Rabu, 21 Januari 2009

Sajak-sajak Beni Setia

Kompas, Minggu, 4 Januari 2009 | 02:04 WIB
Sajak-sajak Beni Setia


Dini Hari

bagai bangkai memendam larva
sebelum belatung muncul, bagai
daun-daun luruh dicumbu hujan
sebelum terurai humus ladang bambu
: setapak dalam kabut. merentang
jadi tiada di dekat kuburan. angin
menyapu cuat ranting meluruhkan
embun. satu-dua gemeritik dari pipi
“yang dari laut kembali ke lautan,”
kata burung hantu. cecurut terbirit
masuk liang tepi tebing bawah waru
jalan burai. rentang tangan mengorak jejak
1/12.2007


Kamis Petang

angin berkesiur lagi. bagai jutaan ibu
yang serentak bangkit dari kuburan
tsunami di aceh dan mencari anak mereka
sementara para suami jadi batu karang
kadang lumut di dermaga dan lumpur
yang terpercik ombak. mencari anak mereka
dan anak mereka? seperti setiap anak-anak
: naik ke langit. berjumpalitan di awan
dan tak hentinya mengejar-ngejar matahari. riang
—ditumbuhi sayap karena tak kenal duka dunia
23/5.2008


Ziarah

sekali waktu setapak dihapus rumput
dan disembunyikan semak-perdu. kau
terlunta-lunta. tak tahu harus bagaimana
burung-burung bercericit tajam, angin
meriapkan daun jambu, mengagetkan
kepompong yang mau jadi kupu-kupu
lalu suara ricik air dari kali itu
mengisyaratkan ada yang pergi
dan tak pernah kembali. seperti cintaku
23/5.2008

Beni Setia lahir di Soreang, Jawa Barat, 1 Januari 1954. Buku sajaknya antara lain adalah Harendong (1996). Kini ia tinggal di Caruban, Jawa Timur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar