sajak karya Abdul Hadi WM (1981-1992)
Republika Online edisi : 05 Dec 1999
Senin, 20 April 2009
Sajak-sajak Mardi Luhung
Kompas Minggu, 5 April 2009 | 02:47 WIB
Kamar Penganten
Sebelum aku meminum minuman itu, cangkirnya bergetar.
(Gresik, 2009)
Pintu
varian usiran
Punggung malam menyala. Menyala seperti pantat bulat
(Gresik, 2009)
Lidah Mertua
kenangan berkebun
Sebelas lidah aku tanam di tanah. Sebelas lidah belirik hijau dengan warna dasar kelabu. Sebelas lidah yang pintar meragi debar. Juga merancang angan. Dan sebelas lidah yang pernah dimiliki sebelas lelaki. Sebelas lelaki yang seabad dulu pergi
(Gresik, 2009)
Beranda
Di beranda kau mengiris dadamu. Membukanya. Dan
Hatimu itu pun tampak menggigil. Rasanya, seperti sudah
Lalu kau menyergah: “Jangan, jangan mengelak terus dariku!” sambil menunjuk-nunjukkan hatimu seperti ingin memberikan. Memberikan pada siapa? Pada aku ataukah pada impianmu sendiri? Aku pun melihatmu tak ubahnya sebagai mayat yang kecut. Mayat yang lecut. (Lalu seekor kelelawar yang lain menerobos ke dalam, menabrak-nabrak jendela.)
“Tuan, apa kau tak mengerti pintaku?” sambungmu. Dan hatimu yang telah kau letakkan itu pun bergerak-gerak. Apa di dalamnya telah ada ulatnya? Seperti ulat yang ada di dalam sekepal daging yang tak lagi segar. Sekepal daging yang
Memang, aku bukan mau mengelak. Hanya aku rasa, dalam
(Gresik, 2009)
Genesis
buat riyadi ngasiran
Aku menitipkan mataku di matamu. Sebab setiap warna yang
kau lihat, juga ingin aku lihat. Warna yang selalu berkelebat
seperti kelebat ladam kuda. Atau yang tak oleng seperti
keliatan sepeda-tinggi milik lelaki-bukit. Lelaki-bukit yang
gemar bersiul. Lelaki-bukit yang sering kau datangi ketika
memahat di tepi tebing. Sambil menyalurkan gumpilan daging
dan darah yang dipahatnya agar sampai ke laut. Agar bertemu
dengan setiap warna yang kau lihat, juga yang ingin aku lihat.
Dan di laut (di tengah setiap warna yang kau lihat, dan juga
yang ingin aku lihat itu), kau tampak berenangan. Meluncur
dan selurupan. Sambil melempar-lemparkannya
ke angkasa. Jadinya, angkasa pun dibuar warna. Seperti
buaran bentangan bianglala. Bianglala yang akan balik
mewarnai matamu. Dan matamu pun terus mewarnai apa saja
yang dilihatnya. Mewarnai dengan sesukanya. Dan mewarnai dengan cara yang berbeda.
Gunung merah, pohon biru, tawon jingga, orang hijau,
bayangan putih, gurita kuning, mata ungu, gigi coklat,
rumah bening, matahari hitam, padi kelabu, rumput nila.
“Dan apa warna-warna semacam itu tak terbalik?” Aku
bertanya padamu. Tapi kau tak menjawab. Terus saja
mewarnai dengan cara yang berbeda. Sampai kemudian, aku
merasa (dan juga melihatnya), semesta jadi berganti warna.
Berganti dalam warna-warna yang tak terduga. (Apa kita juga
mesti mengganti nama-namanya?)
Di antara semuanya, aku pun meminta balik mataku yang telah
aku titipkan di matamu. Dan saat kau akan memberikannya,
aku merasa itu bukan mataku. Sebab mata itu terlalu muskil
bagi diriku.
Dan aku menolaknya. Terus melaporkan dirimu pada
lelaki-bukit. Yang masih memahat di tepi tebing sana!
