Minggu, 11 Januari 2009

Sajak-sajak Sapardi Djoko Damono

Sajak-sajak Sapardi Djoko Damono
Kompas, Minggu, 11 Januari 2009 | 01:21 WIB


Sonet 5

Malam tak menegurmu, bergeser agak ke samping

ketika kau menuangkan air mendidih ke poci;

ada yang sudah entah sejak kapan tergantung di dinding

bergegas meluncur di pinggang gelas-waktu ini.

Dingin menggeser malam sedikit ke sudut ruangan;

kautahan getar tanganmu ketika menaruh tutup

poci itu, dan luput; ada yang ingin kaukibaskan.

Kenapa mesti kaukatakan aku tampak begitu gugup?

Udara bergoyang, pelahan saja, mengurai malam

yang melingkar, mengusir gerat-gerit dingin

yang tak hendak beku, berloncatan di lekuk-lekuk angka jam.

Malam tidak menegurku. Hanya bergeser. Sedikit angin.

Ada yang diam-diam ingin kauusap dari lenganmu

ketika terasa basah oleh tetes tik-tok itu.



Sonet 6

Sampai hari tidak berapi? Ya, sampai angin pagi

mengkristal lalu berhamburan dari sebatang pohon ranggas.

Sampai suara tak terdengar berdebum lagi?

Ya, tak begitu perlu lagi memejamkan mata, bergegas

memohon diselamatkan dari haru biru

yang meragi dalam sumsummu; tak pantas lagi

menggeser-geser sedikit demi sedikit bangkai waktu

agar tak menjadi bagian dari aroma waktu kini.

Sampai yang pernah bergerit di kasur

tak lagi menempel di langit-langit kepalaku?

Sampai kedua bola matamu kabur,

sayapmu lepas, dan kau melesat ke Ruh itu.

Ruh? Ya! Sampai kau sepenuhnya telanjang

dan tahu: api tubuhmu tinggal bayang-bayang.


Sonet 7

Ada jarak yang harus ditempuh sampai suasana

siap menerima kita. Dan kita arif menerimanya, bukan?

Ada yang harus tak habis-habisnya kita hela

dan hembuskan sampai pisau yang terpejam di tangan

membelah apel yang di atas meja. Seiris telentang, seiris

tengkurap di sebelahnya? Begitu ramal seorang empu

setelah menyelesaikan tugas menempa sebilah keris.

Celoteh juru nujum yang di bukit nun di sana itu?

Ada jarak yang harus diremas sampai kerut

dalam pembuluh darah kita. Sampai yang biru

kembali hijau berkat kuning itu, sampai segala terhalau:

yang ini, yang itu, yang di sana, yang di situ,

yang layang-layang, yang batu? Ada jarak yang harus ditebas

kalau kita mau menerima pertemuan ini dengan ikhlas.



Sonet 8

Di sudut itu selalu ada yang seperti menunggu

kita. Mengapa ada yang selalu terasa hadir di sana?

Di situ konon kita dulu dilahirkan, kau tahu,

agar bisa melihat betapa luas batas antara nyata

dan maya. Dua dinding bertemu di sudut itu,

seperti yang sudah dijanjikan sejak purba

ketika sehabis peristiwa itu leluhur kita diburu-buru

dan sesat di rumah ini. Kau masih juga percaya

rupanya, tanpa menyiasati dinding-dinding itu?

Rumah baru terasa rumah kalau ada penyekat

antara sini dan Sana, membentuk sudut tempat kita bertemu

dan memandang lepas ruang luas, tanpa akhirat.

Mengapa terasa harus ada yang menunggu?

Agar tak mungkin ada yang bisa membebaskanmu.



Sonet 9

Kaubalik-balik buku itu selembar demi selembar

sore ini. Bukankah waktu itu masih pagi,

ketika kau mencatatnya? Aku pungut buku yang kaulempar

ke lantai, telungkup, tampak lusuh, sendiri.

Kenapa mesti ada sore hari? Pejamkan mata, bayangkan

beranda yang pernah membiarkan kita mengitari

pekarangan yang begitu luas, yang kemudian ternyata bukan

bagian dari tempat yang konon disediakan untuk kita tinggali.

