Kamis, 26 Maret 2009

Sajak-sajak Gus tf

Sajak-sajak Gus tf

Kompas, Minggu, 8 Maret 2009 | 08:23 WIB

Seruling Daging

Sudah. Jangan kaubicara lagi tentang lubang. Semua ruang semua rongga di tubuhmu telah jadi jurang. Semua urat semua serat di dagingmu telah jadi tambang. Kaulihat, di tambang itu mereka turun, terayun-ayun, meluncur jauh ke dasar tak berdasar. Kaudengar, suara serulingkah yang mengalun, meriap, seolah mengapung dan menjalar?

“Tak ada seruling dalam daging,” katamu. Tapi alun suara itu serasa kaukenal, serasa kautahu. Gemerincing, dari suatu lubang di nun jauh masa lalumu. Siapa tahu, di dinding lubang itu, mereka telah lama membuat lubang-lubang nada, belajar meniup menciptakan irama. Irama yang juga serasa nun jauh dulu pernah kaudengar, antara lena dan sadar?

Tapi, suara lain, nun jauh dari kedalaman jurang, dari dasar tak berdasar, naik memanjat tambang, menggemakan “Tak ada” berulang-ulang. Ya, tak ada, tak ada seruling dalam daging. Tak ada, tak ada setiup pun nada pernah mereka dengar. Tetapi ah, kenapa, kenapa kau merasa lubang ini, geronggang ini, tiba tiba berguncang, seolah menggigil seperti gemetar?

Sudah. Jangan kaupikir lagi tentang lubang. Tentang rongga di tubuhmu menjelma jurang. Tentang urat, tentang serat yang menjulur-julai seperti tambang. Karena, nun jauh di dasar tak berdasar, di akar tak berakar, setiap waktu setiap ngilu, setiap pedih setiap pilu, nada-nada itu menggali, menciptakan lubang sendiri: menakik rima, memahat irama—tak peduli apa tetap hanya buluh daging, atau justru menjelma seruling.

Payakumbuh, 2006

Lima Sebutan dalam Lima Bait Perpisahan

Kausebut ia “kekal ingatan”, jarak yang mempertemukan dua tubuh, di sebuah jembatan, di dua simpang yang jauh, ketika dengan yakin kau pilih pulang ke arah selatan.

Ah, kausebut ia “gema tubuh”, debar yang memantul, tertahan, di dua tapal kenangan, di mata yang micara, lenguh cahaya, angin, kelopak atau tampukkah sang penggugur suka. Ah,

kausebut ia “rintih salam”, riang kalimat yang terlontar dari dua mulut, di sebuah jamuan, bibir gelas berdenting, kata-kata gemerincing, berkilauan bagai cucur hujan. Ah,

kausebut ia “jari pucat”, tangan yang melambai, ketukan di dua ronggang, dada berkopongan, gaung memanjang, melejang, di tempat ia bakal lenyap dan tenggelam. Ah,

kausebut ia “sisa lamunan”, ingatan yang naik, berlesatan dari dasar kenangan, dari dua tubuh, di jembatan berlainan, dua-duanya di selatan. Ah, di simpang manakah itu, Tuan?

Jakarta, 2006

Tiga Kata Suci

aku kini tahu, kenapa “menguap” kata sucimu. Bila kaubiar getir mendidih, meletup hilang si gugu sedih.

aku kini tahu, kenapa “mengendap” kata sucimu. Bila kaubakar sekam dendam, tinggal lepah jerami diam.

aku kini tahu, kenapa “meresap” kata sucimu. Bila kautapis tepuk tepis, menyesak naik si ceguk tangis.

Jakarta, 2006

Burung Kuntum

Aku masuk ke dalam kuntummu. Membayangkan kelopak itu seperti kepak. Di ujung daun, matahari melengkung, angin seperti suwung. Cahaya menjelma susu, meleleh, terus meleleh dalam pikiranku.

Aku masuk ke dalam pikiranmu. Mencicip susu (ah tidak, ini madu) yang menjelma burung di bibirku. Kutangkap kepak itu, sayap kemilat seperti sirip yang mengingatkanku kembali pada cahaya. Malam urung, malam meraung dalam igauku.

Aku masuk ke dalam igaumu. Susu cahaya, burung itu terbang pulang ke lumbung cemara. Cemara yang dalam igaumu menolak jadi lumbung (hanya mau jadi kayu) kembali meronta, berontak, meninggalkan derak, menjelma gaung dalam sayapku.

Aku masuk ke dalam sayapmu. Sayap yang dulu kemilat dalam igauku yang hanya angan dalam pikiranmu, menerbangkanku melambung jauh ke kota itu. Kota yang bagai melendung, bengkak, ruam menggembung, gelembung beton dalam batuku.

Aku masuk ke dalam batumu. Gagal membayangkan kuntum, sayap, kepak, bahkan walau bayanganku undur ke kelopak. Angin juga surut, undur ke gua-gua. Matahari (kuingatkan engkau, susu cahaya) garang, mengerang pulang ke dalam gelapku.

Aku masuk ke dalam gelapmu. Meraba-raba dengan pikiran kosong, hampa, dan sia-sia. Dan sungguh, wahai, sungguh tak bakal engkau percaya. Dalam kosong, dalam hampa, dalam sia-sia, kuntum itu rekah, menjelma sayap, kepak,

dan seekor burung berkoak, terbang, cegak lesat menuju cahaya.

Banjarmasin-Payakumbuh, 2007

Tungku

“Aku tungku,” ia bilang. Hitam terang, padas arang. Letup decis gemeretak tulang. “Aku tungku,” ia bilang. Hangus lengking dada terpanggang. Dari periuknya dari kualinya menggelegak ubun, benak mengerang. “Aku tungku,” ia bilang. Setiap hari, setiap siang saat anak-anak pulang. “Aku tungku,” ia bilang. Setiap hari, setiap malam saat urat daging meregang. “Aku tungku,” ia bilang. “Aku tungku,” ia bilang. Ah, kalian berdua tungku, Sayang... baik buruk, peluk amuk,

terus—tak henti kalian merendang.

Payakumbuh, 2006

Sepuluh Dialog Tubuh

1

“Tak ada yang salah pada lupa.”
“Daging mengucap pada dirinya.”

2

“Kaugali-gali, lubang dalam lambung.”
“Tak henti-henti, riang sembur belatung.”

3

“Setiap serat minta dituliskan.”
“Mahadaging pucat kehilangan.”

4

“Hanya lambai dan kenang.”
“Tiang usia mengupas tulang.”

5

“Musuh-musuh dalam dirimu.”
“Merebut dengkur dari tidurku”

6

“Kaupahat dendam rindu pada.”
“Darah mendidih auman luka.”

7

“Rumah siput di pangkal pahamu.”
“Daging mengerang dibakar nafsu.”

8

“Dalam matamu, hujan tak pernah teduh.”
“Di pelupukku, matahari sesal mengaduh.”

9

“Tangis tertahan melunas bayang.”
“Rintih meluap di jalan pulang.”

10

“Hausku sudah dalam tubuhmu.”
“Ruang meleleh di tangan waktu.”

Payakumbuh, 2006

* Gus tf lahir 13 Agustus 1965 di Payakumbuh, Sumatera Barat. Setelah Sangkar Daging (1997) dan Daging Akar (2005), ia kini tengah menyiapkan buku puisinya yang ketiga, Akar Berpilin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar