Minggu, 29 Maret 2009

Sajak-Sajak Goenawan Mohamad

Sajak-Sajak Goenawan Mohamad

Koran Tempo, MInggu, 22 Februari 2009

HOLOGRAM

Dari berkas cahaya
yang mungkin tak ada,
kulihat kau:
sebuah hologram,

srimpi tak berjejak,
dari laser yang lelah
dan lantai
separuh ilusi.

Di lorong itu dinding-dinding
kuning gading,
kebun basah hijau,
dan kautaburkan biru

dari kainmu. Bangsal kraton memelukmu.
Waktu itu sore jadi sedikit dingin
karena tak putih lagi
matahari.

Aku tahu kau tak akan
menatapku. Mimpi tiga dimensi
akan cepat hilang,
juga sebaris kalimat yang kulihat

di almari yang gelap:
"Aku tari terakhir yang diberikan,
aku déjà vu
sebelum malam dari Selatan."

Aku tahu kau tak akan
menyentuhku.
Seperti pakis purba di taman itu
kau tawarkan teduh,

juga sedih. Tapi aku merasa
kaupegang tanganku,
seperti dalam kehidupan kita dahulu,
sebelum kau ingatkan

bahwa aku juga
mungkin pergi.
"Bukankah itu yang selamanya terjadi.
Aku seperti waktu, karunia itu."

2009

DI MEJA ITU

Jangan-jangan hijau teh
telah meyakinkan aku: aku melihatmu
di sebuah adegan remeh
di kafe kosong itu.

Rambutmu hitam terlepas,
dan karet gelang itu kaupasangkan
untuk kacamataku.
Dan aku pun baca huruf itu,

"Lihat, hari bisa juga jadi.
di kota yang mustahil ini."
Mungkin aku telah lama menunggumu
dan tak percaya diri. Karena

pada tiap jeda hujan,
ketika kamar dan kakilangit segaris,
yang mencinta bersembunyi
dan Maut seperti Saat: tak pernah ingin kembali.

2009
SEBENARNYA

Sebenarnya apa yang terjadi:
telah kautuliskan
sajakku dalam sajakmu
sajakmu dalam sajakku?

Atau kata-kata kita
saling selingkuh,
sejak zaman
yang tak kita tahu?

Mungkin Ritme itu pernah satu
melahirkan aku melahirkan kamu
melahirkan nasib, melahirkan apa
yang tak pernah tentu.

2008

PADA LAPTOP ITU

Di sebuah kamar yang hambar
mereka tatap laptop
yang nyaris kosong
dengan hanya satu gambar:

Sebuah desain hari
dengan sudut terpotong.
Sebatang mistar
dengan sentimeter yang samar.

Dan ketika kulit mereka
bersentuhan,
mereka arahkan kursor
ke angka jam.

Tapi yang terhapus hanya malam.
Dan mereka pun tetap diam
di kamar yang hambar
layar yang hanya sebentar.

2008

DI SETASIUN SENTRAL

Sekian ratus gram remah roti pikan
terbang dari gerbong kereta
Amsterdam. Rel lurus
dan lapar. Tak ada waktu.

Hanya 12 sinyal.
Seseorang pun pergi dengan hitam kopi
yang tumpah. Seseorang pun lekas,
seseorang lelah:

ini hari putih terakhir,
hari seorang migran,
ketika dingin jadi pelan
dan salju mungkin palsu.

2009

PADA SEBUAH PANGGUNG

Mukjizat adalah air kanal
yang bangkit
mengusung sajak yang terjebak,
tak terbaca.

Sebab sore ini, teater tak menerima kata lagi.
Tak menerima kita lagi. Hanya ada sebuah mimbar,
sepasang kursi hitam, lampu-lampu
yang ingin menjelaskan,

tapi kau tolak, "Terima kasih, terima kasih.
Sajak adalah lorong yang rentan."
Dan tiap fonem adalah liang
di mana harap tak jadi ada

Aku ingin memelukmu. Persis di pentas itu
--tapi ragu. Sajakmu pun lepas
lewat tingkap. Di luar pintu
tampak jembatan,

palang-palang logam yang memanggilnya
menyeberang, ke utara kanal...
Kubayangkan
trotoar itu kekal.

2008

15 TAHUN LAGI

15 tahun lagi ia tak akan di kamar ini.
Seperti warna biru pada gordin
yang dihisap
matahari

Tapi ia mungkin akan bisa menyisakan
merah meja
dengan bekas nikotin
pada amplop terakhir

jam yang bersembunyi
dari Tuhan
yang tak membuat
ia yakin.

Salahkah ia,
yang tak begitu percaya
pada salam, atau sekedar suara
di atap kamar itu,

kalimat pelan-pelan
yang akhirnya
hanya hujan?
Mungkin hujan?

Apa yang diharapkannya?
Tentu bukan hujan!
Ia hanya tak ingin terpisah
dari nyanyi murung

sebuah lagu Brazil,
pada cello
yang setengah serak
yang terapung-apung, sentimentil,

di luar, pada pucuk pohon
dan gerak awal
sejumlah mendung:
Sem voce, sem voce.

Mungkin ia kangen, sebenarnya,
tapi "Aku malu," katanya, pesimistis
pada telegram
yang mungkin mengetuk

dari luar itu, dari gerimis
yang berkata: 15 tahun lagi
akan ada seseorang
di kamar ini.
2008-9

Goenawan Mohamad kini giat di Komunitas Salihara, sebuah kantong kesenian di Jakarta Selatan. Buku-buku puisinya adalah, antara lain, Sajak-sajak Lengkap 1961-2001 (2001) dan Selected Poems (2004).

Puisi Puisi Isbedy Stiawan ZS

Puisi Puisi Isbedy Stiawan ZS
Jurnal Nasional, Jakarta | Minggu, 22 Feb 2009




Tentang Setangkai Bunga

ia bawakan untukmu serangkai bunga, tapi saat kau terima duri bunga itu
melukai telapak tanganmu. “Aku luka, ini darahnya,” katamu sambil menahan
perih. kau biarkan darah di tanganmu hingga mengering: warnanya tak merah tapi
kecoklatan. apakah ada darah berwarna lain? tak ada pertikaian soal
darah. seperti para pasien yang tak pernah berteriak ketika ingin membeli darah
beharga mahal, atau para pendonor akan ikhlas jika diganti uang: “bagaimana mungkin
gratis, aku perlu sate kambing dan vitamin?” kata para pendonor, setelah sepakat harga ia pun memberi darahnya.

“bahkan untuk sepetak kematian, kau harus bayar…”


05.10.2008




Tentang Kabar Rindu

aku makin mencintaimu. kau yang imut makin menggodaku saat cemberut. setiap
hari kaukabarkan rindu hingga ingin selalu temu. menulis getar waktu. mengukur
luas sepi yang dititipmu jika aku pergi. “esok bawa kembali apa yang kutitip
padamu agar tak layu,” katamu saat aku pamit pulang. kemudian bibirmu melambai,
dan hatiku jadi helai demi helai

1028




Tentang Setahun Pertemuan

setahun usia pertemuan ini, sayang, sudah berapa waktu kita lepas rindu? aku datangi
hari-hari sendirimu. kugambar pantai karena kau meminta. kutulis setiap gerak
ombak sebab rindumu pada laut. kukisahkan padamu indahnya pegunungan dan
mekarnya bakau agar kau setia datang ke tepi pantai

jika aku lupa—tapi aku tak akan pernah alpa—kau akan ingatkan dengan suara
dari mulutmu serupa gemuruh ombak. aku akan datang dan membawamu untuk
menikmati pantai: mengenang ketika pertama kali angin pantai membelai
rambutmu, pipimu, bibirmu…

“aku mau hidup layaknya anak pantai, bersamamu,” bisikmu

tapi prahara dan bencana, tak bisa ikhlas aku mengabulkan mimpimu
hidup di tepi pantai

2007-2008





Tentang Perkawinan

segudang sudah cintaku, tapi belum juga aku dipindahkan ke pelaminan. tinggal
sepi mengiris raguku.

jika setiap pertemuan tak pernah ada akhir, apakah cintaku tak akan beralamat
pada pelaminan?

kau selalu janji, aku terus-terusan menanti!


2008




Tentang Perjamuan

alasan apa aku akan melupakanmu lalu buru persinggahan lain; rumah-rumah
baru, bedeng-bedeng biru. alasan apa aku dapat meninggalkanmu, dan cari lain
paling rindu; tempat-tempat persinggahan yang haru

perjamuan demi perjamuan membuatku tak mampu melupakanmu. setiap yang
tersaji akan selalu membayang wajahmu. telah kucecap lidahmu, tubuhmu yang
daging sudah kugulai sebagai sarden, sate, sop, ataupun gule. “paling tak kusuka
rendang, jadi jangan tanya padaku cara memasaknya,” tukasmu.

lalu alasan apa aku akan meninggalkanmu? kau sudah saji mimpi-mimpiku
pada setiap perjamuan. lalu apa alasanku bisa melupakanmu?

- kau tersaji di setiap perjamuan—pagi, siang, senja, dan malam—yang
kusantap sepenuh lapar


08.10.२००८



by : Arie MP Tamba

Sajak-sajak A. Muttaqin

Puisi Puisi A. Muttaqin

Jurnal Nasional, Jakarta | Minggu, 01 Mar 2009



Sepuluh Lanturan Tentang Hutan


i
Malam adalah telur yang menetas,
dan aku ingin kau tak menetaskanku.

Begitu berwarni perangai mimpi,
sedang pagi tinggal kuning tai

dan kau tak akan kembali.
Tapi, aku tetap memimpikanmu,

keluar dari kuntum bunga dan
berkata, larilah, kejarlah…

ii
Darahku membeku.
Sepasang kakiku jadi batu.
Dan, jika ada yang terbang dari ubunku,
itulah yang menumbuhi malam-
malamku.

Kau tahu?

Duh, bagaimana aku tanya itu padamu,
sementara tak ada angin puyuh
yang sanggup menerbangkan kunang-
kunang dari matamu?

iii
Rusukku pun berbulu.
Malam bergemuruh.
dan aku ingin angan jadi ungu,
setenang subuh.

Biar kuda-kuda merah meringkik.
Biar langit yang masih punya banyak kerdip itu
memekik.

Aku tak ingin seperti kumbang
dan singgah dari kembang ke tembang.
Aku tak ingin jadi jalang dan mengerang
di padang panjang.

Sayangku, datanglah kau bagai subuh.
Beri aku pagi dan kupu-kupu

iv
Aku sebut namamu,
tapi separuh lidahku jadi batu.

Menyebut namamu dengan batu?
Ah, bukankah dengan lidah dan seluruh pun
aku hanya gagu?

v
Rambutku mengeras
dan mataku terlepas,
seperti kelereng menggelindingi sepi.

Sepinya basah. Oh,
apa mataku sedang menangis sendiri?
Seperti dulu, ketika ia sering
kupakai mencuci bajuku.

Ketika
tanganku masih bisa
rasakan air dan dingin.
Ketika
masih ada ledakan-ledakan kecil
di balik dadaku.
Ketika
kuku belum merambat
ke sekujur dagingku

vi
Kau tak usah jadi ibu dan mengutukku.
Kini, aku telah sempurna jadi batu,
lebih hening dari spinx
menghikmati sepasang mawar
yang memekari dagingmu.

Dan aku pun tak mungkin lagi menikammu,
seperti bayi ranum yang mengasah
segenap taring dan purbaku?

Tubuhmu lebih luas timbang waktu.
Dadamu lebih bebas timbang kupu-kupu.
Dan farjimu seganas giras sungai
yang menabrak dan melemparku
ke gunung,
ke kembaranku yang setia
menunggu terjun

vii
Kau tahu,
sungai dan batu tak pernah bersekutu?

Maksudku, aku tak mungkin
mencumbumu. Aku selalu gagal
mencecap getah perdumu, seperti dulu,
ketika mula belajar tidur.

Sebagaimana keinginan kembali
ke gua gaib, di mana tuhan pernah mengintip,

membisikkan tiga suku kata
yang memekarkan jantungku:

tiga suku kata yang mirip panggilanmu.

Hingga,
rusukku yang berbulu itu terbang,
layaknya kupu-kupu lugu yang hinggap
di lengkung alismu,
di kelopak matamu
yang dungu

viii
Tapi dungu bukanlah milikmu.
Kau lebih beku dari batu.
Kau lebih ungu timbang masa lalu.
Kau juga melebihi keruh ibuku.

Hingga,
aku tak bisa menemukan perutmu.
menyusup ke rahim,
atau mengalir
di arus nadimu.
Menjadi terumbu di laut darahmu,
dan bukan jadi batu yang sendiri,

di sini,
di bugil pagi yang menggigil
di bawah kuntum matahari

ix
Ini tentu sudah ngelantur, bukan?
tapi tidak. Tidak, Sayangku.
Prihal cinta memang sering tampak ganjil.
Dan mungkin, 1001 pangkur,
1001 mazmur tak akan manjur bertutur.


Sebelum kita benar tidur,
baiklah, kulengkapkan cerita ini:

Kamu tahu, apa yang diminta Hawa
ketika Adam mulai tergoda?

Waktu itu, sorga serupa bunga raksasa
dengan bulu dan sepasang-pasang
penuh warna.

Dia meminta itu. Maksudku,
lubang itu. Dan seperti Adam yang merajuk
ceruk hitam, aku terkenang
lubang batang kayu yang
persis milikmu.
Milikmu.
Dan milikmu.

Di lubang itu, bersembunyi
ular bermahkota mawar yang membuat
jantung keduanya jadi nanar.
Hingga tanpa sadar
mereka bareng berujar,

ajari kami, ajari kami terbang
menuju hulu dan kupu-kupu…

Dan mereka pun diajar.
Mula-mula mereka dianjur menjuluri tidur.
Dan tidur mereka jadi ular yang saling membelit,
seperti sepasang kutuk yang melingkari pohon.

Pohon yang di tengahnya,
lubang yang tak pernah habis terbakar itu,
tiba-tiba menyala dan menjatuhkan mereka
ke kedalaman panas dan bergetah.

Sebutir apel pun pecah.
Sepuluh kupu di pucuk tangan adam terbang,
seperti luput pertama yang berteriak dan meminta:
Bapa! Bapa!

:sejak itu, manusia punya kuku
untuk mencakar dan berdoa.

x
Pagi jadi bangka.
Waktu seperti lelaki tua
yang diam tak bersuara.

Dan, seperti Adam yang kembali terjaga,
aku hanya duka yang menatapmu,

menatap dedaun yang tumbuh dan gugur
di wajahmu, seperti jari-jari gaib, melambai
hari-hari yang pucat pergi, tanpa berahi...

(2008)




Bunga Batu

Duh, bunga batu yang tumbuh di badanku,
aku ingin mencucupmu sekeras batu:
batu yang melahir dan mengutukku.
Lalu, kita sama pergi,
seperti mimpimu,
seperti mimpi batu yang tak mati-mati
dan berkedipan
sepanjang pantai.
Aku tahu,
(seperti yang juga kau tahu),
pantai hanya pantai.
Pantai bukan ibu yang membuat kau dan aku
lebih batu.
Dan aku juga tak mencintaimu seperti cinta batu.
Ketahuilah,
cintaku bukan gelang atau cincin,
cintaku hanya pasang saat aku bimbang
dan tuhan menghilang.
Jangan katakan cintaku bulan, sebab
cintaku hanya bunga api yang menyala pergi.
Jamur-jamur di tubuhku meninggi,
lebih tinggi dari mulutmu,
mulut batu
juga mulut nujum
yang tak pandai
menyebut mati.
Lalu,
aku pun mencucupmu
seperti menciumi selingkar batu
dalam kitaran pantai,
seperti mengitari hari-hari
yang pulang-
pergi
dengan ciuman batu
yang membunuh sang ibu
dan melubangi perahuku…


(2008)



A। Muttaqin, dilahirkan di Gresik, Jawa Timur, 11 Maret 1983. Lulusan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Surabaya. Giat di Komunitas Rabo Sore. Puisinya merambah berbagai media, lokal pun nasional, seperti: majalah sastra Horison, Kompas, Koran Tempo, Surya, Suara Merdeka, Suara Indonesia, dan Surabaya Post॥ Selain itu, terhimpun juga dalam beberapa antologi bersama, yakni: Album Tanah Logam 2006, Pelayaran Bunga (Festival Cak Durasim 2007), Rumah Pasir (Festival Seni Surabaya 2008), dan 100 Puisi Indonesia Terbaik (Anugerah Sastra Pena Kencana) 2008. Kini bekerja sebagai editor.


by : Arie MP Tamba

sajak-sajak Esha Tegar Putra

sajak-sajak Esha Tegar पुत्र

Koran Tempo, 15 Maret 2009

MENGUKUR JARAK

Esha Tegar Putra

akhirnya aku tahu, antara singgalang dan buahbatu
ada yang terentang serupa benang, yakni matamu; mata perdu

meski sesekali aku tersesat di jalan panjang dan tubuh jalang
bayangmu tumbang di antara serak bunyi puput batang padi

kiranya siapa yang lebih mengerti selain sunyi yang kian mati
matamu menyiratkan lubuk dalam, bayangan di dasarnya terkurung

terbenam juga angan, pantai panjang dikulum pasir bergaram
matamu menyiratkan sesuatu yang padam, sesuatu yang geram

antara singgalang dan buahbatu adalah rindu, begitulah seruku
teramat lapang ini langit, teramat sulit buat digigit

aku kian bergairah; di sini lembu, kuda, tempua, kecebong
segala binatang ikut berseru dari hunianku, ikut berseru sepi

jarak tak merupa benang pintalan biasa (bukan pintalan si tua yang
dengan gemetar menenun kenangan lama di helaian kain satin)

bilamana rindu ini padu menjadi bau gaharu, siapa yang bakal
sanggup menenun makna cinta yang berubah jadi perca?

isyarat mata perdumu, sekumparan kabut lembut penggenap kalut
tapi siapa yang sanggup menelungkupkan tanjungku ke arah lautmu?

kali saja pasir susut, singgalang merupa gundukan tanah biasa
tak bersuara tak berseru, dan buahbatu menghela itu rindu

di ini tahun pucuk cinta menumbuh baru, sesuatu yang padu
digenapkan tubuhmu, dengan bau lokan rebus dan amis susu lembu

akhirnya sajak jadi himpunan bahasa yang tak perlu diberi tahu
dan aku akan berucap mengenai jalang malam menjelma tubuhmu

kiranya kau tak mengerti, sajak tumbuh di dagumu, punggungmu
dadamu, di segala yang ada padamu menumbuhkan gairah sajak

Kandangpadati, 2008

SEPINGGAN SAJAK SEPI

tentunya kita tak bakal saling melupa, sekarang aku sepinggan
sajak sepi, sedangkan kau sebentuk kata hati

tentunya kau tak akan pernah mengira bahwasanya aku akan
mempunyai sepasang mata berbahaya, mata yang bisa memandang
tembus lewat sesela angin (maka dari jauh, dari jarak yang tak bisa
kau tebak, pastinya aku akan menatapmu dengan penuh malu)

aku juga seorang penujum yang tahu di tempat mana kau
sembunyikan rasa sakit, ke sudut mana kau benamkan kenangan geli
yang selalu ingin kau nikmati sendiri

pastinya aku tak akan banyak berucap dan bergumam lagi
tapi piuhan mantra dan jimat penghela akan kudedahkan
(bagi siapa saja yang menyembunyikan kenangan
ke pucuk paling rahasia)

aku juga akan mengobati kau, jika dalam sakit
aku akan menyajikan sepunggung tulang
agar kau kuat dalam mengingat dan sigap berucap

tetap saja aku akan kau maknai sepinggan sajak sepi
sebab kau sebentuk kata hati
dan kita pastinya akan cepat bertemu jika sakit melibatkan diri

Jalantunggang, 2008/09


Esha Tegar Putra sedang belajar di Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Andalas, Padang.

Sajak-Sajak Budhi Setyawan

Puisi Puisi Budhi Setyawan
Jurnal Nasional Jakarta | Minggu, 08 Mar 2009



Ada Yang Tertinggal Oleh Larimu
: sumantri

tak kau dengarkah roman rona masa silam
dengan teriak parau memanggilmu:
”pulanglah sebentar, aku mau cerita. tapi riuh kemilau
gerak zaman menindih sepimu bertubi tubi.”

tak pernahkah terlintas di kanvas jalanmu
waktu lalu yang dulu pernah dekatmu
kautinggalkan sendirian di sebuah halaman
meradang merana ditimpa kepanasan kehujanan

dirinya kian asing
memanggil dan terus memanggil:
”temui aku sebentar, sebentar saja, sungguh aku mau cerita.”

memang dirimu telah lesat jauh
dari langkah kecil yang merunut setapak
berganti jalanan lebar berpacu bising

jendela kamar tak lagi terbuka setengah
seperti dulu menangkap rembulan keperakan
kini rapat katup takut lembab malam

sumantri tak lagi lugu bocah dusun
telah menjelma punggawa kerajaan
yang bermain main di pendar dunia awang awang

menggebu menderu genggam putaran dunia
menegak menjelajah panggilan satria
ada selangkah yang belum tergapai nuju ksatria

sukasrana tak boleh terlihat
dan kemunculannya terhapus hunjam runcing
panah jumawa terpisah damai cinta

sukasrana
masa silam

menemanimu dalam membuka pintu
oleh ketukan terakhir pada nafasmu

Jakarta, 2008



Dedaun Yang Akan Terbakar

di ruang ini
mesin mesin menggeletar mencuri sunyi dan menggantikannya dengan riuh gemuruh
meniti rute yang telah disediakan oleh cuaca
sambung menyambung seperti membariskan kampung
yang mengirimkan tampias tanya di ringkih jendela

jalanan dan pipa pipa menarikan gerak aroma tembakau dengan irama musim panen
wajah berselimut kibaran asap tersembur
dari bibir yang galau mengeja samar
hunjaman waktu
tiada letih
tiada jemu
tlah dibuang segala keluh
di lembah yang jauh

meski ada yang menyelinap
seperti bayangan kucing yang lewat
sesak pengap
atau semacam perangkap yang menyimpan jawab
meski begitu lambat keong merayap