Matahari masih hangat ketika aku mencatatnya

di buku yang sore ini telah menggodamu untuk mencari

gambar sebuah taman yang memancarkan aroma

secangkir teh hangat di pagi hari. Ya, bukankah masih pagi

ketika kau menggambarnya? Ya, mungkin karena waktu itu

masih pagi. Lekas, berikan buku itu kembali, padaku!



Sonet 10

Ada selembar kertas yang belum bertulisan.

Apakah kauharapkan aku ke mari seperti semula,

belum penuh dengan coretan?

Ada yang ingin menulis aksara demi aksara

dan tahu tak akan mencapai kalimat meski ada tanda seru

di ujungnya. Tidak semua memerlukan tulisan,

(Apakah aku kaubayangkan selembar kertas itu?)

meski sudah terlanjur tercatat sebelum sempat diucapkan.

Air menyeret catatan berkelok-kelok di sepanjang sungai

bila penghujan. Tetapi sama sekali tak terbaca

bahkan ketika sudah begitu rekah-rekah perangai

kemarau. Tinggal garis-garis yang carut-marut di dasarnya.

Kau mengharapkanku kembali seperti itu? Risaukah kita

ketika menyadari bahwa tulisan tak perlu, ternyata?



Sonet 11

Terima kasih, kartu pos bergambar yang kaukirim dari Yogya

sudah sampai kemarin. Tapi aku tak pernah mengirim apa pun,

kau tahu itu. Aku sedang kena macet, Jakarta seperti dulu juga

ketika suatu sore buru-buru kau kuantar ke stasiun.

Tapi aku tak sempat menulis apa pun akhir-akhir ini.

Aku suka membayangkan kau kubonceng sepeda sepanjang Lempuyangan

berhenti di warung bakso di seberang kampus yang sudah sepi.

Kau masih seperti dulu rupanya, menyayangiku? Bayangkan

kalau nanti kita ke sana lagi! Di kartu pos itu ada gambar jalan

berkelok, bermuara di sebuah taman tua tempat kita suka nyasar

melukiskan hutan, sawah, kebun buah, dan taman

yang ingin kita lewati: gelas yang tak pernah penuh. Hahaha, dasar!

Aku suka membayangkan kartu pos itu memuat gambarmu,

residu dari berapa juta helaan dan hembusan napasku dulu.



Sonet 12

Perjalanan kita selama ini ternyata tanpa tanda baca,

tak ada huruf kapital di awalnya. Yang tak kita ingat

aksara apa. Kita tak pernah yakin apakah titik mesti ada;

tanpa tanda petik, huruf demi huruf berderet rapat –

dan setiap kali terlepas, kita pun segera merasa gerah lagi

dihimpitnya. Tanpa pernah bisa membaca ulang dengan cermat

harus terus kita susun kalimat demi kalimat ini –

tanpa perlu merisaukan apakah semua nanti mampat

pada sebuah tanda tanya. Tapi, bukankah kita sudah mencari

jawaban, sudah tahu apa yang harus kita contreng

jika tersedia pilihan? Dan kemudian memulai lagi

merakit alinea demi alinea, menyusun sebuah dongeng?

Tapi bukankah tak ada huruf kapital ketika kita bicara?

Bukankah kisah cinta memang tak memerlukan tanda baca?



Sonet 13

Titik-titik hujan belum juga lepas dari tubir daun itu;

ditunggunya kita lewat. Kupandang ke atas:

sebutir jatuh di bulu matamu, yang lain meluncur di pelipismu.

Pohon itu kembali menatapmu, hanya selintas.

Diberkahinya tanganku yang ingin sekali mengusap basah

yang mendingin di wajahmu. Kau seperti ingin melakukan

sesuatu. Aku pun mendadak menghentikan langkah

sejenak – jangan tergesa, agar bisa kaubaca niat titik hujan.

Butir-butir hujan menderas dari sudut-sudut daun itu

tepat ketika kita lewat. Kupandang ke atas.

Pohon itu tak lagi menatapmu. Ada yang membasahi kerudungmu,

meluncur ke dua belah pundakmu. Dibiarkannya kita melintas.

Kita pun bergegas agar segera sampai ke ujung jalan

tanpa bicara. Tak lagi berniat menafsirkan titik hujan?

Sapardi Djoko Damono menulis puisi, cerita, dan esai. Buku puisinya yang akan segera terbit adalah Kolam di Pekarangan dan Syair Inul. ”Sonet 1” hingga ”Sonet 4” gubahannya pernah dimuat di lembaran ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar