Kamis, 26 Maret 2009

Sajak Sajak Sunlie Thomas Alexander

Sajak Sajak Sunlie Thomas Alexander

Kompas, Minggu, 1 Maret 2009 | 01:39 WIB


Belinyu

carilah pada dahiku yang kau lukai,

kerinduan para leluhur berbaju belacu

yang tak temukan jalan pulang

ke guci guci abu dan aroma gaharu

hingga bersilang bayangan, berbelit silsilah

pada batang batang pohon dan bebatu,

gubuk gubuk miring dan bagan di laut jemu

menjelma sebelah kaos kaki

usang dan bau

sebagai anak yatim yang terjebak

di palang pintu, aku mengadu

pada peruntungan mata dadu;

oh, kian berlumut batu batu!

kulihat mata arwah waktu

yang membara di tepi teluk kelabu,

sayu terbuai merdu dendang melayu

sampai berkali dilukai lagi

kenangan kanakku yang lugu

merah darah ibu kelewat pekat

menyusuri nadiku,

mengental di dahi (oh, di hati!)

serupa gelombang laut

yang mengantarkan sesajen basi

ke meja meja pemujaanmu

maka kaos kaki usang kukantong di saku

setelah sia sia lekatkan nama di guci abu

tapi kau terus mengintai warna mataku

dan menjarah doa keluh

di sepanjang ingatanku

hingga pada tiap ngungun kepulangan

mesti kubangun kerinduan yang tabu

di lengang jalanmu

Bangka-Yogyakarta, 2008

Sunlie Thomas Alexander

Elegi Kuli Tambang

liu ngie

aku tak sedang mencatat

warna ajalmu, karena

tak pernah tiba waktu ruwat

untuk mataku

yang terhujam mata pacul

di parit parit tambang

selokan selokan tergarit

seperti masa depan yang kau nujum

dan menjelma nasib buruk bagi pepohonan

ah, lihatlah tanganku yang tersayat

meraba cerita kelam pelayaran

dalam perih tubuhku, di mana jejak

darahmu yang mengering

jadi bentangan peta baru

tak hanya pasir timah

yang bocor dari pecah papan sakan

tapi juga doa dari hatimu yang rawan,

masih menetes di tiap pendulangan

hingga pohon pohon yang hilang

berganti tiang gantungan!

aku sedang tak melawat kematianmu…

walau dari biji matamu yang menyala

pada luka mataku, terus terkenang

gemuruh parit dan kabar pemberontakan

karena begitulah riwayatmu

yang diabaikan takdir;

tak pernah berhenti

mengayak pasir nasibku

di anyir penambangan yang

menjelma kampung halaman

Belinyu-Yogyakarta, 2008

Sakan: talang panjang dari papan untuk mengalirkan pasir timah ke dulang


Sunlie Thomas Alexander lahir di Belinyu, Pulau Bangka, 7 Juni 1977. Belajar Seni Rupa di Institut Seni Indonesia dan Teologi-Filsafat di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta; sembari bergiat di Komunitas Rumahlebah dan Komunitas Ladang.

Sajak Sajak Bernard SY Batubara

Sajak Sajak Bernard SY Batubara

Kompas, Minggu, 1 Maret 2009 | 01:39 WIB

Kakiku, Kaki Puisi


kakiku, kaki kembara

kakiku waktu yang baka

puisi di ujung duri, jariku merindu luka

(2008)


Solilokui Puisi

benarkah tak ada halaman kosong bagi puisi yang ingin ditulis dengan rasa gembira?

apakah puisi yang lahir dari jari yang luka saja yang bisa diterima?

lalu bagaimana dengan puisi yang lahir dari jari yang luka tapi ditulis dengan rasa gembira?

apa pula yang terjadi dengan puisi gembira yang lahir dari jiwa yang luka?

bagaimana menilai puisi itu puisi luka atau puisi gembira?

yakinkah seseorang, ia sedang benar-benar terluka saat menulis puisi agar puisi ia diterima?

siapa yang pantas menerima puisi?

siapa yang pantas diterima puisi?

(2008)


Mol

rendah, rendahkan o belahan jari, pagi

sudah tak tahan bermimpi, embun, o

biarkan dia yang melanjutkan nada

berikutnya, sebab bunyi pada waktu ini

sudah tak sama, bapa ada

di surga, kenapa tak kita juga?

rendah, o rendahkan lagi bunyi ini, di

beranda rumah sepasang kursi, hai sangkar

burung yang telah ditinggal pergi, biarkan,

biarkan mereka yang melanjutkan mencari,

sebab luka pada waktu ini sudah tak lagi,

kenapa tak kita Mati?

(2009)


Kres

waktu telah memainkan luka, hingga ke nada

yang lebih tinggi, dawai menyimpan mimpi,

denting menanam rindu entah di petik yang

mana, ah, langit telah menyala..

suara tak lagi, ada bisik yang lebih

lengking, napas begitu kering, apa yang

bunyi terdengar begitu api, di sini

jemari membakar, ah, teriak telah berkobar!

(2009)


Bar

betapa kita hanyalah tubuh yang runtuh, o ruang

yang mengarung nada-nada, tanda-tanda, o

duka yang terselip di setiap jeda, o tuah

yang mengalir di belahan lagu, romansa

bunyi masa lalu, aroma sedap malam dari laut

mati dalam simfonimu membawa maut, o jemari

yang lihai melantun luka, menatah luka,

menyusun luka, o tubuh yang runtuh,

betapa kita hanya ruang yang rubuh, ruang yang rubuh..

(2009)


Fret

ini, gurat jariku di lehermu, begitu panjang

dari ujung yang lebar hingga pangkal

yang sempit, berbekas, o, sekali lagi

kusentuh ya, maaf, lagu ini belum juga

selesai, o, petak nada yang serak, sampaikan

pesan paling lengking ke gendang telinga

beliau, biar dia mendengarnya sebagai

desing peluru, jangan menikung, petak

nada yang serak, o, berikan aku satu-dua

bunyi yang paling pekik, sampaikan pula

pada beliau, biar dia mendengarnya sebagai

jerit ibu

(2009)


Bernard SY Batubara lahir di Pontianak, Kalimantan Barat, 9 Juli 1989. Kuliah di Jurusan Teknik Informatika, Universitas Islam Indonesia. Bergiat sebagai staf redaksi di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Profesi. Sajak-sajaknya dimuat di sejumlah situs internet sastra.

Sajak-sajak Nirwan Dewanto

Sajak-sajak Nirwan Dewanto

Kompas, Minggu, 22 Februari 2009 | 01:24 WIB

Roti

—untuk Gregorius Sidharta Soegijo

Kami duduk bertiga belas: meja ini sangat panjang, panggung ini terlalu lapang. Aku dan ia ibarat dua bintang jauh-berjauhan, dua kerdip yang berupaya bertukar getar. Ia berada di ujung sana, seakan di puncak semenanjung: wajahnya tertutup gelap, gelap yang hampir sempurna. Tapi ia seperti tumbuh mendekat ke setiap kami. Sungguh, kami takut jika wajah kami menulari wajahnya, tapi kami bahagia mencium bau tubuhnya di antara rasa lapar kami. Aku tahu ia mengenali kami satu demi satu; sedangkan kami serupa murid yang, setengah-dungu setengah-angkuh, hanya bisa menebak nama satu sama lain, dan saling mencurigai siapa di antara kami akan berkhianat lebih dulu.

Ia memandang ke segala penjuru, ke wajah kami, juga ke balik tengkuk kami, ke arah kapal-kapal yang datang dan pergi nun di bawah sana. Sedangkan kami gementar diam-diam, takut melepaskan diri dari wujudnya. Jadilah aku suka membayangkan satu atau beberapa di antara kami akan melenyapkan ia sebelum tengah malam, sebelum kami benar-benar mabuk dan saling menggandrungi. Semoga di parak pagi kami tak lagi bertempur atau sekadar melihat pasukan kami saling membasmi: dan kami akan beroleh kembali negeri kami, kampung halaman kami, masing-masing, dengan damai.

Kudengar ia berkata di puncak lapar kami, (semoga aku tak keliru menirukannya), ”Seseorang di antara engkau akan menyerahkan aku.” Mungkin tak seorang pun menyimaknya selain aku, sebab kami mulai menyentuh tergesa-gesa piring dan cawan dengan tangan yang tetap saja mengandung tilas darah dan nanah dan getah, noda yang telah mengerak hingga ke kulit jangat. Baru saja kami mengucapkan selamat tinggal kepada segenap senjata dan kereta kami, agar kami lebih mahir berunding dan bersantap. Sungguh kami telah mencuci muka kami hingga berkilau-kilau, agar kami bukan lagi penyaru yang membekuk dari belakang. Lihat, kami telah bergerak begitu cepat ke gelanggang jamuan ini, menembus berlapis-lapis dinding, menyangkal bertangkup-tangkup labirin.

Tapi ia bergerak lebih lekas ketimbang kami, sebab ia tahu kami akan tiba kemari dengan wajah orang suci, sedangkan ia menggambarkan dirinya sebagai pendosa belaka. Ia mengizinkan wujudnya tersaput kabut, bahkan larut dalam kabut; ia membiarkan luka-lukanya tak terlihat (tapi sebentar lagi, sabarlah, ia akan memamerkannya sebagian—lelubang tusukan di kedua telapak tangan dan lambung kanannya). Ketika kami tiba, ia sudah menunggu di ujung paling ungu itu, sedangkan kami hanya bisa bersemayam di titik-titik merah padam ini, di mana lingkaran cahaya akan menghiasi kepala kami. Dalam lindap pohonan di taman ia berkata kepada kami, (semoga aku tak berlebihan mengulangnya untukmu), ”Malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau akan menyangkal aku tiga kali.”

Bukankah kami gagal membatasi ruang di mana kami harus saling bertatapan? Lihat, ternyata kami hanya dikitari dinding angin, dan kuping kami masih juga mengembara ke dunia sana, mencari bebisik dari segenap musuh dan sekutu kami, meski kami ingin saksama mengindahkan pepatah-petitihnya yang terakhir. Kami mendengar jerit beburung dan debur ombak ketika ia mulai menyentuh rotinya, dan gema panjang itu berkelindan dengan suaranya. Dan kami bayangkan jemarinya berkilat seperti ujung pedang namun lembut seperti tampuk daun pandan, dan roti itu seperti sebungkah daging, percayalah, seperti daging kami yang menakutkan. Tidak, kami tak akan menghadiahkan daging kami untuk siapa pun, sehingga kami yakini ia memecah-mecah roti itu dan membagikannya untuk kami semua seraya berkata, (semoga aku tak mengutipnya demi diriku sendiri), ”Ambillah, makanlah, sebab inilah tubuhku.”

Barangkali kami telah keliru: kami mengira gelanggang ini dikitari pepohon zaitun dan kurma. Kenapa pula kini kami melihat rerimbun kana, kesumba, dan kembang sepatu mengepung kami? Kenapa kami lupa apakah khazanah kami bermusim dua atau empat, ketika kami merasa telah mengikuti ia membaca kitab-kitab paling rahasia, memuliakan kaum perempuan, memakzulkan para raja dunia, atau berkhotbah di atas bukit? Sesekali bau amis dari laut naik ke meja mahabesar ini, menyadarkan kami bahwa kapal- kapal kami masih memuat senjata dan para serdadu kami di kemah-kemah sana terus menunggu isyarat kami kapan mereka harus mulai menyerang. Dengan sabar kami mengimpikan cahaya jingga-kencana fajar tumpah ke wajahnya, dan cerlang wajah itu pastilah akan memojokkan kami berdua belas ini sebagai semacam rasul yang tak mampu menyainginya sampai kapan juga.

Tiba-tiba sosok yang lama terpaku di sebelah kiriku—betapa wajah kami serupa, dan kami mengenakan jubah hijau lumut yang sama, dan kurasa kami pernah bertarung di tepi selengkung sungai atau di bawah sepucuk tiang kayu palang—berseru, ”Kitalah yang membuat ia berada di sini. Mari kita adili ia sebab ia memang bakal martir sejati. Terlalu lama kita memperebutkan ia sebagai panglima kita. Bukankah ia terlalu berani untuk dunia ini?”

(2008)

Penunggang Kuda Hitam

—untuk Ugo Untoro

Ia belum lulus dari sekolah fantasi ketika ia tiba-tiba sampai di depan rumah jagal di mana kuda-kuda bertaji mengantri untuk melihat genangan darah mereka sendiri. Setelah mencoba mengingat-ingat wajah mereka satu demi satu, ia segera lupa bahwa hari itu ia harus menempuh ujian menggambar.

Gurunya, yang biasa mengajari ia menggubah sosok lelaki penunggang kuda atau penjaga pintu kaum bendahara, entah kenapa sudah berada di sampingnya dan berkata, ”Para pengantri itu sedang berbahagia. Dan hari ini engkau sudah dewasa. Marilah,” dan segera menarik ia ke sebuah klinik, yang mirip ruang kelasnya sendiri,

di mana ia disudutkan oleh—entahlah, ia sungguh ragu siapa— bapanya sendiri, dokter jaga, komandan kompi, atau si guru, ”Berapa banyak yang engkau bunuh hari ini, anakku? Lekaslah gambarkan rupa para kekasih yang telanjur punah itu. Agar kami mampu memercayaimu.”

Maka di layar raksasa yang dibentangkan untuknya di ruang terang-benderang itu ia melukis karung tinju, sedan Impala, boneka kain bekas, satria wayang kulit, daun anturium, sepatu hak tinggi, ular Warhol, benteng batako, sepeda Raleigh, sangkar burung balam, kolam renang, penyair mata pisau, penggemar ikan asin, sepur Mutiara, sapu ijuk Yu Sri—

sampai ia terjaga oleh pukulan di perutnya, yang tersusul teriakan sekerumun umat, ”Wahai lelaki penunggang kuda, kenapa engkau hanya membawa kami berpacu dengan lautan benda belaka? Di mana kudamu, jantung hatimu, yang akan menghela kami menuju khazanah penuh hikmat kebijaksanaan dari kumpulan orang mati?”

Ia pun sadar bahwa ternyata tangannya sudah berlumur darah sejak pagi tadi, ketika ia mampu menyelamatkan hanya seekor kuda hitam, yang terpaksa disembunyikannya ke balik baju saat ia harus bergegas mengejar langkah gurunya ke arah matahari terbenam. Segera ia mendengar reringkik teramat akrab mendekat ke arahnya.

Maka dengan jemarinya belaka, hanya dengan warna darah yang mulai kusam-garing itu, ia menggoreskan seekor kuda terpantas, terpanas, terganas, kuda hitam, kuda andan, kuda Troya, kuda Kroya, kuda kepang, kuda dremolen, kuda bendi, kuda sembrani, kuda bertaji, kuda Larasati, kuda Kandinsky, atau kuda Umbu, dan ia berkata kepada kaum pemirsa yang kian dahaga itu, ”Naikilah ia, wahai pemuja keindahan. Pergilah dalam damai, sebab kau sekalian sudah terlalu lama memeramku di tangsi serdadu atau klinik psikiatri ini.”

Di lebuh menuju sekolah fantasi, di mana mereka yang merampas kudanya menghilang ke balik seribu raut rekaannya, ia mulai belajar menyimak suaranya sendiri, yang sepintas terdengar hanya seperti jerit lemah si guru ketika tenggelam di rumah jagal itu.

(2008)

Nirwan Dewanto adalah penyair dan pengesai. Buku puisinya adalah Jantung Lebah Ratu (2008). Ia kini membagi waktunya antara Jakarta dan Wisconsin, Amerika Serikat.

Sajak-sajak Soni Farid Maulana

Sajak-sajak Soni Farid Maulana

Kompas, Minggu, 15 Februari 2009 | 01:24 WIB


Sonet Si Mati

tujuh mata peri bunga ceri mengutukku

jadi ribuan serangga biru, dan kau menghilang

dalam bayangan tembang mupukembang

saat rembulan gelap di ujung kembang tanjung

sebab kau impianku yang mengguratkan pisau sepi

ke ulu jantungku. Sebab kau yang membuat langkahku

tersesat dan tersaruk di hutan lambang, arah mana

yang harus aku jelang? Langit hanya sunyi, juga segugus

bintang jatuh. Begitulah aku selalu memimpikanmu

walau kobaran api menyeruak dari bawah akar rumputan,

dari bawah lapisan tanah merah sebelum subuh tiba

dan kau bilang “ada batas, ada tepi!” Di batas

dan tepi yang itukah kau biarkan aku melata, merayap

dalam gelap, dalam kelam kabut hutan lambang?