Cirebon, 2008


Kejap Lesat

ah waktu mengapa kau bergegas terburu
menyerobot kuntum puisi berembun
yang lagi kukunyah, belum juga sebait
tidak bisakah sejenak bersama
kita mengurai riwayat rasa
di kedalaman lubuk lubuk lengang
lepaskan segala hitungan dan angka angka
lukis sepenggal sejarah
tentang makna yang kian terbenam
di alunan gersang peradaban

ah waktu mengapa kau bergegas terburu
seperti dikejar kejar seribu hantu
yang menjelma sosok tuhan
sedang gores gores luka masih basah
mengucurkan ratap di anyaman malam
bentang layar yang memendam letih

ah waktu mengapa kau bergegas terburu
masih menghampar duri tanya meruncing
di lantai dinding dan langit kamar percakapan
menunggu rapat jawaban yang suka sembunyi
di sebalik dedaun redup perjalanan

ah waktu
kau kaku!

Jakarta, 2008


Malam Tanpa Sapa

senja membimbing patung patung itu
kembali ke alamnya sendiri
tanpa merdu lagu dan simponi syahdu

setelah berkelana jauh diajak terbang angin
bersua wajah wajah berdebu
kian didekati kian menjauh
kian diamati kian asing

terbirit menuju samar
mengais sisa purnama
yang dulu bersarang di pucuk kelapa

waktu gagap menatap warna
tak ada beda di tiap ruas
lepas genggam jejak cerita

keliaran kelam menyimpan bayang
sapa kawan lama
menyergap mendadak asing

gamang menyeruak menyerang
menerjang dengan senjata garang
kelam menempel rapat di serpih ruang

meraba raba relief langit
mencari tali cakrawala
yang tergerai di bilah doa

segala ucap terendap di letihnya
semua teriak terkurung di kamarnya
tak ada celah seberangkan kata

malam begitu batu

Bekasi, 2008


Pahatkan Waktu Pada Pencarian

kepakkan segenap tarianmu
kecup segala pucuk gelombang
di antara bayang perdu wajah merindang
desau angin berebutan
pada celah kisah yang masih saja merayapi
ceruk desa panjang kota
yang menyimpan kumparan kumparan cahaya

ragu yang bertingkat tingkat
muram yang berpangkat pangkat
desingan permintaan dan dinding kesanggupan
tawar menawar dalam degup gemetar lirih nyanyian

malam adalah selimut tebal yang penuh rayuan, juga
tirai yang terpasang di gerbang perpindahan usia
siapa siapa yang cerdik memainkan kitab rahasia

suara musim meringkas segala sadarku
sejarah perburuan usahlah usai

Bekasi, 2008



Di Sini Kucari Atlas Kenangan

mendung membuat langit miring dan limbung
aku ikut terhuyung mengingat ada yang tak tertampung
dari sebuah gaung igauan yang memanggil kursi taman
juga pepohonan bercabang rendah yang begitu mengerti
sediakan tubuhnya buat teduhkan kata kata yang nyeri

hujan yang tersimpan di pojok pojok kota
kadang begitu beringas memprotes cuaca dan suasana
memainkan lagu yang sarat improvisasi nada
engkau dan aku tertegun di semenanjung jeda
pintu pintu membentur di hidung dan kening kita

ada kalanya mesti diletakkan
keranjang penuh muatan di punggung zaman

kupanggil puisi puisimu yang kelebat bercuap di depan kaca
terus saja bersuara tanpa menolehku
berjingkat akan kutangkapi untai elok kata itu
namun ia begitu lihai menghindar
lalu bersekutu dengan tarianmu
bersama mulut angin menekuni tengkukku
mengirimkan gigil yang meluruhkan hijab mimpi
rontaku mengalir di bawah tawanya
yang memecahkan bentang dinding kamar, tawar

jarum jam merayu gedung gedung tinggi berbaring
melemaskan otot otot setelah bekerja seharian
kepenatan yang mengisi pembuluh peradaban
juga endapkan debu debu yang tadi beterbangan
tiang tiang lampu jalan saling pagut berpelukan
mengisi ruang ruang kemuraman
yang saling berkelindan menafsir beku percakapan
suara gamelan yang semakin lirih dan rintih
belum sempat kita perbincangkan dan terjemahkan

ada kalanya nyeri ditahan
simpan di balik jeruji kesah dan teriakan

ketika pucuk malam mulai melelapkan gang dan jalanan
masih saja kausimpan misteri keindahan tak tergantikan