(Gresik, 2009)
Mardi Luhung
Sajak sajak Hasan Aspahani
Klinik Sakit Hati
AKU dan kamu
getah darah belum kering
Kalau ada pembezuk datang
Berseberang ranjang,
Lalu,
Di klinik tak bersubsidi ini
Perawat tua,
Setiap malam, kita bertaruh:
Kau bilang,
Aku bilang, tidak,
Permohonan
KECUPKAN saja lagi pada pedih lidahku
agar tak sesaat aku sesati sepi mimpi,
Ruang-ruang Kuliah Kampus Lama
AKU sering tertidur di deretan kursi belakang.
Dan sekali waktu aku pernah bermimpi di tidurku
Ah, Engkau! Padahal aku masih ingin tahu cara
Hasan Aspahani
Suatu Hari di Graha Widya Wisuda
PADANG mahsyar kami kelak pasti tak begini, kan? Tak ada
DAN nama-nama kami dipanggil juga, seorang per seorang,
“Berapa lembar Engkau bolehkan kami memfotokopi ijazah?
Sajak sajak Esha Tegar Putra
Kompas, Minggu, 12 April 2009 | 02:57 WIB
Seretan Suara
suara siapakah yang menyeretmu hingga tergelepar di tepian pesisir
dengungnya tak seperti bunyi lebah, gaungnya tak seperti desiran angin
yang beradu kian-kemari di punggung lembah. suara siapakah
yang telah menelantarkan tubuhmu hingga tak sanggup lagi merapal
isyarat kerang pecah, tak sanggup membau amisnya lendir ikan
dan seperti menemu lubang dalam, kau tak sanggup menyuarakan
sakit pada badan yang diregang oleh jarak. di tepian pesisir tanganmu
digelipatkan, dan di lain jarak (mungkin di tengah laut) kakimu
diapungkan. seakan dijadikan umpan bagi ikan-ikan bergigi tajam
suara siapakah itu, yang menghelamu jadi makhluk pendiam yang
tak sanggup mengusap jejak pasir yang melekat di kening beningmu
Kandangpadati, 2009
Pohon Agung
1
kuamati sebatang tubuhmu
seperti mengamati sebatang pohon agung
di hari yang mendung
bola matamu kelihatan cekung
seakan menenung dan menghisapku
ke dalam tempurung yang mengapung
rambut yang terjalin dan berpilin
membayangkanku akan sumbulan akar
sehabis menusuk bebatuan lapuk dengan garangnya
dan di rengkah bibirmu itu
kayu-kayu belah di kemarau yang tak sudah
kemarau yang tak memberi pertukaran pada warna sungai
punggungmu entah berwarna apa
terlihat belang-belang dengan serat menebal
seperti bekas batang terpanggang
2
tubuhmu yang sebatang pohon agung
dengan buah lebat yang begitu nikmat dulunya
sering kali aku salah duga memaknai itu. ingatanku tak cukup kuat
menerjemahkan isyarat yang kau buat di kali kesekian hujan merambat
di suatu ketika aku hanya bisa berharap
tubuhmu yang sebatang pohon agung
dijadikan tempat bergelantung. dan akan melambungkan
keinginan beburung; mengarung langit lapang yang kini murung
cuma di kerisik daun jatuh
(barangkali itu tangismu turun) dapat kusaksikan
persetubuhan nikmatmu dengan badan angin. semacam
permainan, dan hanya lenguh burukmu yang bisa kutangkap
3
aku ingin mendekat dengan penuh harap
lalu mendekap tubuhmu yang sebatang pohon agung
sembari merapal doa-doa lama yang temurun diajarkan para tetua
agar senantiasa kau bisa memahami kesakitanku, kesakitan penebang
pohon rimba—sesekali aku merupa penggetah burung
siasat apakah yang bisa merubuhkanmu
sebatang pohon agung dalam mendung
aku begitu takjub pada tangkai dan surai lebatmu
yang mengucurkan getah mentah. harapku berjaga di antara patahan
ranting, di antara runtuhan lapuk dan terbangan gabukmu
4
agar di hari yang mendung
ketuban awan segera pecah dan tempias air dapat
berburu di kedudukan tanah
hingga tubuhmu, oh, yang sebatang pohon agung
menjadi pertanda dimulainya musim berpinak
bagi sepasukan semak
Kandangpadati, 2009
Esha Tegar Putra adalah mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalas, Padang.
Sajak-sajak Ags Arya Dipayana
Kompas, Minggu, 19 April 2009 | 02:42 WIB
Sambal Seruit, di Sore Berhujan
: Iswadi
Sekiranya tujuh orang teman bertandang di suatu sore
berhujan. Beberapa ekor ikan yang kau pancing di sungai
sewaktu kau kecil dulu – baung, belida atau layis, akan sangat
membantu: melahirkan tawa, canda, mungkin satu puisi.
Selayaknya enam orang teman mampu menyiapkan
pesta bersahaja dalam satu jam. Memotong dan menyiangi
ikan, membakarnya di atas perapian. Sementara kau memilih
siapa yang akan menjadi korban.
Sepantasnya lima orang teman memahami segala yang
diperlukan. Merajang tempe, memotong-motong sayur lalapan,
mengiris mangga – jika tempoyak tak ada. Juga memanggang
terungnya. Senyum dikulum, hati berdebar, bukan hal besar.
Sebaiknya tak lebih dari empat orang teman tahu rahasia sambal itu.
Terasi udang, garam dan gula pasir sekedarnya. Rampai juga.
Jumlah cabe merah itu menentukan jalannya upacara makan.
Rasa pedas, air mata dan gelak tawa tanpa rasa berdosa.
Semestinya tiga orang teman menggoreng telur ceplok, ikan asin,
menanak nasi dan menyiapkan arena pesta. Sementara kau
tenggelam dalam tawa tertahan, dalam mimpi perihal
bagaimana persahabatan harus dinikmati.
Seharusnya dua orang teman pergi membeli serbat dan jus kwini,
minuman sedap sehabis makan-makan. Kau bayangkan menghirup
kembali kenangan, menyimak kembali catatan tercecer seraya
melanjutkan percakapan.
Setidaknya dapat kalian seruit satu orang teman, kalau saja tidak kau
lupakan Sayur Asam itu. Makanan penutup yang akan meredakan
rasa kesal itu. Bukan yang terpenting, namun tanpanya akan
batal seluruh rencana. Sayangnya
Menu Rumah Makan Seafood
: Isbedy
#1
Gurame Asam Manis. Bersihkan ikan dan buang isi perutnya.
Lumuri dengan campuran tepung kanji dan garam. Goreng dalam
minyak sepanas hatimu yang marah itu. Angkat bila matang.
Siapkan saus: matangkan tomat dalam rindu yang mendidih,
Lumatkan dan saring. Ampasnya tak berguna.
Panaskan margarine di atas wajan, tumis irisan bawang merah,
bawang putih, cabe merah dan jahe sampai kau dapati
keharuman yang menerbitkan haru. Lalu masukkan lokio dan
air tomat. Masukkan gula, cuka, tuangkan cairan tepung kanji.
Angkat setelah mengental.
Bubuhkan atasnya beberapa ujaran yang kau pungut dari
puisimu. Tuangkan ke atas gurame goreng. Lalu ingatlah
kembali pertemuan-pertemuan itu. Jika kau mau, tambahkan
beberapa kerat dendam. Bersantaplah sepuasmu. Tapi jangan
berharap kau nikmati kearifan itu.
#2
Cumi Goreng Tepung. Bersihkan kulit cumi dan potong-potong
Hingga terbentuk gelang-gelang kecil, sebesar igauan. Masukkan
ke dalam tepung terigu, yang telah kau bubuhi merica dan garam.
Celupkan ke dalam kocokan telur, sebelum kau gulingkan ke atas
tepung roti. Jangan kenangkan hari-hari penuh sangsi itu.