2008

Soni Farid Maulana

Sunyi

bayang-bayang wajahmu

di alir air, mengalir ke hilir

yang tinggal cuma bulan

dalam kabut, dalam kelam

2009

Soni Farid Maulana

Kelopak Waktu

pucuk jam sedingin mentega dalam kulkas

bayang-bayang pohonan di bawah bulan sabit

mengusik kukuk burung hantu di tangkai jambu

merontokkan kelopak waktu di kalbuku

2008

Soni Farid Maulana

Hurung Layung

burung-burung menikung

di hurung layung

angin dingin

di tepi daun-daun

2007


Soni Farid Maulana lahir pada 19 Februari 1962 di Tasikmalaya, Jawa Barat. Kumpulan puisinya yang terbaru, Pemetik Bintang dan Narah, sedang dalam proses penerbitan. Ia tinggal di Bandung.

Sajak Sajak Frans Nadjira

Sajak Sajak Frans Nadjira

Kompas Minggu, 15 Februari 2009 | 01:24 WIB


Membaca Nama-nama

Berlatar marmer hitam

nama-nama dicat warna emas

Seperti topeng cahaya

bergerak dalam kegelapan.

Tanpa suara

melangkah ringan di tanah perbatasan

Menatap hampa

Debu bergayut berat di matanya.

Nama-nama membagi

kartu duka tak terbaca

Luka-luka pucat

meraba dalam gelap. Usia muda

Pohon-pohon hening

menyanyikan lagu sendu.

Semua sudah berakhir.

Rasa haus dan tetes embun

Jalan-jalan berumput

Berbercak darah dan serpihan

daging hangus

berpencaran dalam kelam malam.

Aku mencari namaku

di antara tiga ratus nama-nama bisu

Di antara topeng-topeng pelangi

di langit yang melepuh.

Pelangi di langit malam

Pelangi di ujung kelam

Menarikan tarian lebah

dan kucing jantan yang berahi.

Di sekeliling jembatan rapuh

kunang-kunang membawa

aroma hutan sehabis hujan

Terbang bergetar

menyebut nama-nama berwarna emas.

Dan mawar melangkah diam

Di deretan nama-nama itu.


Sepotong Roti

Tak ada yang bermimpi

Tak ada yang menggeser pintu

Sepotong roti tanpa bayang-bayang

Seperti air membeku

batu mengeras

Termenung di atas meja

Detak jam di kamar sunyi.

Senja kembali dari perjalanan

yang melelahkan

Daun-daun gugur di halaman

Senyap dengan sayap peraknya

Mengambang bergerak lamban

Tak ada yang melangkah dalam mimpi

Hanya sepotong roti di atas meja.

Dan diriku serta malam dingin yang lain

Datang dengan langkah berat yang diseret

“Besok anak-anak akan lahir

pejamkan matamu

Bunga-bunga embun dan kupu-kupu kabut

Menari menyanyi kemudian berlari takut

Sebuah api kecil di taman, pejamkan matamu”

Kupejamkan mataku, tampak sepotong roti

Mendaki bukit suara... Suara riuh anak-anak

Kepak sayap di langit yang merintih kesepian

Kepak sayap bintang-bintang

Kepak sayap anak-anak bermain

Ringan seperti langkah awan musim kering.

Tak ada yang bermimpi

Tak ada aku tak ada kalian

Tak ada yang menemukan atau kehilangan

Matamu melekat pada pejam

Laparmu melekat pada nyeri

Pada sepotong roti yang mengeras di meja.


Sepasang Mata di Jendela

Di kaca jendela basah

Sepasang mata dingin

Menatap ke dalam kamar

Melihatku terbaring di lantai.

Jika aku tak bangun karena tidur kekal

Basuh tubuhku dengan wangi lelap

Dan bunga-bunga yang melayang ringan

Dalam suram kamarku yang senyap.

Sepasang mata tanpa kedip

Menjadi embun kelabu musim hujan

Jemari bulan Desember yang basah

Derit jendela yang catnya terkelupas.

Ternyata dalam maut

Kita tidak menemukan siapapun.

Tak ada malaikat atau bulan

Hanya hening ngarai yang dalam

Tanpa rasa ... Tanpa sapa

Hanya nyenyak yang tak kuinginkan berakhir.

Datanglah ke pestaku, pisau-pisau

Datanglah dengan pakaian berkilatmu

Kedua tanganku akan merangkulmu

Di bawah tatapan sepasang mata di jendela.