Semarang, 2008


Di Sarang Urban

di sarang urban
kata kata tiarap
sembunyi takut ada razia
keluar bila ada teman
aroma senja
kelam malam
temaram bulan
girang bintang
meliuk dalam jinaknya

di sarang urban
percakapan kian diam
tak mudah untuk mendapat jeda
nyaman masa disekap gaduh
mesin bernyanyi
beton menari
sepi terusik
asing terpetik
nurani terisak menyesak

di sarang urban
waktu melesat kilat
tak sempat mengangkut jerit
panggilan yang datang terlambat
rintih ratap
kelam musim
pekat mimpi
tatap duri
guratan jawab menguap

Jakarta, 2008


Kerajinan Jiwa

karena hujan memanggilmu pulang
ada atap yang bocor serambut
meneteskan elegi di sebuah kamar di rumah kenangan
diiring badai kata kata menyodorkan kecamuk
menghunus hiruk pikuk
terburu segera menemu peluk
puisi yang lama tersimpan di lambaian pantai
memerah jingga diperam senja
ada yang mesti diurai lagi
lalu dirajut kembali
juga diberi sulaman warna yang lebih berani
karena percakapan dengan hening kedalaman
memberikan titik runcing cahaya
dan sayapnya mengepakkan damai
ke dalam setiap rindu yang tercipta

Jakarta, 2008




by : Arie MP Tamba

Sajak-sajak Bernando J. Sujibto

Puisi Puisi Bernando J. Sujibto
Koran Tempo Jakarta | Minggu, 15 Mar 2009




Katedral Batu 1

sebuah kitab di tanganku
menuliskan salju baris putih
kepingannya akan pecah
di kotamu
sebagai hujan
yang mengetuk

dan pintu-pintu akan terbuka....

(2008-2009)


Katedral Batu 2

1/
tersepuhlah tuah
bagi masa silamnya
yang hilang
yang mengingatnya
luka-luka akan gemeretap
tiap dinding tergurat
sepanjang ruas baca
musim-musim payau
luruh ke geraian

ingatakan!
yang retak tak kan terberai
demi selembar daun
yang tumbuh dari akarnya
akar-akar yang menyulamnya
menjadi tembaga senja
di lembaran doa

ia akan menyapamu
selekas kedipan petir
yang telah merubuhkannya

2/
setiap mengingatnya
aku akan meniupkan pasir
dari sesap keminyan ke wajahmu
hingga bersekutulah waktu
menjadi sumbu
getar yang biru

biarlah tumbuh
untuk rubuh
bangunkan mereka
di atas tatal yang beda


(2008)


Nokturna Hujan
Atawa Batu Ajaib?
-(sms dari Cak Rushdie Anwar)-

”dalam hujan
kurasakan tuhan begitu dingin
dan menyurukku menggigil”

”dalam hujan
tak ada yang kepanasan
saat tubuh mereka terbakar”

”dalam hujan
lahir batu
menjadi riuh yang aneh
bagi kota dan orang-orangnya”

”ada yang menusuk ke dalam ingatanku. Menyaksikan mereka kembali kepada sunyi muasal dan keminyan yang terkubur di sebuah pusara menghantarkan mereka tersilap dalam kepingan senja yang tembaga. Di sana tubuh mereka telah menjadi rel kereta bagi perburuan yang hilang, bagi pencarian yang tenggelam”

”dalam hujan kini aku beku
dalam batu kini mereka menggigil”

(2009)


Jalan Sungai
ke payakumbuh

setiap ujung daun
selalu mengucur air
seperti kesetiaan sungai
kepada setiap jalan di sini
sungai untuk semua, bisikmu
menerbangkan mimpi ke awan
mengembalikan hujan ke tanah
dan
mereka pun lahir
dari jantung tanjung
dari kelokan maninjau
dari tepian sungai-sungai
menjadi kilap batu di langit
menjadi tuah pusaka semesta
dari bukit
langit begitu dekat
merapat ke segenap sudut
jalan-jalan seperti berlepasan
menuju tubuh yang siap dilahirkan
menuliskan seribu peta keberangkatan
matahari dari balik kedipan siap bersambut
merajam sangsai sungai di laut, kisah masalalu ditenggelamkan
aku datang seperti sepasang insan bertemu dalam pelukan tuan
leluhur kata-kata yang telah merajut pelangi dari semua musim
merangkumnya di sini, di jalan sungai yang terus mengucur air


Ihwal Serpihan Musim

hujan

ia mendiamkan ombak di lorong mataku
menuju tujuh lapis kepada satu langit
kelak ia akan menjejak di pipimu
menjadi peta anak-anakku

kemarau

ke tepi bukit, ke sawah bawah sana
petani menaksir buah simalakama

kabut

engkau lebih awal menghapus ingatan
adalah bayang-bayang di balik hujan

jejak

yang dihapus akan acap datang
lantaran angin menyeka beranda


(2008)