Sepuluh menit berikut adalah menunggu, setelah kau satukan
mayonnaise dan saus tomat itu. Kemudian yang kau perlukan
adalah minyak panas di atas wajan, lalu goreng cumi hingga
matang. Tapi setiap orang punya pendapat berbeda dalam
ihwal kematangan.
Meski demikian, tiriskan sesudahnya. Kau pun bisa segera
mencicipinya, sambil sekilas menyentuhkannya ke saus
yang mampu membawaku dalam tamasya ke negeri-negeri
dongeng itu. Kau tentu boleh menghabiskannya, tapi berhentilah
bergumam tentang Kepiting Saus Tiram itu.
Menu Rumah Makan Seafood
: Inggit
#1
Makan malam belum dimulai. Di atas meja
hanya piring-piring, masih sepi dari isi.
Tapi minyak goreng yang meletik-letik di atas perapian
menggoda irisan bawang merah dan bawang putih
untuk segera matang di dalamnya, dan melepas aroma
yang memang mereka siapkan, seperti umpan.
Kau amati udara yang serta-merta sibuk
menyergap dan membagikannya kepada ruang-ruang
yang tak sabar menunggu sejak semula. Sementara cengkih,
biji pala, pekak dan kapulaga bersipandang. Cabai giling
dan bumbu gulai berjuang untung tetap bergeming.
Ingin percaya, semua punya gilirannya.
Telah kau haluskan jahe, kunyit, lengkuas. Sebagaimana
bawang merah dan bawang putih pula – yang seperti
katamu, menuntut keterlibatan lebih dari lainnya. Lalu
sedikit garam, tentunya. Lapar yang duduk mencangkung
di atas kursi gelisah oleh gurauan jam dinding di
ruang makan itu, “Tunggu sampai besok pagi. Kalau jadi…”
#2
“Satu kilogram daging kambing atau sapi dibutuhkan dalam
perjamuan ini,” begitu katamu. Kau pun menyulapnya
menjadi potongan-potongan sebelum memasukkannya
ke dalam wajan. Mengaduknya dalam tumisan hingga
matang kecoklatan. Kau tuangi air secukup yang kau taksir.
Sejak sore telah kau parut kelapa, telah kau peras
berulang-ulang agar kau dapatkan santan yang kau
harapkan. Warna putihnya yang kental selalu
memuaskanmu. “Ini bukan perkara yang seketika menjadi.
Sudah harus sejak lama diawali.” Lalu kau duduk
di sudut dapur, menghitung waktu.
Kau tutup wajan dan mengecilkan api. Menuang santan
sewaktu air semakin tiris. Di meja makan masih
piring-piring yang sama. Tapi semerbak Gulai Balak
telah sampai. Lapar itu semakin tak sabar, tapi belajar
bersikap bijak. “Harapan adalah kenyataan yang dalam
perjalanan. Ia memang memabukkan.”
#3
Alangkah rumitnya kelezatan. Mula-mula ia berujud apa pun
dan berasal dari mana pun. Merica, lada, dan sederet nama
lainnya. Lalu sebuah upaya menyatukan, mengulek, menumbuk,
mengiris dan sebutan yang berbeda. Tapi tanpa api, segalanya
tidak akan sampai menjelma arti. Segalanya harus puas
menjadi sekedar rencana.
Di pinggan tersaji masakan dengan kuah kuning kemerahan.
Kepulan uapnya menebar harum yang nyata disiapkan
penuh perhitungan, cermat dan seksama. Rasanya telah
mencapai lidah, bahkan sebelum mencicipinya. Boleh jadi,
inilah malam di Tanjungkarang yang boleh didamba. “Apakah
kau masih lapar yang sama?” tanyamu.
Lapar yang agak terlalu itu tersenyum. Malu-malu.
Memilih untuk tetap membisu. Melirik penunjuk waktu,
mengira bahwa ia berhasil mengatasinya. Kau pun
meletakkan sewadah nasi putih, mengangsurkan segelas
air putih. “Malam masih akan panjang. Kusiapkan sajian
untuk delapan orang. Nikmatilah. Sendirian…”
Ags Arya Dipayana