Kamis, 26 Maret 2009

Sajak Sajak Diah Hadaning

SUARA PEMBARUAN DAILY Last modified: 30/12/04

Puisi Diah Hadaning



Tono, JAKARTA

Kelanjutan Sebuah Narasi I

Kota-kota mencipta sejarahnya sendiri

lepas dari urutan waktu

manusia tua apung senyum di awang-awang

lukis keindahan tercipta dari bayang-bayang

dan kerakusan jadi balada lepasnya nyawa-nyawa

sementara bumi terus benihkan dosa-dosa

langit siram hujan tuba cipta keangkuhan jiwa

Belah akal jadi bekal sambut dajal

kuras daya jadi bara sambut duraka

bermain dengan nasib antar zaman anyir

berhala tertawa dalam jiwa

dajal bersarang di kepala

terdengar tabuhan gara-gara

perempuan kerudung hitam tangisi tanah merdeka

Cimanggis, September 2004.

Kelanjutan Sebuah Narasi II

Seseorang angkat pedang

Tumbal berjatuhan di seberang jalan kenangan

Sebuah fragmen terenggut dari tabirnya

Rembulan gerhana dan purnama bergantian

Matahari mencari narasi sendiri

Narasi baru telah diambil bocah-bocah masa depan

Dilipat-lipat jadi perahu impian

Diapungkan di sungai air mata

Mereka terus bermain dalam gelar semesta

Meraih-raih mega menghela-hela rasa

Sampai akhirnya matahari padam

Hilang terang hilang bayang

Yang tersisa hanya gema selawatan

Dalam hitam

Cimanggis, September 2004

Membaca Bahasa Transmisi 04

Setumpuk bara senyala unggun

Adalah lambang orang-orang pejalan kurun

Seruas langit sepotong doa

Adalah gurit jiwa orang-orang tanah utara

Tembang eratkan genggam

Orang-orang saling bungakan masa depan

Jepara pulangkan yang pergi

Jepara ramaikan yang sunyi

Sementara orang Sampit datang malam kelelahan

Tak lagi perang selain tembang

Kubawa cinta dan bunga se-Kalimantan

Didekapnya orang-orang unggun rembulan

Ikan laut gelapar dalam bara

Bara percikkan bunga di udara

Orang-orang masih berbincang

Anak Ki Suto Kluthuk merenung panjang

Suara siapa usung berontak jiwa

Di antara deram genderang dan kibas bendera

Jepara nyala dalam bara

Jepara bangun dalam unggun

Serasa andika bersaksi malam ini

Wahai Shima, Kalinyamat dan Kartini

Anak cucu menandak dan menembang

Kusimak orang-orang akar rimang

Jepara, Agustus 2004

Membaca Bahasa Kota

: Orang-orang Blank Blenk

Kebun Raja membiarkan pohon-pohonnya

bersaksi sambil menjaring angin malam

ketika orang-orang baju hitam

memasang lilin menata kendang

dan kata-kata meluncur dari lidah-lidah

dan doa-doa meluncur dari jiwa-jiwa

kota wartawan saksi zaman masih tersimpan

kebenaran sejarah tak terungkap

sang penerus tak juga meluruskan

selagi masih ada bahasa kemungkinan

simpan cemas seseorang nembang bahasa ibu

ingin Blitar buka lembar manuskrip tua

ingin Blitar saksi sembah raga sembah jiwa

ingin Blitar tumpahkan kejujuran air mata

saat makna merdeka punya sisi seribu dua

sementara badai melipat musim

orang-orang utamakan serigala dalam perut

riah-riuh dudukkan serigala di kursi kehormatan

seniman gelar tikar di Kebun raja

Agustus bergulir dalam kata-kata

Dari Gunung, ngarai sampai pentura

bapa, kulihat serigala di mana-mana

Serigala dalam dada

Serigala dalam kepala

Kebun raja disergap malam

Blitar, Agustus 2004


Tidak ada komentar:

Posting Komentar