Setelah dari Rumah Atas Bukit
Kepada Bang Raudal Tanjung Banua

jika ke pesisir selatan, terbayanglah ombak
menjahit langit dengan tungkai bukit taratak
ada kuda yang berkelebat di balik saga senja
“tabik bagi orang-orang rantau!” kata mereka

dari atas bukit itu, si koto, mengurai kisah
jarak pandang antara laut dan beranda rumah
tergerai pelangi, bersambut warna-warna sisik
ikan di langit, sketsa kapal-kapal perantauan
yang tak pernah bisa ditambatkan

laut, di sini, lebih setia menyimpannya
sebagai rahasia yang tak tersebut namanya

di ujung april sebelum ke payakumbuh
kelahiran itu kutemukan seperti selendang subuh
mengakrabi daun yang uratnya kini menjadi pohon
dan di tengah pagi ia akan pecah menjadi awan
terbanglah ke semua sudut langit, yang begitu dekat
dari atas bukit bekas rumah dan rehat kisah kesah

dan, jalan ke bukit itu setiap hari berubah
sukma tertusuk duri hingga berkali-kali
seperti tak sanggup melayat kembali

setelah dari rumah atas bukit itu
jarak bukit dan laut begitu dekat

jika orang memanggul rotan, ia
pasti baru saja berlayar di laut
jika mereka membakar ikan, ia
pasti baru saja berburu di bukit

(Padang, April 2008)

by : Arie MP Tamba

Sajak-Sajak Tia Setiadi

Puisi Puisi Tia Setiadi
Jurnal Nasional, Jakarta | Minggu, 22 Mar 2009



JEMBATAN BAMBU KE ARAH HATIMU


i
Jembatan bambu ke arah hatimu,
air kali dibawahnya, mengilau.
Ada wajah langit disitu,
juga wajahmu
wajahku
memecah menyatu
memecah menyatu
dalam riak dan arus yang khusuk.


ii
Seruntun lagu
terulur
dari ufuk
kalb.

terulur
dari ufuk
murung.

terulur
dari ufuk
jauh

terulur…




iii
Hanya kelopak-kelopak bunga baobab
yang tahu kenapa tiba-tiba mataku sembab.


iv
Tapi burung-burung rengganis
kerap singgah dan berhinggapan
di dahan-dahan albasiyah
menggusah gundah
bersiul tentang hidup
yang nikmat dan khidmat
nikmat dan khidmat
bagai senyumanmu.


v
Mendadak buah-buah campedak berjatuhan
suaranya berdeburan, berdebaran seperti mimpiku.


vi
Aku ingin menjadi tupai
yang lincah berloncatan
di gerai-gerai rambutmu
yang hitam bergelombang
bersibakan kerna angin.

Lalu istirah
di kebun anggrek yang bergerumbul
dan semerbak dikeningmu
sembari mengeja harapan
yang berbaris geulis di lengkung alismu

atau terbaring saja
di bulu-bulu halus leher kencanamu
yang gemetaran.


vii
Sepasang bukit
yang padat melancip
adalah keindahan lain lagi
mendakinya mesti dengan kesabaran.
Dan kelak, ‘pabila sampai ditikungan itu
akan kupanjati ramping pohon pinang
dari atasnya bakal nampak tamasya:
parit kecil yang ditepi-tepinya
merimbun semak dan rumpun
gelagah dan perdu

Hm, bolehkah aku mandi disitu?


viii
Seseorang memetik kecapi
setelah melepas capingnya
awan-awan datang lalu hilang
cahya lembayung hibar dikejauhan
ilalang bergoyangan:

Ah! Ah! Ah!

Berapakah jarak
antara bimbang
dan harapan?
antara mimpi
dan kehadiran?

antara kau antara ku?



ix
Nanti, ke dangau ini
bakal ada yang datang
menjemputku.
Barangkali gairah
atau
mungkin maut.
Tapi
di dinding kayu itu
telah kupahat nama
dan lekuk bibirmu
biar kekal
seperti kesepian.


x
Sebab sudah saatnya
aku takjub
pada setandan pisang
yang kuning mengkilap
seperti emas.

Sudah saatnya
aku takjub
pada unggas-unggas
yang girang berenang
di luas telaga.


Sudah saatnya
aku takjub
pada tangan
yang melambai-lambai
sederhana.

Sudah saatnya
aku takluk.


xi
Jembatan bambu ke arah hatimu
akan kusebrangi walau
akankah sampai kesana
akhirnya?
Aku tak tahu.
Aku tak tahu.



: yogya, 2005-२००९



by : Arie MP Tamba