Ayo, menari ...Ayo, menyanyi

Masuk kalian ke senyap gairahku

Ke rongga tanpa dengungku...Ayo ...Ayo

Tatap maut itu, tak hirau janji-janji manis

Atau ancaman mengerikan.

Kantong empedu yang pahit dan bernanah

Bikin aku senang ...Bikin aku bergairah

Menggoyangkan seluruh tubuhku

Dalam irama liang kuburku.


Frans Nadjira lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 3 September 1942. Bukunya yang telah terbit antara lain Jendela (1980) dan Bercakap-cakap di Bawah Guguran Daun-daun (2004).


Sajak-sajak A Muttaqin

Sajak-sajak A Muttaqin

Kompas Minggu, 8 Februari 2009 | 00:50 WIB

Mengayak Dedak

Telah kujaga rindumu, supaya kau tetap tampak baka, tampak bahagia. Musim telah berubah. Bunga berganti buah, dan aku tak ingin kau jadi sampah, seperti daun yang terayun untuk kemudian terjun, melambai lembut ke ubun.

Mari sebentar tertegun. Biarlah pohon sukun ini menjadi saksi, bahwa matahari tak akan mengembalikan tai jadi nasi.

Maka, tak guna lagi kau bersembunyi. Keluarlah dari gerumbul mahoni, dan lihatlah

betapa sayap ini telah jadi rerumbai.

Kita sama tahu,

padi dan duli telah pergi. Juga sang Sri yang suka mengirim benih mimpi setengah tahun sekali.

Semalam aku terbangun. Seperti ada yang mengucap salam dalam tidurku. Suaranya mirip suaramu: sang geluduk yang sering menyeruduk tidurku. Tapi bukan. Ternyata, sepi telah pandai menirukanmu.

Atau, kau memang telah bersekutu dengan sepi, sebagaimana kata-kata ini, yang tak juga menemu beras putihmu walau separuh lidah-lalangku telah jadi debu. Sebagaimana pasangan kekunang itu, yang tak mungkin kembali bersarang di kedua kubu mataku.

(2008)

Timbangan Tumbang

Aku mengenalmu sebagai hujan. Di kedalaman tidurku, lentik jemarimu menjelma pelangi,

melambai, rinai, seperti kerlip mata kekasih. Menjelma telaga, ketika

dahagaku tak terkira.

Menjelma serumpun embun, jika sang surya merucut dari ubun. Menjelma daun?

Tidak.

Kurasa, akan enggan hujan menjelma daun, walau butiran hujan menyimpan bibit lumut nan tambun.

Daun sering iri pada sungai, pada pelangi, pun pada bayangannya sendiri.

Sedang hujan adalah rindu murni: oh, lebih murni dari kuncup mimpi, lebih damai

timbang jamur pagi, tempat duli-duli terbagi. Juga lebih lerai daripada airmataku ini,

sebab ia penawar gemuruh seluas laut, menghitam, membubung,

dalam selubung yang lalu kausebut mendung, di mana tenung-tenung terpalung.

(2008)

Kilas Keladi

Bisa jadi

cintakulah yang tak kau mengerti

keningmu bening

terlalu bening

hingga tak kuasa aku melihatmu

kemuning oleh seranai serbuk matahari:

serbuk yang mengaduk umbiku

dari dasar mimpi

sampai

di suatu pagi tinggi

kugelindingkan kau

dari pipiku hening

seperti airmata sang dewa

atau

malah mungkin airmataku sendiri

yang menitis dari sumsum Sepi.

(2008)

Rima Rumi

Sehelai mukena terkulai di lembar sepi, seperti hati yang sedih dan memutih.

Hanya senoktah darah nan mawar dan segar tergelar

Hanya seekor kelelawar yang hinggap dengan sayup sayap terbakar, seperti terbakarnya tangan dan kaki penari perawan, yang membuncah

di subuh buta,

di sekuntum purnama yang mulai ditinggal bubar kunang-kunang sorga.

(2008)

Siput Terlembut

Berjalan dengan pelan dan basah, aku mengerti indungnya cinta. Biarkan aku merambat, menghapus sisa jejak sang pongah dengan getah purba atau mengalun ringan bersama irama bunga-bunga. Aku tak mau seperti kuda,

apalagi meniru burung onta

yang bermimpi tentang terbang, sambil menyembunyikan kepala. Aku hanya berusaha sesabar kura-kura. Menunggu basah turun ke tanah, sembari menemani biji-biji yang lelah, tak berdaya.

(2008)

Keroncong Polong

Alangkah indah menjadi buta. Di mata dalamku

hanya gemerisik bunga-bunga. Dan tak perlu

aku meniru lelaku kupu untuk sampai padamu.

Sejak dulu aku hanya ulat beku. Sejak dulu.

Semenjak langit belum biru dan tuhan memulai

segala dengan batu. Lalu, rumpun rumput batu

tumbuh di antara bunga batu. Dan kau mulai

memanggilku buah batu: buah yang tumbuh

searah mimpi dan kukumu. Begitu sederhana.

Juga tak menggugah. Hingga kau lupa, mungkin

tak sampai kira, bahwa setiap malam aku

tengadah, merapal doa. Lalu, lewat pohon yang

sederhana, aku merambat ke langit coklat tua,

mencuri satu biji yang berdegup hijau, seperti

kembaran yang selalu dipanggili jantungmu.

Namun, pas selepas itu, bunga-bunga di langit

menangis. Hingga langit yang semula coklat tua

pelan-perlahan jadi bening. Ranting, cacing, dan

segala kesuburan yang terbaring di atas sana

pun malap menatapku. Begitulah. Dan begitu

saja mereka lalu kontan menipahku. Konon,

bersamanya jatuh juga pasangan pengantin baru.

Dan aku pun terkutuk, membeku, bersama

tumbuh dan sepentil hijau yang telah kucuri itu.

(2008)

A Muttaqin lahir 11 Maret 1983. Lulusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya. Anggota Komunitas Rabo Sore, Surabaya.

Sajak Sajak M Fadjroel Rachman

Sajak-sajak M Fadjroel Rachman

Kompas, Minggu, 15 Maret 2009 | 05:22 WIB

Palestina, Ketika Rintik Hujan

rintik hujan terseok-seok menyeret kaki yang luka parah dari kota tuhan yang ditinggalkan para pemuja untuk berperang, “terlalu dinginkah dunia untuk disapa?”

lokan dan kepiting merangkak ke tenggorokan jerusalem yang sepi. bila malam datang, siapa berjanji fajar akan datang membawa sepotong tuhan dari kematian.

musa tersesat diburu firaun, menyeret kafilah tuhan yang hilang, suaranya mengaum “kenapa lelaki tua itu hanya menunggu di kornea mata anak-anak membeku mati?”

debu hitam kota gaza dan kristal garam laut merah di kusut rambut ikalmu perlahan melayang ke ranting zaitun, menunggu tangan mungilmu melambai dari pintu surga.

ah, surga yang jauh, mengapa fajar tak membawanya ke rumahmu menemani secangkir susu dan sepotong roti terakhir sebelum maut menjemputmu tergesa-gesa.

Jakarta (2009)

M FADJROEL RACHMAN

Ragusa, Suatu Senja

azan magrib tertelungkup di pecahan batuan rel kereta gambir-kota, rambut ikalnya melambai-lambai kepada senja luka yang berlari tergesa-gesa meninggalkan jakarta.

“bukankah usia kita meleleh bagai likat coklat es krim ragusa, lalu mengendap hitam dibusuk ciliwung,” ujar coklat daun angsana merebahkan kepala di lumpur ciliwung.

di tepi jaman yang pedih, nafas kita terengah menghirup oksigen jatuh dari dedaunan letih, tanpa sempat bertanya mengapa duduk sendirian di kursi rotan tua ragusa.

tangan berkerut cemas memaksa kisah cinta abadi di pasar malam gambir 1913, sementara maut mengintip, tak menegur, bersiul riang diriuh kereta tua gambir-kota.

harum garam laut jawa mengkristal di wajahmu, sabar mencuci pori-pori mendingin pucat, mengabarkan hangat cinta berkobar-kobar yang setia menunggu di balik kabut.

Jakarta (2009)


M Fadjroel Rachman adalah penulis buku puisi Dongeng untuk Poppy (2006), Sejarah Lari Tergesa (2005), dan Catatan Bawah Tanah (1986). Saat ini ia tengah menyiapkan kumpulan puisinya yang terbaru, Airmata Matahari.